
" Kau tahu aku senang kita berada di sini melupakan sedikit masalah yang saat ini sedang kita hadapi, meskipun hati kecil ku tak bisa berbohong bahwa aku memikirkan Putra kita yang saat ini sedang memimpin kelompok dan kasus pertamanya."
" Kita butuh waktu untuk berlibur Sayang! Kau dan aku terlalu banyak menunda liburan kita dengan banyak alasan. Saat ini Bryan cukup dewasa untuk memimpin mereka, aku percaya dia bisa melakukan dengan baik. Aku percaya kepada kemampuan Putra ku."
Kedua orang itu adalah Valeria dan Zac sebuah pasangan suami istri yang saat ini sedang berlibur, mereka ingin memanjakan diri tanpa memikirkan hal yang memusingkan mereka berdua. Meskipun sebenarnya hati kecil mereka selalu was-was kepada Putra nya yang saat ini sedang memimpin sebuah kelompoknya yang diserahkan oleh Zac.
" Sayang lihatlah anak mudah itu?" Mata Zac kini mengikuti arah mata istrinya juga menatap ke arah depan. " Aku jadi ingat waktu kita masih mudah."
Zac malah tersenyum mendengar perkataan istrinya. " Apa kita sudah tua Sayang?"
Val menoleh ke samping menatap suaminya yang juga menatap kearahnya dengan pandangan yang dari dulu tak pernah berubah. Pandangan penuh cinta dan pandangan yang selalu memuja.
" Kau pernah dengar orang berkata bahwa orang yang semakin tua maka akan semakin menggoda! Dan kau semakin tua semakin tampan…" Pujinya dengan mengulum senyum.
" Kau sedang merayuku rupanya!"
" Aku tidak! Aku pernah merayu mu tapi kau sendiri yang menganggap aku merayu mu."
Kini mereka berdua sedang berjalan jalan di pinggir pantai menikmati waktu berdua mengingat kejadian di mana mereka dulu masih menjadi kekasih.
" Seingat ku waktu sebelum kita menikah, kita tak pernah bisa berjalan bebas seperti ini Hubby."
" Kau benar banyak masalah yang membuat kita harus berlari bersembunyi terkadang harus melawan waktu…" Zac membenarkannya.
" Kita memiliki hubungan yang unik…" Val malah tertawa geli mendengar apa yang diucapkan oleh dirinya sendiri.
" Sayang apa kau tak ingin kita memiliki seorang anak lagi, satu lagi saja mungkin cukup agar kita tak kesepian."
" Akan sangat merepotkan jika kita memiliki seorang bayi lagi di umur kita yang sekarang Hubby! Bukannya aku tak ingin memiliki seorang anak lagi hanya saja kita akan sangat repot jika ada bayi di tengah-tengah kita."
" Tapi aku ingin seorang bayi kecil agar rumah kita menjadi ramai lagi. Anak-anak kita sudah besar dan mereka sudah tak ada di rumah mereka sekarang pergi dan hanya kita berdua. Aku senang kita hanya berdua tapi jika kita memiliki seorang bayi lagi pasti rumah kita akan terlihat ramai lagi."
Apa yang dikatakan Zac benar anak anak mereka bahkan tak ada yang pulang mereka menempati unit mereka masing masing. Dan hanya ada Zac dan Val yang menempati rumah besar tersebut. Mungkin jika ada tangisan bayi akan membuat ramai rumah besar tersebut.
" Kau nanti akan kewalahan Hubby!" Katanya dengan menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya.
" Tidak akan Sayang!" Dia menyakinkan istrinya bahwa dia tak akan keropatan.
" Apa kau lupa bahwa kau dulu pernah merasa tersaingi ketika aku merawat Putri kita bahkan kau merasa aku berubah tak memperhatikanmu, sekarang kau malah ingin sebuah anak lagi. Apa kau sanggup?" Val mencoba untuk mengingatkan kejadian beberapa tahun lalu dimana suaminya merasa sangat tersaingi ketika dirinya malah sibuk dengan bayi cantik mungil itu.
Zac tersenyum geli ketika mengingat kejadian dimana malam itu dia uring-uringan karena menganggap diabaikan oleh istrinya. Dia merasa tersisih ketika bayi-bayi kecil itu membuat sang istri lebih perhatian kepada mereka.
Val yang tadi menyandarkan kepalanya di bahu sang suami kini langsung menatap suami dengan memicingkan matanya dengan curiga.
" Apa?"
" Kau bukan ingin memiliki anak kecil Hubby! Bilang saja jika kau meminta sesuatu dari ku bukan?" Tebaknya dengan menatap suaminya.
Zac tertawa keras di ruangan itu, mereka saat ini sudah berada di dalam kamar pinggir pantai. Mereka berlibur dan menghabiskan waktu bersama di pinggir pantai yang indah. Kamar itu langsung menghadap ke arah pantai yang biru.
" Kenapa kau mudah sekali menebak yang kau mau heh?" Jawabnya dengan sisa tawa.
" Kenapa kau harus muter-muter tak jelas Hubby, katakan saja jika kau ingin melakukannya di siang hari…" Val menebak tepat sasaran saat ini.
" Kau terlalu pintar aku kelabui Sayang…" Dia malah kembali tertawa. " Tapi aku serius ingin punya anak kecil lagi agar rumah kita ramai seperti dulu, aku ingin mendengar tangisan bayi tawa anak anak kecil kita. Setiap pulang kerja mereka berlari memeluk ku dan menyambut ku dengan tawa mereka yang menggemaskan."
" Kau yakin dengan apa yang kau mau saat ini Hubby? Aku tak masalah jika kau menginginkan seorang anak lagi hanya saja di umur kita yang saat ini akan lebih repot lagi jika kita memiliki seorang bayi kecil."
" Kita bisa membayar baby sitter untuk nya Sayang."
" Kau tahu bukan aku tak ingin ada jasa baby sitter untuk anak kita."
" Baiklah apapun apa yang diberikan Tuhan aku percaya Tuhan lebih tahu bahwa kita sanggup atau tidak membesarkan seorang anak lagi. Tapi yang jelas aku bersungguh-sungguh menginginkan bayi kecil di tengah-tengah kita lagi."
" Baiklah jika kau ingin anak lagi maka lakukan sekarang, aku akan pasrah dengan apa yang akan kau lakukan sekarang…" Godanya dengan langsung duduk di pangkuan suaminya.
" Benarkah?"
" Hemm.. tapi jika kita tak di percaya lagi dengan Tuhan jangan kecewa karena yang terpenting kita sudah berusaha."
" Aku tahu Sayang setidaknya kita sudah berusaha untuk membuatnya lagi."
" Baiklah…" Mata mereka terpancarkan harapan yang mengharapkan ada sebuah keajaiban bahwa akan ada bayi yang berada di dalam perut istrinya.
Meskipun mereka tak yakin bahwa mereka akan masih akan diberi seorang bayi lagi tapi setidaknya mereka sudah berusaha untuk membuat kehadiran anak kecil yang akan membuat ramai rumah mereka.
Entah siapa yang memulai kini mereka sudah saling berciuma* saling memejamkan mata saling menikmati penyatuan lida* mereka yang seakan tak ada bosan nya bagi mereka.
Mereka saling bernafas dalam ciuman yang begitu mengebu-gebu, mereka saling menyentuh dengan gerakan yang saling menggoda satu sama lain.
" Argh.. Hubby!" Erangnya ketika lida* itu mulai menelusuri lehe* jenjang nya. Dia meremas rambut suaminya yang tetap panjang dari dulu.
Lida* itu semakin turun perlahan dengan tangan Zac yang mulai masuk ke dalam kaos yang digunakan oleh istrinya saat ini. Gaira* mereka kini memuncak satu sama lain.
" Hubby…" Desaha* nya benar benar membuat Zac melupakan semua beban yang ada di pundak dan pikirannya saat ini. Mereka ingin sejenak melupakan apa yang terjadi kepada mereka.