
Pov Sarah
Aku tak menyangka aku bisa mendapatkan laki laki yang memiliki kedudukan segalanya, aku tak pernah membayangkan sebelumnya, jangan membayangkan bermimpi saja aku tak berani.
Sekarang aku bisa kembali merasakan indahnya bersama orang yang aku cintai tapi rasa khawatir ini tak bisa aku tutupi ketika aku sadar dia memiliki keluarga yang begitu terpandang, dia memiliki segalanya sedangkan aku hanya memiliki kenangan yang begitu menyedihkan jika di ingat.
Aku hanya seorang anak yatim piatu, seorang wanita pekerja di cafe bukan wanita yang terlahir dari keluarga kaya raya. Memang dulu mendiang kedua orang tua ku pernah memiliki perusahan kecil tapi semuanya lenyap ketika sebuah penagih hutang harus mengambilnya secara paksa.
Tapi hidupku bahagia hidupku lebih tenang. Semenjak kematian adikku yang bernama Amel seakan hidup ku penuh dengan tantangan yang luar biasa. Aku harus di kejar kejar oleh penjahat aku yang harus melawan rasa takut itu kini bertemu dengan sosok laki laki yang memberikan cinta yang tulus bagiku.
Dia sosok pangeran yang akan membantuku dalam segala hal, pangeran berkuda putih yang selalu aku dengar di cerita cerita anak kecil. Tapi sekarang aku tau bahwa sosok pangeran itu selalu ada tetapi tak seindah cerita di komik. Perjalanan cinta kami sepertinya tak akan semulus pangeran dan si cinderella. Perjalanan cinta kami akan begitu banyak rintangan hingga pertumpahan darah yang terjadi.
Malam ini aku mengakui perasaan ku kepadanya, aku tak bisa berlama lama membohonginya. Aku juga memiliki rasa yang sama dengannya. Aku menyerah kali ini sungguh menyerah ketika tatapan tajam nya serta amarahnya membuatku luluh dan mengakui semuanya saat ini.
Kupu kupu terasa bertebrangan di atas kepalaku, aku begitu bahagia sangat bahagia. Berada di dekapannya membuatku nyaman dan aman. Dia selalu melindungi ku. Merasakan indahnya jatuh cinta dan mendapatkan orang yang dicintai adalah hal yang begitu membahagiakan.
Dia meraih bibirku ketika ciuman tulus tadi aku rasakan, aku memejamkan mataku menikmati sentuhan yang tulus aku rasakan. Dia meluma* ku dengan pelan dan aku membalasnya dengan perasaan yang senang. Kami saling membalas satu sama lain, saling bernafas dalam ciuman itu terasa menyenangkan.
Tanganku yang dari tadi berada di dadanya dengan sengaja menggoda nya bermain di salah satu putin* nya yang membuatnya menggeram di dalam ciuma* tersebut. Aku mendesa* ketika tangan nya juga meram*s panta* ku.
Kami saling melepaskan ciuma* itu saling memandang satu sama lain, saling menyelami mata kami. Aku tau mata itu tak hanya ada ketulusan tapi ada api gairah yang lain yang muncul. Dia menggendongku ke bed besarnya membantingku perlahan sebelum wajahku terasa panas karena melihat dia membuka kaos yang ia kenakan.
Dia kembali menindihi ku menggapai bibirku kembali, dan ciuma* itu kini semakin dalam dan begitu liar. Aku merasakan ada sesuatu yang menekan ku, di sengaja menggodaku. Aku memeluknya dengan erat ketika sapuan godaan kini dia berikan. Aku menggeliat tak karuan ketika dia semakin membuatku gila.
" Bry…" Aku memanggil namanya ketika ciuma* itu terlepas. Dia bermain di lehe* ku menyesa* nya dan aku yakin besok akan ada tanda di sana.
" Argh.. Bryan…" Lagi lagi suara ku begitu memalukan terdengar lagi, aku tak bisa menahannya ketika dia berada di dada ku. Hanya di dada ku bermain di sana tapi tak menyentuh seluruh dadaku.
Sekarang tubuhku terasa tersengat listrik, aliran darah begitu cepat jantungku terasa memompa begitu saja dengan tak karuan. Aku memejamkan matanya dengan merema* rambutnya yang berada di dadaku. Dengan cepat dia sudah membuka kain yang aku kenakan. Gaun tadi kini terbuang ke lantai begitu saja membuat seluruh tubuhku terlihat begitu saja.
" Kau merasakannya Honey?" Dia menekan tubuhnya ke tubuhku membuatku merasakan sesuatu mengenai tepat di milikku. Kemarin mungkin kami saling melepaskan tapi kami tak saling merasakan benda itu dengan sesungguhnya.
Aku menggeliat ketika gesaka* miliknya dengan milikku yang masih berlapis kain di bawah sana. " Argh.. kau menggoda ku Bryan…" Aku menatapnya dengan dia yang juga menatapku dengan penuh gaira*.
" Apa aku boleh melakukannya?" Aku tertegun dan tersanjung mungkin ini bukan pertama untuk kami berdua tapi aku merasa menjadi wanita yang paling berharga ketika dia malah bertanya dalam hal ini. " Honey katakan? Jika tidak aku tak akan melakukannya."
" Kenapa kau masih ingin bertanya kepada ku Bry? Apa aku begitu berarti bagiku saat ini?"
" Honey melakukan hal ini bukan hanya aku yang menginginkannya tapi aku juga ingin kau menginginkanku. Jika kamu tak menginginkanku maka aku tak akan memaksa, kita bisa melepaskannya dengan cara yang berbeda tak harus saling memasuki."
Lagi lagi katanya malah semakin membuatku tersanjung aku merasa wanita paling berharga, aku wanita yang paling bahagia malam ini. Di saat kami berada di atas puncak dia masih menanyakan bahwa aku menginginkannya, dan.
" Lakukan Bryan, aku menginginkanmu sangat menginginkanmu. Jadikan aku milikmu malam ini…" Karena sekedar ciuma* dan saling menggoda tak cukup untuk melepaskan sesuatu yang terasa sesak.
" Kau yakin? Kau masih bisa mundur?"
Aku meraih bibirnya meluma* nya dengan liar aku tak peduli apa yang dia pikirkan tentangku tapi saat ini aku tak butuh bicara kosong dengannya yang aku butuhkan dia, karena aku dan mungkin dia juga sangat menginginkan hal ini. Tapi aku merasakan dia juga membalas ciuman ini mengimbanginya dengan kami yang saling membalas ciuam* liar ini.
Kami saling menggoda satu sama lain, saling mencari sesuatu yang berada di puncak. Entah siapa yang mulai seluruh kain yang kami kenakan kini sudah berjatuhan di lantai. Kami saling berguling berganti posisi dengan kami yang tetap saling menggoda satu sama lain.
Bryan kini kembali berada di atas ku, memposisikan miliknya tepat dengan milikku. Dia hanya menggese* nya dengan sesekali memukul pelan membuatku menggeliat tak karuan di bawah sana.
" Argh.. Bry kau hanya ingin bermain main atau bagaimana…" Aku kesal karena dia tak ingin segera memasuki ku.
" Memohonlah dengan benar Honey."
" Honey please aku sangat menginginkanmu…" Dan benar saja dia dengan perlahan memasuki ku meskipun sedikit kesulitan di awal tetapi benda itu kini masuk dengan sempurna.
" Argh… astaga…" Aku merema* sprei yang ada di sana ketika sebuah dorongan dan benda besar masuk menerobos milikku dengan cepat.