Ex Husband Is Broken

Ex Husband Is Broken
Satu Bukti 1



" Jadilah kekasih ku?" Sebuah permintaan yang tulus dari Bryan kini membuat wanita itu tak mampu berkutik. Dia yang takut telinga nya salah mendengar kini hanya diam. " Kenapa diam? Apa kamu tak mau bersama ku?" Sambungnya dengan menatap kearah Sarah.


" Kamu tadi berkata apa? Aku takut telinga ku salah mendengarnya…" Katanya dengan berkata jujur. 


Bryan tersenyum dengan kembali mendaratkan ciuman manis di bibir wanita itu kembali, ciuman yang lembut membuat wanita itu kembali membeku di sana.


" Bryan aku bertanya bukan memintamu untuk menciumku lagi…" Protesnya ketika ciuman itu terlepas.


Bryan tersenyum dengan mengangguk perlahan. " Jadilah milikku tetaplah ada di sisi ku selamanya…" Bryan mengulangi permintaan yang tulus itu dan itu membuat hati Sarah berbunga.


Senyum dan wajah memerah nya kini tiba tiba hilang seketika ada perasaan cemas dan penuh kekhawatiran yang tiba tiba menyerang dirinya saat ini. 


" Bryan ini terlalu cepat!" Sarah langsung membalikan tubuhnya dia tak ingin menatap kearah laki laki itu.


Bryan yang sadar tentang hal itu kini langsung membalikan tubuh Sarah dengan pelan, mata mereka bertatapan kembali dengan arti yang hanya mereka yang tau.


" Apanya yang cepat Sarah? Cinta tak pernah memandang cepat atau lama…" Katanya lagi dengan menyakinkan wanita itu.


" Kita baru mengenal dan kita juga belum tahu sifat kita masing masing. Lagian keluargamu adalah keluarga terpandang sepertinya Bry sedangkan aku hanya wanita biasa yang memiliki seribu cerita yang akan membuat kalian malu, jadi sebaiknya buang jauh jauh perasaan itu…" Sarah dengan cepat menolak perasaan itu dia tak ingin merasakan kecewa dan luka yang mendalam.


" Apa kau mengenal keluarga ku? Tidak kan. Kenapa kamu malah sekarang berkata seperti ini, keluarga ku tidak mungkin menentang kita berdua mereka akan menyetujui selama aku bahagia…" Bryan menyakinkan Sarah agar dia mau menerima ini semua.


" Bryan aku tahu semua orang tua pasti menginginkan anak anak nya bahagia, tapi aku tak yakin jika keluargamu akan menerima ku dengan segala cerita buruk dari keluarga ku, jadi sebelum semuanya terlambat jangan membuat luka yang pasti akan terjadi."


Sarah kini langsung turun dari Bed nya dia langsung pergi meninggalkan Bryan dengan kata kata penolakan yang tak bisa dibalas dengan kata kata oleh Bryan. Laki laki itu sedikit terkejut mendengar penolakan yang dikatakan oleh Sarah padahal Bryan yakin bahwa Sarah juga merasakan hal yang sama dengannya.


Bryan menghela nafasnya dengan kasar dia segera turun dari Bed itu lalu meninggalkan kamar itu dengan rasa kecewa yang mendalam, dia tak menyangka bahwa semuanya tak sesuai rencananya.


Bruak!! Bryan yang masuk ke dalam kamar nya dengan membuka pintu dengan kasar rasa kecewa dan luka membuat emosinya sedikit naik ke kepalanya. Bryan segera masuk ke dalam kamar mandinya dengan segera mengguyur kepalanya yang terasa panas.


Bug!! Bug!! Bryan memukul dinding dengan kasar dia melampiaskan emosinya ke dinding yang tak tahu apa masalahnya, wajahnya menahan rasa marah dia kecewa atas penolakan yang dia dengar.


" Kenapa dia bisa berpikir sempit seperti itu? Apa dia pikir kami orang kaya hanya memikirkan harta tanpa memikirkan kebahagian kami…" Desisnya dengan rasa kesal nya.


Alasan yang diberikan oleh Sarah tampaknya tak bisa ia terima, alasan yang tak masuk kadang selalu tak bisa diterima oleh laki laki itu. Cinta dan hatinya saat ini seperti dibanting ke dasaran dan di injak.


" Jika dia tak mau kenapa tadi harus melakukan itu, jika tadi aku melakukannya-" Dia tak bisa meneruskan apa yang ingin dikatakan oleh dirinya sendiri, dia kecewa dengan semuanya.


Sarah yang tadi merasakan hati yang berbunga bunga ketika mendengar permintaan dan ungkapan itu merasa harus segera membuangnya dia tak ingin laki laki itu mengalami kesulitan apapun ketika rasa cinta di antara mereka tumbuh begitu saja di antara mereka. 


Sarah yang juga merendam dirinya di air, membiarkan air shower meneteskan air untuk menutupi air matanya yang berjatuhan begitu saja di pipinya. Dia sedih serta kecewa dengan dia yang tidak bisa membalas apa yang dia rasakan juga.


Cinta dan rasa kecewa ini menjadi satu menumpuk begitu berat di dada nya hingga dia begitu sesak di hatinya. 


" Aku tahu kamu pasti saat ini sedang kecewa dengan ku tapi aku lakukan ini sebelum semuanya terlambat Bry, aku harap kamu bisa mengerti tentang hal ini…" Lirih nya dengan sedih.


Tak dapat dipungkiri bahwa tak hanya satu orang yang terluka tapi dua orang yang saat ini merasakan cinta harus bergelut dengan rasa kecewa dan kesedihan atas penolakan yang tak ingin mereka dengar. Tapi sang wanita menolak nya dengan cukup tegas karena dia tak ingin keluarga sang laki laki menolak keberadaan dirinya.  


" Kenapa balas dendam ini harus membawa ku ke dalam pusaran cinta yang begitu menyakitkan bagi kami berdua, andaikan semuanya bisa aku cegah aku tak akan mungkin terjerumus ke dalam lingkaran balas dendam yang membuat rasa cinta ini tumbuh…" Katanya dengan nada sedihnya.


Dia tak tahu kenapa rencana nya yang ingin meminta pertolongan untuk melakukan balas dendam kepada orang yang membunuh adiknya malah sekarang dia yang terjebak dalam lingkaran cinta yang tak mungkin mereka raih saat ini. Sarah memejamkan matanya merasakan rasa sakit itu melewati hatinya begitu saja.


" Kau harus kuat Sarah apa yang kau lakukan sudah benar, apa yang kau katakan tadi sudah benar jadi jangan sesali apapun yang sudah kau katakan. Kau harus kuat! Kau di sini bukan karena cinta tapi karena ingin andil dalam balas dendam ini…" Sarah memberikan semangat untuk dirinya sendiri dia yang saat ini rapuh membutuhkan orang untuk menyemangati dirinya dan saat ini dia sendiri yang menyemangati dirinya sendiri.


Sedangkan di ruangan lain William dan Bryan kini duduk dengan saling berhadapan satu sama lain,William menangkap ada rasa yang berbeda dari wajah sepupunya tersebut.


" Kau ada masalah atau ada yang sedang kau pikirkan?" Tanyanya dengan langsung.


" Tidak!" Jawabnya dengan cepat.


" Lalu kenapa dengan wajah mu yang seperti memiliki beban itu?"


" Tidak ada, hanya saja aku sedang berpikir bagaimana cara menemukan seorang yang telah dikatakan bahwa orang itu adalah kunci dari semua ini…" Sebenarnya Bryan juga memikirkan hal itu tapi ada hal lain yang ia pikiran.


" Kau bisa mencarinya dengan namanya!"


" Jika aku tahu namanya mungkin saat ini aku sudah tak ada di sini."


" Baiklah sekarang katakan bagaimana kita bisa mencarinya?"


" Dia laki laki yang memiliki tato rusa di dada nya."