
" Jangan sentuh adikku! Aku yang akan mengakui kesalahan adikku! Aku akan menerima hukuman apapun asal jangan pernah menyentuh adikku!" Katanya dengan terbata bata.
Bryan tertawa mendengar permohonan itu tapi bukan anak dari Zac jika dia memiliki belas kasihan. " Jangan meminta ampunan untuk adikmu! Kau harusnya memikirkan nasibmu yang sebentar lagi akan tersiksa seperti di neraka."
" Aku siap menerima siksa seperti apapun asal bebaskan adikku, biarkan dia pergi dari sini. Tukar dengan nyawa ku jangan kau ambil nyawa adikku…" Alexander begitu menyayangi adikknya hingga dia masih saja memikirkan adiknya meskipun saat ini mereka tengah berada di keadaan yang paling menyulitkan.
Bryan tertawa di sana dia menginjak dada Alex dengan dia memelintir kakinya hingga dia meringis kesakitan merasakan dada nya yang sakit. " Tak perlu kau repot repot memohon kepadaku untuk menukar nyawa adikmu dengan nyawamu, karena nyawamu akan aku ambil juga."
" Lebih baik kau bunuh aku di banding aku harus menahan rasa sakit dan melihat adikku tersiksa seperti ini, bunuh kami berdua…" Lagi lagi dia memohon agar semuanya lebih cepat dan mudah.
Dia ingin mengakhiri ini semua sebelum semuanya semakin terasa seperti di neraka. " Kau mudah sekali menyerah Sir Alexander aku ingin kita bersenang senang sedikit dengan kalian, berbulan bulan aku mencari pelakunya dan kali ini setelah aku menemukan pelakunya ingin aku bunuh? Tentu saja tidak, aku ingin bermain sedikit dengan kalian."
Bryan tak ingin menyudahi nyawa mereka tapi dia masih ingin bermain main di sana, dia masih ingin menyiksa kedua saudara ini. Karena ulah mereka dia harus kehilangan Baron salah satu kepercayaan mereka.
" Jika kau tak membunuh kami berdua saat ini, ku pastikan kalian akan menyesal telah membiarkan kami hidup. Karena aku akan mengingat setiap perbuatan kalian berdua dan akan membalas setiap darah yang aku keluarkan."
Bugh!! Bryan kini menendang mulut dari Alexander dia tak suka karena setiap ucapannya selalu penuh dengan ancaman. Alex lagi lagi mengeluarkan darah dari mulutnya.
" Kau ini hanya bisa banyak bicara, sebaiknya kau terima saja nasibmu yang hancur di sini. Kau dan adikmu nanti pasti akan bertemu kembali di dunia yang berbeda tapi tidak sekarang, nyawa kalian masih sangat sayang jika harus aku bunuh."
" Bunuh aku bunuh aku!" Alex berteriak tapi itu tak membuat Bryan ingin menyudahi nyawa nya. Dia malah tertawa begitu keras.
" Kau mudah menyerah Sir! Dan sepertinya permainan ini tak seru karena yang satunya sudah pingsan! Baiklah kita sudahi dan sampai bertemu lain hari lagi…" Bryan segera melangkah meninggalkan Alex yang saat ini juga langsung di cekal oleh para Sipir.
" Tidak jangan bawah adikku! Jangan bawah dia! Nic buka matamu! Nic…" Dia berteriak kencang ketika dia melihat dengan jelas bahwa adiknya di seret oleh mereka. Bahkan kepalanya yang saat ini diseret oleh salah satu orang itu.
Alex tak bisa berbuat apa apa selain hanya meneteskan air matanya melihat adiknya dan dirinya terpisah dengan cara mengenaskan seperti ini. Dia melihat dengan kedua matanya bahwa adiknya pasti tersiksa sama dengannya. Tapi dia tak bisa melindung adiknya lagi dia sadar bahwa saat ini lawannya bukan orang sembarangan yang mudah ia lawan.
Nicolas masih belum sadarkan diri dia masih pingsan selain dia pingsan karena luka di kepalanya dia juga pingsan karena obat bius yang tadi sengaja di suntikan kepada tubuhnya. Dia hanya memejamkan matanya dengan dia yang terkulai lemas tak berdaya di bawah kuasa mereka yang saat berkuasa.
Sedangkan Alexander kini di bawah kembali ke dalam penjara dengan dia yang juga sama sama tak sadarkan diri. Dia pingsan karena sesak di dadanya, darah terus bercucuran dari ujung bibirnya saat ini. Meskipun dia pingsan tapi pikiran dan hatinya tak tenang memikirkan nasib adiknya yang saat ini berada di tangan orang orang itu.
" Sepertinya ada tamu yang sengaja kabur melihat kita tadi!" Abhi yang kini berbicara setelah mereka berada di dalam mobil.
" Tamu?" Andre kini mengulangi kata kata temannya.
" Hmm.. Mobil Van hitam yang terparkir di sana milik dari seorang kelompok."
" Cosa Nostra."
" APA?, Kau mengatakan apa?"
" Apa aku tak salah mendengar nama itu?" Kedua orang yang ada di sana merasa tak percaya dengan nama yang disebutkan oleh Abhi.
" Tentu saja aku tak salah! Mobil mereka memiliki simbol dan aku yakin itu simbol dari Cosa Nostra."
" Siapa Cosa Nostra Paman?" Timpal Bryan yang merasa penasaran karena dia baru kali ini mendengar nama itu.
" Kelompok Mafia! Mereka lama tak ada kabar karena pimpinan mereka tertangkap oleh polisi, sejak pimpinan mereka tertangkap nama itu tenggelam. Mungkin sekarang pimpinan mereka adalah generasi dari mereka tapi entahlah aku juga tak tau. Karena aku lama tak mendengar nama itu."
" Apa laki laki brengse* ini meminta bantuan kepada mereka?" Abhi dan Kris mengangkat bahunya karena mereka sama sama tak tahu.
" Nanti kita akan bahas dengan Singa, sepertinya kita harus tahu kenapa mobil mereka berada di sana."
" Jika mereka memang ingin membantu Bajinga* ini maka sebaiknya kita harus temui mereka dan memberi peringatan kepada mereka agar tak ikut campur urusan kita."
" Memangnya kenapa dengan nama itu? Apa mereka perlu kita bahas dengan Daddy?"
" Kamu masih kecil waktu itu Son, jadi kau tak akan tau dunia mafia yang bernama Cosa Nostra itu seperti apa. Mungkin mereka tak berjaya lagi sekarang, jika dibanding dengan nama kita mungkin mereka sekarang tak ada apa apa nya, tapi jika orang orang itu ingin membantu Nicolas ataupun Alex sepertinya kita harus segera memberi peringatan kepada mereka agar tak ada perang di antara kedua mafia."
Semua orang terdiam dengan memikirkan apa yang dikatakan Abhi ada benarnya, jika perang kedua mafia ini dapat dipastikan akan ada banyak orang orang yang terbunuh sia sia.
Sedangkan Singa kini hanya tersenyum mendengar kabar bahwa mereka berhasil membawa orang yang mereka cari selama ini. Balas dendam ini akan segera terwujud dan akan segera selesai.
" Sekarang mereka menuju tempat kita bos!" Seorang yang melapor tadi melanjutkan perkataannya.
" Hmm.. bawah Sarah aku ingin laki laki itu tak bisa mengelak ketika kita mendesak nya untuk mengakui dia yang membunuh kedua orang tersebut."
" Baik bos!" Orang itu kini segera pergi meninggalkan Zac yang sudah duduk dengan tenang menunggu kedatangan orang yang di bawah oleh putranya.
Bagus Son kau sudah tunjukan kau mampu menggantikan posisi Daddy mu yang sudah tua. Batinnya dengan tersenyum sinis.
Kejutan malam ini yang seharusnya membawa mereka kabur kini malah menjadi kejutan yang mengerikan bagi kedua saudara tersebut. Mereka kini harus menyerah dan mengakuinya, tapi hukum rimba masih berlaku, Nyawa akan dibalas dengan Nyawa.