Ex Husband Is Broken

Ex Husband Is Broken
Pertengkaran 3



Bruak!! 


Gebrakan meja itu membuat seluruh dokumen yang ada di sana sedikit terangkat karena begitu keras. Mata orang itu kini memancarkan kemarahan yang begitu menakutkan. Semua orang yang ada di sana ini untuk pertama kalinya mengetahui bahwa komandannya saat ini tengah mengamuk.


Nafasnya begitu kasar dapat di dengar jelas bahwa hembusan nafas itu juga tampak sangat marah. Satu orang yang ada di depannya tak bisa berkutik dia hanya bisa menyaksikan komandannya marah.


" Argh…" Teriaknya dengan memberantakan seluruh berkas berkas yang ada di mejanya. " Bagaimana bisa dia tahu jika itu aku yang ada di balik topeng itu?" Sambungnya dengan nafas yang begitu kasar.


" Maaf Sir tapi aku rasa dia hanya menebak jika itu anda!" Jawabnya dengan menunduk.


" Tidak! Dia sudah tahu jika itu aku…" Katanya dengan tajam menatap ke depan. 


" Lalu apa yang harus kita lakukan Sir? Orang itu sudah membongkar kenapa dia disiksa selama ini. Jika kita tetap mempertahankannya maka kita sendiri yang akan terkena masalah Sir."


" Kau benar. Kita hanya memberikan Bryan sebuah bukti untuk menghancurkan kita, ini tak bisa kita biarkan…" Ucapnya dengan mengusap kasar wajahnya.


" Sepertinya kita juga salah menempatkan laki laki itu ke dalam sel tikus Sir. Kali ini dia sudah tahu apa yang kita tutupi selama ini."


" Kita harus segera menyingkirkan nya! Aku tak peduli bagaimana cara nya dia harus mati…" Ucapnya dengan penuh penekanan. " Satu lagi!"


Komandan itu berbicara pelan tentang rencananya saat ini, sedangkan bawahannya itu kini mengangguk mengerti dengan apa yang harus dia lakukan. Dia tahu betul apa yang harus dia lakukan. 


Bawahan itu paham betul apa yang terjadi kepada komandannya dia adalah kaki tangan komandan itu. Apapun yang dia katakan orang itu pasti akan melakukannya dengan sungguh sungguh.


Tok!! Tok!! 


Suara ketukan pintu dari luar membuat kedua orang yang ada di dalam langsung bersikap seperti biasanya, kini mereka seperti sedang tidak merencanakan sesuatu yang penting.


" Selamat pagi Sir!" Suara tegas dari sosok laki laki yang masuk ke dalam ruangannya.


" Selamat pagi!" Jawannya dengan mengontrol emosinya yang dari meledak ledak.


Polisi yang ada di sana memperhatikan meja komandannya yang berantakan dengan berkas berkas dan benda benda yang berserakan di bawah.


" Apa ada masalah Sir?" Tanyanya.


" Ah tidak! Aku hanya merasa kesal karena kasus pembunuhan itu belum terpecahkan sampai saat ini dan ditambah kasus perampokan itu juga tak bisa kita ajak bicara. Kau tahu sendiri mereka cukup seribu bahasa tak ingin membuka suaranya…" Komandan itu mencari alasan yang tepat.


" Anda benar Sir! Mereka cukup terlatih dalam segala hal…" Polisi yang datang itu juga menghela nafasnya dengan kasar ketika mengingat dua kejadian yang belum diselesaikan dengan mudah.


" Lalu untuk apa kau datang kemari? Apa ada yang ingin kau laporkan?"


" Maaf Sir saya hampir lupa. Tahanan 579240 tewas tadi malam…" Laporan dari polisi itu membuat kedua orang yang ada di sana sama sama terkejutnya bukan main.


" Apa kau bilang? Tewas?" Temannya juga tak percaya dengan laporan yang dia dengar juga.


" Jangan membuat karangan cerita…" Timpal komandan itu.


" Tapi maaf Sir! Saya tidak akan berani mengarang cerita seperti ini. Tahanan itu tewas, seperti nya tadi malam dan kami baru mengetahuinya."


Komandan itu tak bisa berkata kata dia cukup terkejut dengan berita yang dia dengar saat ini. Tahanan itu adalah orang yang waktu itu dia suruh untuk menghabisi Antoni dan Bryan tetapi malah dia sendiri yang saat ini tengah tewas.


" Kami sudah mengotopsi nya Sir! Sebentar lagi kita akan mengetahui hasilnya."


" Lalu bagaimana tahanan yang lain?"


" Baiklah! Aku akan melihat kesana sebentar lagi dan aku juga ingin memeriksa langsung keruangan tahanan mereka."


" Baik Sir…" Orang itu kini langsung pergi meninggalkan ruangan komandan nya.


Komandan dan satu orang yang masih di sana kini dibuat terkejut dengan apa yang dia dengar barusan. Mereka tak menyangka orang orang yang ditugaskan untuk menghabisi kedua laki laki itu malah mati tak berdaya.


" Sir-"


" Aku tahu! Sial dia mati. Aku rasa dia mati bukan karena dikeroyok tapi karena dia mati karena dibunuh."


" Tapi orang itu adalah orang kedua yang ditakuti di penjara kita Sir."


" Kita lihat kesana…" Komandan itu langsung berdiri dia ingin melihat sendiri bagaimana bisa orang itu mati.


Banyak pertanyaan yang ada di pikirannya banyak hal yang tak terduga semenjak masuknya kedua laki laki itu. Komandan itu berjalan dengan wajah kakunya.


" Selamat datang Jenderal!" Kedua orang itu dengan segera memberi hormat kepada Jenderal nya yang baru saja berpapasan dengan mereka.


" Bagaimana di sini ada pembunuhan? Kenapa tahanan di sini bisa mati?" Tanyanya dengan langsung.


" Maaf Jenderal saya rasa ada pertengkaran antara teman satu sel dan membuat salah satu dari mereka harus ada yang meninggal."


" Temui aku di ruangan!" Perintahnya.


" Maaf Jenderal saya akan datang menemui anda setelah saya melihat tahanan yang lain."


" Saya tidak butuh alasan mu! Cepat ikuti saya sekarang!" Perintahnya yang tak bisa di bantah. Kali ini komandan itu terpaksa ikut bersamanya dan bawahan itu diperintahkan untuk tetap melihat ke tempat tahanan tersebut.


Sedangkan Antoni bersikap tenang dan santai, dia tak peduli jika orang orang yang ada di sana saat ini tengah ketakutan ketika melihat temannya meninggal.


 


Sedangkan Antoni malah memejamkan matanya dengan telinga yang terjaga. Dia hanya tersenyum sinis ketika tahu mereka sedang ketakutan.


Flashback On


Orang itu langsung batuk darah dengan menyemburkan darah dari mulutnya. Antoni yang masih menginjak dada orang itu tersenyum sinis dengan dia yang terus menekan dada orang itu. Dia tak peduli jika nyawa orang itu malam ini melayang.


" Inilah akibatnya jika kamu melawan kami. Lain kali kenali dulu siapa lawan mu sebelum kau ingin menyerangnya…" Gumamnya dengan pelan.


Orang yang terkapar itu kini hanya bisa menyaksikan kejamnya Antoni mereka meringis kesakitan ketika merasakan rasa sakit pada tubuhnya. 


" Sekali lagi kalian macam macam dengan ku! Maka ku pastikan kalian akan berakhir lebih kejam dari ini…" Ancamannya dengan penuh penekanan.


Antoni kini berjalan santai memasuk kamar mandi mereka, dia kini mencuci tangannya yang ada darah segar. Dia yang biasa melakukan itu hanya bersikap tenang bahkan tak peduli. 


Suara panggilan pelan dari orang orang itu ketika membangunkan orang yang sudah tepar tak berdaya. 


" Itulah akibatnya jika berani melawan Dio Della Morte! Mereka kira kita hanya orang lemah!" Gumamnya dengan senyum sinis.


Flashback Off