
" Jangan tangisi Ayahmu seperti itu, biarka ayahmu tenang di sana. Kau harus bangga dia mati dengan cara terhormat dia melindungi anggota lain dengan mengorbankan dirinya sendiri…" Komandan itu menghampiri wanita yang saat ini tengah menangisi ayahnya yang mati.
Wanita itu menatap kearah komandan itu dengan tatapan sinisnya. " Kau mengatakan aku harus bangga dengan kematian seorang ayah? Apa kau gila? Aku lebih baik tak bangga dari pada harus kehilangan sosok ayah ku. Aku lebih baik melihatnya pergi bersama ku di banding aku harus melihat dia tak bernyawa sekarang…" Jawabnya dengan sinis.
" Jika perkataan ku-"
" Pergilah komandan…" Usirnya membuat komandan itu merasa bersalah.
Dia menghela nafasnya kembali ketika dia tak sadar apa kesalahannya saat ini. Dia yang berkata seperti itu untuk menenangkan hati wanita itu malah mendapatkan amukan yang tak terduga. Komandan itu akhirnya pergi tetapi dia masih melihat dari kejauhan.
" Sir anda tak apa? Saya mendengar ada yang gugur?" Asistennya yang dari tadi mengurusi kantor polisi yang kacau kini segera datang ke tempat terjadinya baku hantam tadi.
" Aku tak apa! Tapi dia mati didepan ku…" Jawabnya dengan termenung kembali.
Dia masih dapat mendengar jelas tangisan putrinya yang begitu menyedihkan, kali ini komandan itu tahu bahwa orangnya yang mati itu meninggalkan seorang putri yang sudah dewasa. Rambutnya yang terikat membuat semua orang melihat jelas wajah ayu sendu dari wanita yang saat ini masih menangis.
Semua orang kini dapat melihat bahwa wanita itu menguatkan dirinya sendiri ketika tubuh ayahnya harus di bawah rumah duka. Dia harus dikubur dengan ala militer dengan kehormatan yang seharusnya.
Wanita itu kini juga masuk kedalam mobil yang akan membawa ayahnya ke rumah duka. Komandan itu hatinya bergerak dia ingin mengikutinya tapi lagi lagi langkahnya seakan terhenti karena merasakan sakit.
" Sir anda tak apa?" Asisten nya segera menangkap tubuh laki laki itu ketika melihat komandannya hampir jatuh.
" Tak apa! Aku hanya ingin berada di samping orang ku yang gugur tadi."
" Saya akan mengantar anda Sir…" Kini mereka berjalan dengan komandan yang dibopong.
Sepertinya tadi kakiku tak sakit seperti ini, kenapa sekarang tiba tiba sakit. Batinnya dengan bingung.
Meskipun tadi dia berjalan dengan pelan menghampiri suara tangisan tadi hanya sedikit merasakan sakit dan sekarang dia merasakan rasa sakit yang hampir membuatnya tak mampu berjalan.
***
" Bryan kita mau kemana?"
" Kita akan mencari persembunyian dulu untuk sementara waktu."
" Kami tahu tempatnya?"
" Aku tahu dimana kita bersembunyi dan aku yakin ini akan aman untuk kita berdua."
Sarah kini diam dengan sedikit lega setidaknya dia sudah menemukan tempat untuk bersembunyi, saat ini mereka sudah duduk di dalam mobil, taksi yang akan membawa mereka ke tempat dimana semuanya akan aman.
Bryan menggenggam tangan Sarah dia menatap wanita yang duduk di sebelahnya dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
" Tangan ku dingin banget Sarah? Apa kamu masih merasa ketakutan?" Tanyanya dengan menatap ke arahnya.
" Tidak! Aku sekarang lega bisa bertemu denganmu tadi, andaikan aku tadi tidak bertemu aku tak tahu apa yang akan terjadi pada ku saat ini. Mungkin aku sudah mati di tangan mereka."
Mereka saling menyelami arti tersebut, mereka seakan merasakan getaran kecil yang tanpa mereka sadari dari tadi. Kedekatan mereka yang seperti tak ada jarak itu kini membuat mereka merasakan hembusan nafas yang tak beraturan.
Bryan merangkul pundak Sarah membawa kepala wanita itu bersandar di pundaknya, Sarah mengikuti apa yang dilakukan oleh laki laki itu dia tak menolak ataupun membantahnya. Dia memejamkan matanya merasakan kenyamanan yang tak pernah ia rasakan selama ini.
Memiliki sandaran yang siap memberikan rasa nyaman membuatnya merasakan aman rasa takut dan beban tadi seakan hilang begitu saja dari hatinya.
" Semuanya akan baik baik saja, selama ada aku tak akan ku biarkan seorang menyentuh mu ataupun melukaimu. Maaf sudah membuatmu takut…" Ujarnya dengan lembut dengan merangkul Sarah dengan memberikan kehangatan dan kenyamanan.
Sarah tak menjawabnya dia hanya diam dengan dia yang memejamkan matanya dia merasa semuanya sekarang baik baik saja, rasa takutnya kini hilang tergantikan rasa aman.
Sedangkan di markas kini semua orang merasa bahwa duka ini adalah duka untuk pertama kalinya mereka merasakan duka yang begitu mendalam ketika kehilangan orangnya saat ini. Semua orang menatap dengan rasa sedihnya mereka tak tahu harus menyampaikan seperti apa kepada keluarganya.
Baron adalah orang kepercayaan Zac yang bisa memberikan siapa tim tim yang akan turun langsung ketika mereka akan bertarung, biasanya Baron tak perlu turun sendiri dalam pertarungan tetapi malam ini menjadi malam yang paling naas untuknya dia yang turun melindungi mereka harus mengorbankan dirinya untuk melindungi bosnya.
" Bagaimana ini bisa terjadi?"
" Dia yang lari melindungimu ketika polisi itu ingin menembakmu?" Jawab seorang wanita yang masuk ke dalam markas dengan dia yang membuka topeng.
" Jadi dia melindungiku?" Suara Zac begitu menyesal ketika istri nya berkata dengan jujur.
Flashback On
Dari kejauhan para wanita wanita yang tadi mencari Sarah tanpa sengaja melihat pertengkaran antara orang orang nya dan juga para polisi, mereka juga melihat satu polisi yang menodongkan pistol dari kejauhan.
Dor!! Pelatuk telah dilepaskan oleh polisi itu, Baron yang berada di belakang segera berlari menuju kearah bosnya yang sudah berbalik tak melihat ada timpa panas yang ingin mengenainya.
Tap! Tap! Tap!
" Bos awas…" Teriak Nya membuat semua orang segera menoleh kebelakang.
Dor!! Timpah panas itu kini tepat mengenai dahi Baron hingga kepala belakangnya dan darah segar keluar mengenai wajah Zac yang tepat di belakangnya.
Tanpa sengaja Val juga menembak polisi itu untuk menghentikan aksi polisi itu tetapi semuanya terlambat polisi itu juga sudah membuat orangnya terluka tepat di kepalanya.
Kedua orang itu kini langsung mati di tempat mereka di tembak mati secara langsung oleh kedua orang yang berbeda.
Flashback Of
Semua yang ada di sana kini merasa sangat bersalah karena tak dapat melindungi orangnya, mereka yang meninggal juga di balas dengan satu polisi yang sama sama gugur di sana.
Bisa terlihat jelas bahwa ada rasa penyesalan dan rasa sedih dari wajah laki laki gondrong itu. Andaikan Baron tak melindungi dirinya mungkin saat ini yang terbaring lemah dengan wajah yang pucat adalah dirinya.
Entah dia harus senang atau sedih yang jelas sekarang Dio Della Morte sedang dalam keadaan berduka untuk pertama kalinya. Dalam sejarah mereka kehilangan anggotanya untuk pertama kalinya, dalam sejarah mereka merasakan duka kehilangan yang sangat mendalam.
Malam ini semua nya telah menjadi saksi di mana kedua kubu harus kehilangan orang yang begitu berarti. Kedua kubu saat ini sedang berada di fase buruk. Saat ini mereka memiliki dendam yang begitu membara di hati mereka saat ini.