
" Tapi Bry kau masih harus istirahat kau harus sembuh dulu…" Sarah yang dekat melarang Bryan.
" Aku baik baik saja Sarah, saat ini dia yang lebih membutuhkan pertolongan kita."
" Keras kepala! Kau memang keras kepala Bryan Kozan!" Nada tinggi dari Val membuat semua orang yang ada di sana diam seribu bahasa bahkan langkah kaki Bryan terhenti.
" Kau sama seperti Dadday mu yang keras kepala! Baru tadi kami melarangmu tapi kau sudah tak memikirkan kondisimu. Kau tau kami hampir jantungan mendengar kau tertembak sekarang kau malah mau lari dari sini, dimana akal sehatmu."
" Mom!"
" Naik ke ranjangmu sekarang…" Titahnya yang tak bisa di bantah.
" Ayolah Mom! Mana mungkin aku bisa meninggalkan Antoni saat ini, dia selalu ada untukku mana mungkin aku tak menolongnya."
Val menatap putranya dengan tatapan sengit bahkan tak ada kata kata penolakan. " Naik…" Katanya lagi dengan dingin.
" Mom dia asisten ku bagaimana mungkin aku-"
" Honey hentikan jangan-"
" Kau mau mengatakan bahwa apa yang dilakukan Bryan benar, dia memikirkan asistennya…" Tatapannya kini tajam kearah sang suami.
" Honey ini rumah sakit-"
" Naik ke ranjangmu sekarang atau kau tak usah melanjutkan misimu ini sama sekali…" Ancam nya dengan telak.
" Mom!"
" Bryan naik…" Zac kini mengalah. " Sudah ada tim dari Andre yang mencarinya mereka tak perlu di ragukan lagi pasti Antoni akan kita temukan."
" Dad tolong…" Gumam nya dalam pelan.
Val tak menghiraukan mereka, dia yang dari tadi cemas kini malah di buat kesal oleh putranya. Val keluar dengan wajah yang terlihat sangat kesal bahkan ada mata yang kecewa saat ini. Zac serta Abhi kini hanya mampu menghela nafasnya dengan berat.
" Kalian bicaralah dulu, Daddy akan tenangkan Mom dulu…" Bryan mengangguk.
" Istirahatlah jangan membuat masalah."
***
Bruak!!
" Bagaimana bisa ini terjadi hah?" Nafasnya memburu dadanya naik turun dengan amarah yang memuncak.
" Maaf Sir…" Mereka semua menunduk.
" Bagaimana aku menjelaskan kepada Jenderal jika seperti ini…" Dia mengusap wajahnya dengan kasar menatap semua bawahannya dengan tatapan bingung nya.
Tap!! Tap!!
Ceklek!!
" Sir maaf saya mengganggu!" Dia mengatur nafasnya karena lari.
" Ada apa Dok? Apa sesuatu terjadi?"
Dokter sipil itu kini mengatur nafasnya sebelum dia bicara. " Dokter Angel juga tidak ada di ruangannya. Saya sudah mencarinya kemana-mana tapi tak ada satupun yang melihatnya."
" Apa dia pergi kesuatu tempat pagi tadi?"
" Tidak mungkin Sir! Jika dia pergi pasti dia mengatakan kepada ku. Tapi semenjak semalam ada keributan di penjara saya sudah tak melihatnya."
Kepala Sipir itu kini diam dengan otak yang berpikir keras. " Alex berhasil kabur dari sini dan Dokter Angel juga tak ada. Kemungkinan mereka kabur bersama."
" Atau jangan-jangan kekacauan semalam juga ulah dari Dokter Angel?"
Deg!!
" Ini gila! Jika memang Angel yang melakukan ini dia benar-benar sudah gila. Bagaimana bisa dia melakukan hal ini…" Teman nya sendiri tak habis pikir dengan apa yang menjadi asumsi semua orang saat ini.
" Aku akan menghubungi Dokter Nathan ini tak bisa di biarkan, dan kerahkan para polisi untuk datang kerumah Angel, bawah mereka kesini segera."
" Siap Sir."
***
" Bryan kau harusnya lebih mendengarkan apa yang dikatakan Mommy, kau tau dia sangat mengkhawatirkanmu dari semalam semua orang kena amukan nya."
" Aku tau semua orang pasti cemas tapi aku sudah tak apa Sayang, ini hanya luka kecil. Nanti aku akan terbiasa dengan luka luka seperti ini…" Mereka saling menggenggam erat.
" Kau tak boleh egois, di sini kamu memiliki keluarga yang memikirkan dirimu Sayang."
" Aku tau! Tapi aku sungguh tak apa, ini luka ringan Sayang- auwh."
" Kenapa kau berteriak?
" Sakit."
" Kau mengatakan ini luka kecil, luka kecil tidak mungkin sakit bukan?"
Mereka saling bertatapan dengan tatapan yang berbeda. " Aku merindukanmu! Apa kau tak merindukan ku hem?"
" Tidak!" Elaknya.
" Benarkah?"
" Hem! Aku tak merindukanmu sama sekali."
" Tatapan aku dan katakan kau tak merindukanku!" Sarah lagi lagi tak ingin menatap kearah kekasihnya dia memilih untuk memalingkan mukanya. " Jadi benar kau tak merindukanku?"
" Kau jahat hiks hiks hiks…" Tangisan yang dari tadi tertahan kini tumpah dengan deras, air mata itu mengalir seperti air sungai yang langsung membasahi pipi Sarah.
" Kau mengatakan semuanya baik baik saja tapi kau sekarang malah terluka, hiks hiks…" Suaranya bergetar dia yang dari tadi mencoba tegar kini langsung luluh dengan air mata yang menetes.
" Sayang maafkan aku!" Bryan yang tadi duduk dengan mereka yang saling berhadapan kini dengan mudah mereka saling berpelukan. Bryan mendekap tubuh kekasihnya yang bergetar karena tangisan nya.
" Kau tau dunia ku hampir hancur lagi ketika mendengar kabar kau tertembak, kaki ku lemas tubuhku terasa dingin. Semua orang yang aku sayang seakan tak bertahan lama di sisi ku hiks hiks…" Bryan mengusap punggung kekasihnya untuk menenangkan nya.
" Sssttt.. semuanya baik baik saja Sayang, ini tak apa. Luka ini hanya salah sasaran dari Paman Abhi sebenarnya aku baik baik saja bukan? Tak ada yang bisa menyentuhku sama sekali. Mereka tak bisa menyentuhku!"
" Jangan sombong Tuan Bryan Kozan!" Mereka saling melepaskan pelukan itu dengan Bryan yang mengusap air mata yang masih ada di pipi kekasihnya.
" Jangan menangis lagi ku mohon! Hatiku terasa sakit melihat kamu menangis seperti ini, jadi ku mohon jangan menangis lagi."
" Jangan terluka lagi! Aku tak ingin melihat kamu terluka, semua orang mencemaskan dirimu…" Katanya dengan sisa tangis.
" Maafkan aku! Ini yang pertama dan yang terakhir…" Mata mereka saling berpandangan dengan Tangan nya mengelus lembut pipi dari Sarah.
Kedua mata yang saling bertatapan dengan rasa rindu, kedua mata yang saling tulus mencintai. Mereka saling menempelkan hidung mereka saling memejamkan mata seakan ingin menghentikan waktu.
Bryan mencium kening Sarah, mencium hidungnya, kedua pipinya lalu kedua mata nya yang kemudian mendarat ke bibirnya yang selama ini dirindukan. Saling menempel dengan memejamkan mata. Bryan meluma* nya dengan lembut, meluma* nya dengan pelan serta memberikan gigita* kecil yang membuat Sarah membalasnya dengan pelan.
Mereka saling membalas sentuhan, saling membalas ciuman tersebut, saling menyesa* lida*. Mereka saling melepaskan rindu yang beberapa minggu ini mereka tahan. Sentuhan lembut kini juga menyasar ketubuh Sarah, desah*n tertahan juga lolos begitu saja dari bibirnya.
" Hmm…" Suara yang membuat sesuatu telah bangkit di antara kedua anak manusia yang lupa akan sesuatu tempat.