Ex Husband Is Broken

Ex Husband Is Broken
Hukuman Masih berlanjut 2



" Jangan suka membuat keributan atau aku sendiri yang akan menghajarmu…" Kepala Sipir itu mengancam ke arah Alex yang berdiri di sana.


Alex berjalan dengan kaki yang terasa sakit, dia menahan nya agar Kepala Sipir itu tak melihat bahwa dia kesakitan sama sekali.


" Kau mengancamku? Apa aku tak salah mendengarnya? Seharusnya anda mengancam orang orang yang ada di sana tadi…" Alex kini menatap Sipir itu dengan jarak begitu dekat.


" Aku tak memiliki urusan dengan mereka! Yang sedang aku awasi adalah kamu. Aku lebih tau mereka yang mudah di atur dibanding kau yang susah sekali di atur. Mereka tak akan menghajar mu jika kau tak berbuat masalah…" Senyum sinis dari Kepala Sipir membuat Alex benar-benar merasa terhina di sini.


Alex kini maju lagi, berhadapan langsung dengan nya. Mencengkram baju Kepala Sipir sedangkan Kepala Sipir hanya tersenyum membiarkan dia melakukan apapun.


" Ternyata aku salah meletakkanmu di sini! Seharusnya aku dulu membuangmu ke tempat lain agar kau tak jadi pengkhianat…" Ucapnya dengan sinis.


" Jadi pengkhianat atau tidak itu bukan urusamu! Yang jelas aku lebih memihak kepada orang yang bisa memberikan aku uang banyak. Sedangkan kau hanya seorang Mantan Komandan yang hidupnya hancur di sini."


" Jika aku bisa keluar dari sini orang yang akan aku hancurkan adalah dirimu…" Ancamnya dengan sungguh-sungguh.


Kepala Sipir itu tertawa keras membuat semua orang yang sudah masuk ke dalam kamar sel itu secara otomatis melihat keluar dengan mereka yang penasaran apa yang dia lihat di luar. 


Kepala Sipir itu menghempaskan tangan Alex dengan kasar dengan gerakan cepat mengambil pistol miliknya menodongkan cepat di kepala Alex. Mata mereka bertemu dengan sama sama sinisnya. Nafas mereka sama sama membara kala ini.


" Nyawamu ada di tanganku seharusnya kau bersikap baik kepada ku bukan malah mengancamku yang tidak-tidak. Aku bisa menembak kepala ku disini dan kau berakhir, tapi sayangnya kali ini aku memaafkanmu…" Tapi pistol itu masih berada di kepala Alex tepat di dahinya.


" Tembak aku! Kau pikir aku takut mati. Meskipun aku matipun ku pastikan bahwa kau akan tetap hancur."


Kepala Sipir masih saja tertawa. " Kau terlalu yakin dengan kesombonganmu itu Heh? Harusnya kau sadar semua yang kau miliki saat ini hancur sangat hancur. Kau tak memiliki apapun lagi saat ini kau sudah kalah, semuanya ada di tanganku sekarang. Bahkan nyawamu ada di tanganku."


" Jika nyawaku ada di tanganmu maka tembak aku dan bunuh aku saat ini! Aku ingin melihat seberapa berani kau berbuat untuk membunuhku…" Tantangnya.


Alex hanya menarik ujung bibirnya ketika Kepala Sipir itu tak menarik pelatuk nya, mereka hanya saling berpandangan dengan tatapan bermusuhan saat ini. 


" Tembak! Tunggu apalagi?" Tantangnya dengan kencang. Bahkan Alex memejamkan matanya saat ini hanya Takdir yang akan menolongnya.


Dia hanya pasrah jika dia saat ini harus mati di sini dengan luka tembak tepat di kepalanya, dia tak peduli dengan semua yang terjadi. Rasa lelah itu membuatnya putus asa. Alex membuka matanya ketika Sipir itu tak berbuat apa apa lagi hanya menatapnya dengan kebencian.


" Tembak! Tunggu apalagi? Kau pikir aku takut? Ayo tembak…" Teriaknya dengan kencang.


Sedangkan Kepala Sipir tentu saja tak bisa berbuat apa-apa dia hanya mendengarkan apa yang dikatakan orang yang menyuruhnya dia tak mungkin menembaknya karena mereka belum menginginkan Alex mati dengan cepat.


" Tembak…" Alex berteriak.


Dor!! 



\=\=\=\=\=\=\=


" Paman sebenarnya ada apa? Kenapa kita harus bertemu? Apa ada masalah?" Bryan saat ini duduk di depan Albert saat ini mereka melakukan pertemuan.


" Sebenarnya ada yang ingin Paman bahas denganmu tapi sayangnya kita harus menundanya karena hari ini Daddy mu belum pulang jadi saat ini tak ada yang kita bahas."


" Daddy? Apa Daddy akan pulang?"


" Hem.. seorang telah berhasil bicara kepada Daddy mu dan mengatakan apa akar permasalahannya dan itu membuat Daddy mu akan pulang…" Jawabnya lagi.


" Siapa kakek tua yang di maksud oleh Bryan Al?" Seorang dari ambang pintu kini tiba tiba menimpali apa yang dikatakan oleh Bryan.


" Paman Kris juga ada di sini?" 


" Kebetulan lewat dan mampir…" Jawabnya dengan duduk di depan mereka.


" Aaron yang dimaksud!"


" Aaron? Siapa dia?" 


" Kris ceritanya begitu panjang dan itu akan membuatmu bingung nantinya, besok kau akan tahu siapa dia."


" Kenapa harus besok?"


" Kris…" Albert menatapnya dengan tatapan yang berbeda bahkan tatapan itu begitu menusuk dirinya.


" Baiklah aku paham saat ini…" Katanya dengan mengerti kali ini.


" Kenapa dengan hanya mengkode Paman Kris tahu apa yang tak bisa dibantah…" Katanya dengan tak mengerti kali ini.


Mereka berdua hanya tersenyum saling mengerti dengan apa arti tatapan tersebut. Tak ada yang tahu bahwa dengan isyarat saja mereka paham betul apa yang mereka katakan. Hanya dengan pandangan mata mereka saling mengerti satu sama lain.


" Sudahlah sebaiknya aku pergi saja, aku ingin datang ke markas saja…" Bryan berdiri.


" Kau sudah janji bahwa kau akan menceritakan siapa yang tadi mengikutimu!" Perkataan Kris membuat Bryan yang melangkah ingin keluar langsung diam di tempat.


" Paman diikuti dengan siapa?" Timpal Bryan.


Al hanya menghela nafasnya dengan kasar dia mengusap wajahnya dengan rasa kesal. " Kau tahu bahwa kali ini Paman di ikuti oleh orang…" Dia tersenyum kecut.


" Jadi Paman benar di ikuti oleh seseorang?" Bryan yang tadi ingin pulang kini tak jadi dia kembali ke tempat duduknya dengan menatap kedua Paman yang saat ini duduk. " Apa ini ulah dari Aaron itu?"


" Sepertinya! Dari kemarin pun Paman juga sudah di ikuti oleh mereka tapi sayangnya mereka mudah kehilangan jejak ku, jadi kemarin aman. Tapi untuk hari ini Paman membiarkan mereka sengaja mengikuti Paman."


" Aaron siapa yang kau maksud Bryan? Kau sedang bermasalah dengan siapa? Hingga di ikuti seperti itu."


" Aaron kakek tua bangka yang mungkin sebentar lagi akan mati jika tahu salah satu dari cucu nya meninggal di tangan kita…" Jawab Bryan dengan geram.


" Jangan berputar-putar Bryan. Jelaskan kepadaku siapa Aaron. Mereka sepertinya harus diberi peringatan karena dia sudah berani mengikuti mu."


" Biarkan saja, aku ingin mereka mendapatkan pekerjaan mengikutiku hanya itu."


" Al kau belum menjawab siapa Aaron itu. Apa dia seorang pengusaha kenapa aku sama sekali tak pernah mendengar nama nya, namanya terlalu asing bagi ku…" Kris mengingat-ingat nama Aaron yang begitu asing di telinganya.


" Aaron bukan orang sini Kris jadi percuma kau mengingat nama nya karena dia tak pernah berhubungan langsung dengan kita jadi kau tak akan tahu."


" Hmm pantas saja dia berani mengikutimu…" Kris mengangguk dengan mengerti sekarang.


" Terus masalahnya denganmu apa?"


" Dia kakek dari Nicolas dan Alexander!"