Ex Husband Is Broken

Ex Husband Is Broken
Hancur Berantakan 5



Pov Angel


" Kau membela orang yang hampir menghilangkan nyawamu?" Nathan menatapku dengan dia yang tak percaya dengan apa yang aku katakan sekarang.


" Dokter maafkan saya! Saya tak bermaksud untuk membelanya hanya saja, saya sudah baik-baik saja tak akan terjadi apapun. Goresan ini hanya luka kecil dan para Sipir juga sudah menanganinya…" Aku harap apa yang aku katakan tak membuat Dokter tampan ini mencurigai sesuatu.


" Kau hanya beranggapan luka kecil? Jika tadi para Sipir tak mengambil tindakan apa kau akan selamat?" Dia sekarang menatapku dengan marah-marah. 


" Dokter aku sungguh baik-baik saja semuanya sudah lebih baik sekarang."


" Dokter Angel apa yang kau laku-" Rekan ku yang tiba tiba masuk kini membuat kami langsung menoleh ke arahnya tapi untungnya dia langsung menghentikan ucapannya setelah melihat siapa yang ada di ruangan bersama ku. " Dokter Nathan maaf saya tidak tau jika-"


" Apa yang dilakukan oleh Dokter Angel? Hingga kau marah-marah seperti itu?" Aku menatap rekan ku dengan menggeleng meskipun aku juga tak tau sebenarnya apa yang ingin dia katakan kepada ku.


" Tidak ada Dokter.. saya hanya ingin bertanya apa yang dia lakukan di sini?" Aku tau dia sedang berbohong saat ini dia begitu gugup dari suaranya aku tau ada hal yang ingin disampaikan tapi aku harap Dokter Nathan percaya dengan apa yang dikatakan olehnya.


Aku melirik ke arahnya dan sekarang jantungku terasa akan lepas ketika tatapan itu begitu menusuk ke jantung. Dia sepertinya tidak akan percaya dengan apa yang dikatakan oleh rekan ku. 


" Kalian berani berbohong kepadaku rupanya! Apa sekarang kalian tidak memiliki rasa takut kepada pimpinan kalian sendiri…" Dia menggunakan kekuasaan saat ini. " Kalian ingin aku pindah tugaskan ke salah satu kota yang jauh."


" Tidak! Jangan lakukan Dok…" Aku menghela nafasnya dengan kasar ketika dia mulai mengancam tentang pekerjaan. 


" Sekarang katakan apa yang ingin kau katakan tadi, apa yang dilakukan oleh Dokter Angel?" Aku tidak bisa kabur aku yakin ini akan menjadi omelan yang panjang.


" Dokter Angel maafkan aku…" Aku tau dia tak mungkin untuk menutupi kesalahanku. " Dokter Angel meminta Kepala Sipir untuk tak menghukum orang yang telah mengancamnya."


" APA?" Aku tak bisa lari saat ini, aku akan mengakui apa kesalahan ku. 


" Dokter Angel tadi juga marah karena Sipir memberikan hukuman kepada nya waktu operasi kecil. Sipir sepakat untuk tidak memberi obat pereda nyeri di kakinya, dia juga mengambil ahli tugas saya ketika saya yang menangani operasi tadi…" Aku hanya memejamkan mata dengan menunduk saat ini aku yakin pimpinan ini akan langsung memakan aku hidup-hidup.


" Dokter Angel jelaskan ini semua kepada ku?" Dia yang berteriak membuatku menghela nafas dengan berat lalu menatapnya dengan kata maaf.


" Dokter Nathan apa yang dikatakannya memang benar, saya tadi memang mengambil ahli tugasnya karena di dalam sumpah kita mengatakan untuk selalu menyelamatkan dan membantu siapapun yang sedang membutuhkan tanpa terkecuali, meskipun itu adalah musuh kita sendiri."


" Oke aku bisa memaafkanmu soal itu, tapi apa yang kau lakukan dengan anda meminta Kepala Sipir untuk tidak memberikan hukuman tambahan kepada nya, dia sudah berani mengancam sama saja dia akan berulah lagi. Biarkan dia dihukum untuk memberikan efek jera kepadanya…" Benar dugaan ku bahwa ini akan menjadi omelan yang panjang lebar.


" Saya tau Dok tapi maafkan saya, saya lakukan ini karena luka jahitannya masih basah dan saya tidak ingin kita mendapatkan masalah karena dikira kami lalai dalam bertugas di sini."


" Saya tau Dok tapi saya tak bisa melihat dia menderita di dalam sel tikus. Jadi saya meminta izin agar dia masih bisa berada di ruang rawat agar saya dan yang lain bisa melihat jahitannya itu…" Dia tampak berpikir sebentar lalu membuang nafasnya dengan kasar.


" Kau terlalu ceroboh dalam mengambil tindakan Dokter Angel. Kamu tak memikirkan orang lain, jika dia berbuat ulah lagi dengan dia yang mengancam nyawa orang lain lagi kau baru terasa bahwa orang itu akan sangat bahaya. Kau melindungi orang yang salah…" Dia memarahi ku dengan panjang lebar tapi aku hanya diam. Aku tak akan menjawabnya karena apa yang dikatakan nya memang benar tapi aku yakin dia tak akan berulah seperti ini lagi.


" Maafkan saya!"


" Sebaiknya kau bereskan barang-barangmu aku akan membawamu kembali ke rumah sakit karena aku tak ingin menempatkan orang egois di sini."


" Tidak Dokter Nathan, aku tidak ingin. Biarkan saya di sini, saya minta maaf jika saya salah. Tapi saya hanya melakukan tugas saya."


" Tugas melindungi penjahat heh? Kau tau dia orang yang berbahaya, jika dia berani mengancammu maka dia akan berbuat ulah lagi jika di terdesak."


" Saya jamin dia tidak akan berbuat ulah lagi Dok! Tadi dia melakukan itu karena dia sedang terdesak, jika saja dia tadi aku bantu mungkin ini tak akan terjadi, jadi ini bukan kesalahan dia sepenuhnya, aku juga salah di sini."


" Kau membela orang yang sudah mengancammu? Dimana pikiranmu?" Aku diam sekarang tapi apa yang dikatakan olehku benar, ini juga kesalahanku yang tak bisa aku limpahkan ke arah Alex. " Atau jangan-jangan kau mengenal orang itu?" 


" Tidak!" Aku membantahnya karena aku tak ingin pimpinan kutahu bahwa orang yang aku bela adalah orang yang menjadi penyebab kematian Ayahku. 


" Jangan berbohong Dokter Angel. Aku bisa memberimu surat peringatan jika kau tak berkata jujur maka kau harus pulang sekarang, siapa dia?" Tanyanya dengan nada penekanan.


" Dia mantan komandan Alexander!"


Sial rekan ku malah yang berkata siapa orang yang saat ini aku bela. Aku melotot ke arah rekan ku dan aku yakin saat ini pimpinan ini sudah memasang wajah garangnya.


" Kau membela orang yang menjadi penyebab kematian Ayahmu heh?" 


" Saya bukan membela nya Dokter hanya saja-"


" Hanya saja kau ingin melindunginya bukan? Kau yang sangat naif Dok…" Aku menatap ke depan dengan dia yang berkata lalu pergi meninggalkan ruanganki dengan dia yang mungkin tidak menyangka.


" Tamatlah riwayat mu Angel…" Aku lemas dengan segera terjatuh di lantai tak ada kesempatan lagi saat ini.


Aku akan kembali ke rumah sakit sebelum semuanya bisa aku lakukan dengan baik. Tapi aku juga berpikir kenapa aku bisa melakukan hal sepertinya ini kenapa aku seakan membelanya dari tadi, seharusnya aku membencinya tak memiliki rasa simpatik sedikit pun kepadanya tapi sekarang aku malah membelanya.


Ada apa denganku? Aku rasa pikiranku sudah tak sehat saat ini.