Ex Husband Is Broken

Ex Husband Is Broken
Hancur Berantakan 2



" Bagaimana bisa terbakar?" Dia juga tak menyangka akan mendengar kabar yang begitu pahit bagi dirinya.


" Saya tidak tau Tuan! Saya mendengar kabar dari orang-orang kita yang berada di sana. Bahwa kabin itu tadi tiba-tiba meledak dan membuat kepulan asap langsung menghitam. Mereka yang ingin menyelamatkan barang-barang kita pun tak ada yang berani masuk karena ledakan terdengar beberapa kali dari dalam…" Orang berkulit hitam itu menjelaskan apa yang dilaporkan mereka yang berjaga di kabin tersebut.


" Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?" Aaron merasakan sesak pada dada nya sebelah kanan. Jantungnya terasa memompa begitu cepat. 


Apa yang dia dengar hari ini membuat jantungnya seakan terpacu cepat, darahnya langsung naik ke atas kepalanya yang membuat dirinya begitu pusing berkunang-kunang.


" Bos anda tak apa?" Erik sadar bahwa saat ini jantung bosnya sedang tak baik. 


Erik dan orang itu langsung menopang badan bosnya yang hampir kehilangan keseimbangan. Aaron yang tadi hampir jatuh kini langsung ditangkap mereka.


" Aku tak apa! Aku hanya terkejut dan ini begitu mendadak…" Katanya dengan terputus-putus. 


Erik akhirnya membopong Aaron untuk masuk kedalam kamarnya merebahkan bosnya segera ke atas ranjangnya. 


" Tuan Aaron sebaiknya anda istirahat dulu, jangan pikirkan hal ini. Biarkan kami yang melihat ke sana."


" Berapa butir yang terbakar?" Aaron masih memegang dadanya dengan  dia yang memejamkan matanya.


" Jutaan butir Tuan!" Erik menunduk.


" Tak ada sisa satu peti pun di sini?" 


" Maafkan kami Tuan tapi semuanya sudah kami pindahkan ke sana semalam."


Bug!! Tangannya mengepal memukul kasurnya dengan kesal. Semua orang yang ada di sana hanya bisa diam ketika bosnya saat ini sedang marah.


" Barang yang kita pesan juga ada di sana?" 


" Tidak Bos! Barang yang kita pesan masih ada di sini…" Setidaknya mereka sedikit lega karena barang pesanan satu peti mereka masih ada disana.


Drt!! Drt!! Drt!!


Getaran ponsel milik dari Erik kini bergetar membuatnya segera melihat siapa yang menghubunginya. Nama seorang anggotanya yang telah menghubunginya.


" Aku sudah tau bahwa kabin itu terbakar!" Erik langsung berkata dengan dia yang sedikit mundur.


" Tuan Erik ini tambah gawat!"


Deg!!


Nada dari orang seberang sana kini membuat jantungnya terasa ingin keluar begitu saja. 


" Ada apa?" Bisiknya dengan perlahan.


Dia yang memelankan suaranya agar bosnya tak mendengar apa yang terjadi lagi. 


" Tuan Erik kami dikepung oleh beberapa FBI, kamu tak tau kenapa mereka datang secara tiba-tiba. Yang jelas saat ini kami sedang bersembunyi."


Deg!! Deg!! Deg!!


Jantungnya berdetak cepat ketika mendengar nama FBI yang saat ini sedang mengepung orang-orangnya.


" Bagaimana  bisa?" 


" Tuan tolong kirimkan beberapa orang untuk menolong kami."


Dor!!


Erik sangat cemas bahkan dia memutar otak ya untuk menolong mereka tapi dia tak bisa berbuat apa apa selain diam di tempat.


" Erik ada apa? Siapa yang menghubungimu? Kenapa wajahmu langsung pucat seperti itu?" Aaron yang dari tadi memperhatikan asistennya kini langsung bertanya ketika sang asisten hanya terpaku di tempat.


" Tidak ada Tuan! Hanya mereka yang mengabari tentang kabin kita yang terbakar saat ini…" Elaknya, Erik sepertinya saat ini sedang tak ingin berkata jujur tentang apa yang dikatakan oleh orang nya dia menyembunyikan tentang FBI yang sedang memburu mereka.


" Kau katakan kepada mereka untuk segera memadamkan api agar tak ada yang datang kesana, jika ada yang melapor kepada para polisi kita bisa dalam bahaya."


" Saya sudah katakan…" Dia gugup bukan main. " Sebaiknya kita keluar agar anda bisa istirahat."


Aaron mengangguk membuat mereka segera pergi dari kamar tersebut dengan cepat. Sedangkan Erik juga tak tau apa yang saat ini sedang terjadi.


" Para FBI tiba-tiba mengepung tempat kita yang terbakar, orang-orang kita dalam bahaya."


Erik langsung berkata setelah mereka berdua masuk ke dalam kamar Erik yang kebetulan kamar dia begitu dekat dengan kamar bosnya. 


" Bagaimana bisa?"


" Bisa saja karena kepulan itu membuat mereka mencurigai sesuatu dan kecurigaan mereka mungkin tak membuahkan hasil karena tak ada bukti tapi orang-orang kita dalam masalah…" Erik mengusap wajahnya dengan kasar dia frustasi karena dia juga bingung harus berbuat apa saat ini.


" Apa perlu kita datang kesana Tuan?"


Erik langsung menoleh ke arah orang nya itu dengan tatapan tajam. " Kau gila? Kau mau cari mati datang ke sana heh? Sama saja kau menyerahkan dirimu untuk di tangkap para FBI itu."


" Tapi jika kita hanya di sini akan membuat kita seperti pengecut yang tak bisa menolong rekan kita yang sedang kesulitan saat ini…" Erik terdiam dia juga tak tega tapi dia juga tak ingin tertangkap sia-sia dan berakhir di penjara yang dingin serta mengerikan.


" Lebih baik saya jadi pengecut dibanding saya datang kesana menyerahkan nyawa untuk mereka tangkap…" Desis nya dengan tegas.


" Aku tak menyangka memiliki rekan yang egois yang hanya mementingkan diri nya sendiri tanpa memikirkan rekannya…" Orang itu menyindir dengan kata yang cukup pedas yang membuat Erik langsung menatapnya dengan gak suka.


Orang itu kini dengan cepat dia meninggalkan Erik yang menatap dirinya dengan tajam. Bahkan orang itu kini keras menutup pintu kamar dari Erik yang membuat Erin hanya diam. Dia tau dia memang tak seharusnya seperti ini tapi apa boleh buat dia juga harus memikirkan dirinya sebelum memikirkan orang lain.


Egois? 


Iya dia memang egois yang tidak memikirkan orang-orangnya yang saat ini tengah bertarung untuk menyelamatkan dirinya.


Jahat? 


Iya dia memang jahat dia tak peduli orang lain mau berpikir apa yang jelas saat ini Erik tak ingin masuk ke dalam penjara dan di hajar konyol di dalam sana. Dia mencoba menutup mata dan telinga agar dia bisa pura-pura tak tau jika pihak FBI sedang mengejar orang-orangnya yang berada di hutan. 


Sedangkan di hutan para FBI tengah sibuk mengejar orang-orang yang melarikan diri, suara tembak terdengar berulang kali tapi tak membuat orang itu untuk menyerahkan dirinya saat ini. Mereka menyelamatkan diri dengan bersembunyi di balik pohon pohon besar.


" Hei…" Salah satu dari mereka yang segera menarik tangan orang yang ingin bersembunyi.


" Kau juga bersembunyi? Dimana yang lain?" Orang itu mengatur nafasnya dengan cepat. " Kau sendiri?"


" Iya aku sendiri mereka masih mencari yang lain…" Jawabnya dengan dingin.


" Kau bawa senjata? Kenapa tak kau tembak mereka tadi?" Orang itu melihat temannya membawa senjata pistol di tangannya.


" Iya aku membawanya. Dari tadi aku membawanya sudah banyak aku tembak tapi masih banyak yang masih hidup rupanya dan itu sangat berbahaya."


" Kau benar-"


Dor!!


Satu tembakan itu kini terdengar lagi begitu berulang kali membuat malam ini begitu mencekam.