
Dor!!
" Auwhhh…" Suara teriakan yang begitu keras membuat semua orang yang ada di sana merinding.
Tembakan itu dilepas ketika Alex bukannya melepaskan sandera nya. Alex mengerang kesakitan ketika kakinya kini di tembak oleh para Sipir yang ada di sana. Angel dengan cepat lari menjauhkan dirinya dari Alex. Meskipun hatinya memiliki rasa kasihan tapi dia tetap menjauh.
" Dokter anda tak apa? Apa ada yang luka?" Sipir itu segera datang dengan panik bertanya kepada Dokter cantik yang saat ini telah di sandera oleh orang tahanannya.
Angel mengatur nafasnya yang memburu karena dirinya takut. " Aku tak apa! Hanya goresan kecil di leher ku.." Angel sempat merasakan ada goresan kecil yang ada di lehernya saat ini.
" Dokter ayo aku obati lukamu!"
" Tapi dia bagaimana?"
" Jangan pikirkan orang gila itu. Ayo pergi…" Rekannya dengan memaksa menarik Angel pergi dari sana. Matanya menatap ke arah Alex yang tergeletak menatap ke arahnya dengan mata yang berkaca.
Hatinya mungkin sedikit iba kepada laki laki itu tapi apa yang dilakukannya saat ini juga sangat keterlaluan.
Bug!!
" Kau selalu membuat ulah!" Kepala Sipir itu menendang perut Alex dengan keras membuat Alex hanya mengerang kesakitan saat ini.
" Auwh…" Alex berteriak dengan keras ketika kaki yang tertembak tadi kini malah diinjak oleh Kepala Sipir itu dengan sengaja. Alex menepuk lantai dengan keras karena dia begitu sangat kesakitan.
" Kau dengan beraninya menyandera seorang Dokter yang bekerja di sini heh! Kau sudah tak memiliki jabatan tapi nyali mu masih sangat besar rupanya."
" Saya hanya ingin menghubungi pengacara saya!" Katanya dengan menahan kesakitan.
" Aku tak peduli! Kau dengar itu…" Katanya dengan dingin.
" Suruh Dokter lain mengeluarkan peluru itu dari kakinya, jangan berikan obat bius kepadanya. Karena itu hukuman karena sudah berani bermain di sini…" Perintahnya dengan dia yang segera meninggalkan tempat ruangan tersebut.
Alex hanya bisa meneteskan air mata dengan dendam yang begitu membara, dia tak menyangka Kepala Sipir tadi berani memberikan tembakan kepada dirinya. Alex kini menatap ke arah pintu di mana Kepala Sipir itu keluar, kilatan kemarahan jelas di mata merahnya saat ini.
" Bangun! Kau sangat menyusahkan…" Kedua Sipir itu membantu Alex untuk berdiri dengan dibantu untuk berbaring di bed yang tak jauh dari sana.
" Dokter jika anda tak keberatan jangan berikan dia obat bius agar dia tak gimana rasanya di operasi kecil tanpa ada obat pereda nyeri."
" Iya kau benar agar dia tau rasanya hingga dia tak akan mampu untuk macam-macam lagi."
Satu dokter lagi kini membantu Alex untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di kakinya. Alex hanya menatap ke depan tak ada reaksi apapun meskipun kaki itu telah sedikit di bedah oleh Dokter untuk mengeluarkan peluru tersebut. Tatapan Alex hanya kosong dia tak merasakan sedikitpun rasa sakitnya, yang lebih sakit saat ini adalah hinaan yang selalu didapatkan olehnya, bahkan seperti dia tak dihargai sedikitpun saat ini.
Dendamnya semakin besar tekadnya juga besar dia akan melakukan berbagai cara untuk kabur saat ini. Otaknya akan berpikir keras untuk kabur dari sini.
Sedangkan Angel juga terdiam ketika temannya mengobati luka yang ada di lehernya karena goresan pisau kecil yang ada di lehernya tadi.
" Orang itu benar-benar gila, untung saja lukanya hanya kecil bagaimana jika besar ini luka…" Ocehnya panjang lebar tentang kondisi yang tadi menegangkan semua orang.
" Tapi tak seharusnya dia mengancam dirimu seperti ini. Jika lehermu terluka parah gimana?"
Angel menghela nafasnya dengan kasar menatap temannya itu. " Bagaimana mereka tahu jika aku dan kamu di sana? Seingat ku para Sipir jarang masuk ke ruangan medis."
" Aku yang tadi menghubungi Kepala Sipir mengatakan bahwa kamu sedang diancam oleh tahanannya. Dan mereka segera merespon pesan singkat itu hingga mereka dengan cepat datang ke sana…" Susan yang memang sengaja menghubungi kepala Sipir agar semuanya cepat ditangani oleh mereka. Dia tak ingin rekannya juga terluka.
" Sudah jangan pikirkan orang itu, aku yakin saat ini sudah ada yang mengobatinya. Harusnya kau membencinya bukannya malah memikirkan orang itu…" Susan yang sudah selesai dengan mengobati leher dari Angel kini mengomentari karena dia tau apa yang saat ini sedang dipikirkan oleh temannya itu.
Angel tak menjawab apapun dia turun dari bed nya dengan cepat, dia berjalan menuju ketempat dimana dia bisa menemukan Alex saat ini. Dia ingin melihat apa yang terjadi setelah dia pergi tadi.
" Apa dia sudah ditangani oleh seorang Dokter?" Angel bertanya kepada beberapa Sipir yang berjaga di luar kamar tersebut.
" Ada seorang Dokter di dalam."
Angel dengan langkah cepatnya menuju kamar yang tertutup rapat serta banyaknya para penjaga bersenjata lengkap di sana.
Ceklek!!
Suara pintu yang sedikit di buka paksa membuat beberapa penjaga yang ada di dalam melihat ke arah pintu tersebut. Tetapi tidak dengan Alex yang hanya menatap ke depan dia sama sekali tak peduli dengan siapa yang masuk.
" Dokter Angel untuk apa kau datang kemari?" Rekannya segera bertanya ketika melihat siapa yang masuk. Alex yang mendengar nama itu juga dengan segera menatap ke arah samping.
Alex dan Angel kini saling bertatapan dengan pandangan yang sama. Mata Alex seakan memancarkan kata maaf sebaliknya dengan Angel yang seakan juga meminta maaf kepada dirinya.
" Aku hanya ingin melihat apa yang terjadi setelah aku pergi tadi. Apa dia akan mendapatkan hukuman tambahan karena sudah mengancam ku tadi?" Elaknya dengan dingin. Sebenarnya Angel ingin melihat bagaimana kondisi laki laki itu.
Semuanya juga karena salahnya hanya saja saat ini yang disalahkan penuh adalah Alex. Jika saja tadi dia mengatakan untuk membantunya mungkin ini tak akan pernah terjadi.
" Tentu dia akan mendapatkan hukuman Dokter karena dia dengan sengaja mengancam anda."
" Saat ini pun dia juga sudah diberi hukuman, saya mengeluarkan peluru dari kakinya tanpa menggunakan obat nyeri…" Timpal rekannya yang saat ini fokus dengan kaki Alex.
Angel melotot dia lari dengan cepat dengan kasar menarik tangan rekannya membuat semua orang yang ada di sana terkejut bukan main.
" Apa yang-"
" Kau gila hah? Bagaimana bisa kau mengoperasi seorang pasien tanpa obat bius?" Angel langsung meninggikan suaranya.
" Dia pantas diperlakukan seperti itu Dokter Angel. Apa kau lupa dia yang membuat lehermu terluka…" Rekannya malah tak terima jika Angel malah memarahinya.
" Apa di sumpah kita menjadi seorang Dokter mengatakan bahwa kita tidak akan berbuat adil kepada orang penjahat sepertinya? Apa di sumpah kita juga tertulis bahwa kita harus mengoperasi penjahat tanpa menggunakan obat bius?"
Bersambung besok lagi ya 😍