
Bruak!!
" Maafkan saya yang tak meliha-"
" Kau buta tak melihat aku berjalan hah?" Suara nada tinggi itu membuat Angel menatap ke arah wanita yang sama sama terjatuh di lantai dengan nya.
" Nona maafkan saya, saya terburu-buru maka dari itu saya tak melihat jika anda berjalan…" Angel dan wanita itu kini saling bangun dari jatuhnya.
" Kau sungguh buta!" Cibirnya dengan ketus. " Seorang Dokter sepertimu tak melihat aku yang besar ini berjalan kau sungguh cari alasan yang tak masuk akal…" Bentaknya.
" Nona sekali lagi maafkan saya! Saya tak ingin berdebat karena saya sangat terburu-buru ada hal yang saya harus urus lebih penting dari ini…" Angel segera melangkah.
" Jadi kau yang menabrakku dan tulang belakang ku sakit itu tak penting bagi mu rupanya?" Angel langsung menghentikan langkahnya dia menahan emosinya saat ini.
" Saya akan memeriksa anda jika begitu, mari saya antar ke ruangan saya."
" Tidak! Saya tidak ingin kau periksa…" Tolaknya dengan tegas.
Astaga wanita ini kenapa cari masalah dengan ku.
" Lalu anda mau apa Nona?"
" Saya ingin kau bertanggung jawab dengan membayar ku."
Angel kini tau apa yang dimaksud oleh wanita ini, dia menyilangkan tangan ke dada nya menatap wanita itu dengan tatapan senyum sinis yang terbit di bibirnya.
" Jadi kau ingin memeras ku heh?"
" Aku tidak! Tentu saja tidak. Aku hanya meminta pertanggung jawabanmu karena sudah membuat tulang ku sakit karena terpental…" Elaknya dengan cepat meskipun tulang tulang itu tak mungkin terasa sakit karena dia tak merasakan kesakitan sama sekali.
" Benarkah? Aku rasa kau baru saja akan bebas bukan? Sepertinya kau tak ingin pergi dari tempat ini hinggai kau cari masalah dengan ku. Pumpung kau masih di sini ayo aku akan buatkan laporan untukmu agar kau tak jadi bebas sekalian…" Ancamnya dengan menantang.
Wanita itu menatap tajam ke arah Angel yang tak ingin memberikan dia uang malah ancaman yang diberikan oleh Dokter cantik tersebut.
" Jadi kau mengancamku heh?" Wanita itu maju menatap Angel seakan dia ingin membunuh Angel saat ini. Bahkan kedua tangannya menari baju dari Angel. " Kau tak kenal aku rupanya?"
Angel tersenyum sinis lalu menghempaskan tangan wanita itu dengan kasar. " Kau pikir meskipun aku tak mengenal dirimu lalu aku harus takut denganmu? Dengar Nona aku tak peduli dunia mu yang kejam di sini, asal kau tau tak hanya kau yang merasakan kejamnya dunia aku juga merasakan kejamnya dunia jadi jangan bertingkah seakan hanya kamu yang merasakan kejamnya di sini."
Mata mereka saling bertatapan dengan tajam kedua wanita yang saat ini tengah merasakan kerasnya dunia dan dunia yang begitu kejam kini saling bertatapan dengan pandangan yang saling membunuh.
" Dokter Angel ada apa?" Seorang Kepala Sipir yang dari belakang kini melihat seakan ada pertengkaran dari kedua wanita itu segera mendekati kedua wanita itu.
" Tidak ada Sir! Hanya saja ada orang yang ingin memeras saya di sini. Saya ingin mengajukannya agar dia tak bisa bebas hari ini…" Ucapnya dengan sinis.
" Kau lihat saja masalah kita belum selesai aku akan tetap membuat perhitungan denganmu ketika di luar nanti…" Ancamnya dia tak peduli dengan adanya Kepala Sipir yang ada di sana.
" Sir anda mendengar sendiri bukan dia mengancamku."
" Aneth kau."
" Aku pergi Sir! Aku pergi…" Meskipun Aneth pergi tetapi matanya masih menatap ke arah Angel dengan tatapan tak suka. Ada rasa benci dan marah saat ini yang berada di mata wanita bernama Aneth itu.
" Sudah sana pergi! Jika kau tak segera pergi aku akan menangkapmu lagi…" Teriakan Kepala Sipir itu membuat Aneth segera berbalik dan segera berlari kecil meninggalkan tempat tersebut.
Dokter Angel suatu saat nanti kita akan bertemu di luar sana dan saat ini kita akan melanjutkan masalah ini. Batin Aneth ketika dia melangkahkan kakinya keluar dari pintu besar tersebut.
" Akhirnya aku bisa bebas! Ini sungguh melegakan…" Aneth langsung menghirup udara segar yang seakan menyambut kebebasannya saat ini.
" Aku sudah tak tahan ingin segera tiba di rumah dan berendam air hangat lalu tidur di bed besar ku…" Sambungnya dengan tangan yang terentang dengan dia yang berjalan menuju rumahnya.
Wajahnya begitu gembira karena kebebasannya tapi hatinya terbakar dendam kepada semua orang yang telah sengaja membuatnya masuk ke dalam tempat itu.
" Kalian lihat saja aku akan datang dengan api yang akan membakar kalian semua…" Gumamnya dengan pelan.
Aneth sungguh tak sabar melihat kehancuran orang-orang yang sengaja sudah menjebaknya agar dia bisa masuk ke dalam sana. Dia tak peduli dengan statusnya yang masih mudah saat ini yang terpenting saat ini dia sudah mendapatkan pelajaran di dalam penjara bahwa tak semua orang yang terlihat baik di depan dia juga baik juga di depan kita.
Sedangkan Angel yang tadi berdebat dengan sosok wanita mudah itu membuang nafasnya dengan kasar karena hari ini semuanya menjadi berantakan. Hari nya kacau bahkan sangat kacau. Dia yang tadi di sandera oleh seseorang narapidana sekarang dia yang juga berdebat dengan orang yang tak dikenal oleh dirinya sendiri.
" Dokter maafkan dia! Dia memang seperti itu tapi sebenarnya dia baik hanya saja dia salah jalan, biasa anak mudah yang sedang mencari identitasnya sendiri malah terjebak masuk kemari…" Kepala Sipir itu menjelaskan sedikit tentang Aneth wanita yang tadi berdebat dengannya.
" Tak apa Sir! Saya tau. Emosi anak mudah tak bisa di kontrol, saya dulu waktu mudah seperti itu…" Dia tersenyum kecut mengingat bahwa umur mudahnya dia harus membantu sang Ayah untuk mencari uang untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya.
" Jika boleh saya tahu anda ingin kemana? Kenapa anda melewati lorong ini. Seharusnya anda tak perlu melewati lorong ini bukan jika anda ingin keruangan anda…" Kepala Sipir itu merasa heran kenapa Dokter cantik ini bisa ada di lorong yang seharusnya tak dilewati.
" Ah aku hampir lupa karena wanita itu tadi Sir. Saya ingin menemui anda karena ada hal yang ingin saya bahas dengan anda."
" Dokter Angel ingin bertemu dengan saya?, Apa ada serius yang membawa anda ingin bertemu dengan saya?" Kepala Sipir itu memicingkan matanya menatap ke arah wanita itu.
" Saya ingin membahas Alex Sir."
" Ada apa lagi dengannya?"
" Bisakah kita bicara sebentar?"
" Baiklah ayo kita keruangan saya…" Kedua orang itu kini akhirnya berjalan ke ruangan Kepala Sipir dengan pemikiran mereka masing-masing.