Ex Husband Is Broken

Ex Husband Is Broken
Bertemu 3



Malam ini malam yang akan terasa panjang dimana Nicolas yang setengah sadar melihat sekelilingnya, dia masih tak menyangka bahwa dirinya saat ini masih berada di tempat penyekapan tersebut. Semua orang yang ada di sana memang sengaja membuat laki laki itu sadar agar dia tak mati begitu saja.


" Kau sudah sadar? Ku kira kau sudah mati!" Bariton sinis dan kejam kini langsung didengar oleh laki laki yang terduduk di kursi dengan diikat.


Mata Nicolas menatap tajam dia bisa mendengarnya tapi dia tak bisa melihat siapa sosok yang bicara karena tak ada penerangan sama sekali.


" Kamu siapa sebenarnya? Untuk apa kau menyekapku?" Dia berontak berteriak.


Orang itu tertawa keras mendengar apa yang dikatakan oleh Nicolas. " Kau tak akan mungkin mengenal ku tapi aku yakin kau masih ingat betul siapa wanita yang kau bunuh, Amel…" Jawabnya dengan tenang.


" Amel?" Nicolas mengulangi kata-kata itu. Otak nya mengingat dimana kejadian dulu yang membuat sosok adik dari wanita yang dikenal telah pergi untuk selamanya.


" Aku tak melakukan apapun kepadanya, aku hanya-" Elaknya dengan cepat. Tapi dia juga tak bisa melanjutkan kata-katanya.


" Hanya menculiknya lalu membunuhnya! Kau bahkan mengenal kakak wanita itu. Kau membunuhnya dan kau membunuhnya…" Orang itu berkata dengan menekan kata-katanya.


" Siapa dirimu? Kenapa kau melakukan ini, apa kau kekasih dari Amel atau kau orang yang disuruh balas dendam kepadaku?" 


" Tak penting siapa aku bagimu! Yang harus kau tahu aku adalah dewa kematian mu yang akan mengambil nyawamu…" Tawanya begitu keras.


" Kakak ku dan Kakek ku pasti akan menemukan ku dan mereka akan membunuhmu! Aku yakin mereka pasti mencari ku!" Nicolas tak kalah berteriak dia yakin kedua orang itu saat ini pasti tengah mencarinya.


" Kakakmu, Kakekmu!" Laki laki itu tertawa membuat Nicolas tambah bingung. " Nicolas aku tak akan memberi harapan palsu untukmu, dengarkan aku baik-baik. Kakakmu tersayang Alexander saat ini berada di dalam penjara karena kasusnya sedangkan Kakekmu Aaron berada di bawah tanganku."


" Apa yang kau katakan?" Nicolas gugup bukan main dia tak yakin bahwa apa yang dikatakan oleh orang itu adalah benar.


" Kau tak percaya dengan apa yang aku katakan? Baiklah Nic karena aku sedang berbaik hati maka aku akan tunjukan apa yang aku katakan adalah kebenarannya."


Layar besar tiba-tiba menyala begitu saja memperlihatkan semua kegiatan yang dilakukan oleh Alex berada di dalam penjara, siksaan dari orang orang yang ada di sana kini terlihat jelas di layar itu membuat Nicolas sang adik merasa merinding melihat itu semua.


Sedangkan Aaron juga ada disana memperlihat laki laki tua itu bertemu dengan seorang yang wajahnya sudah di tutupi oleh mereka. Tubuh Nicolas tambah lemas tubuhnya bergetar hebat dia tak menyangka kedua orang yang seharusnya mencari dirinya malah terjebak di sana.


" Apa yang kau lakukan kepada mereka hah?" Nicolas masih bisa berteriak keras dia berontak membuat suara kursi itu terdengar di dalam ruangan itu.


" Ssstttt… jangan berteriak kau membuat telinga ku sakit!" 


Nicolas menahan emosinya, dadanya naik turun dengan kencang. " Alex berada di sana karena aku yang menjebak nya agar dia dihukum."


Nicolas diam dia mengingat kejadian yang dulu kenapa kakaknya bisa masuk kedalam penjara. " Kau diam? Kau terkejut? Tunggu sebentar jangan terkejut jika mendengar ini. Kau akan tambah terkejut mendengar apa yang aku katakan sebentar lagi." 


" Kakek mu Aaron menyewa pengacara untuk membela kakakmu! Tapi sayangnya pengacara itu adalah orang yang sudah berada di bawah naungan kami bertahun-tahun, dan bodohnya Aaron percaya dengan apa yang dikatakan olehnya. Dia memberikan kepercayaan penuh…" Orang itu tertawa keras, dapat dipastikan bahwa saat ini wajah Nicolas begitu terkejut. " Dan yang harus kau tahu juga kakek mu juga menyewa orang untuk mencarimu tapi kau harus tahu, orang yang disuruh kakekmu juga orang-orang kami."


" Bajinga* licik. Kau sungguh licik…" Teriaknya dengan keras. 


Orang itu hanya tertawa keras di sana, dapat dipastikan bahwa Nicolas tengah menahan amarahnya saat ini. " Aku akan menghancurkan kalian semua."


" Perlihatkan wajahmu aku akan selalu mengingat wajahmu meskipun nanti aku mati disini…" Nicolas begitu marah dia tak bisa mengontrol emosinya saat ini. Dia yang berpikir bahwa keluarganya tengah di permainkan oleh orang-orang itu.


Tap! Tap! Tap!


Langkah kaki itu membuat suasana malam itu semakin tegang, ruangan yang tak ada cahaya sedikitpun membuat suasana tambah mencekam. Langkah sepatu itu semakin dekat membuat jantung dari Nicolas semakin tak karuan dibuatnya. 


Tap!! 


Langkah kaki itu kini berdiri di depan Nicolas tapi Nicolas masih tak bisa melihat ke arah nya karena gelap tak ada penerangan sama sekali. Hanya terdengar suara korek api yang ada di sana.


Orang itu mejukan korek api hingga terlihat wajah kedua laki laki yang saling menatap dengan pandangan yang saling mematikan. 


" Siapa dirimu?" Tanyanya dengan suara yang bergetar.


" Aku adalah dewa kematian kenapa kau masih terus bertanya…" Orang itu memperlihatkan satu obat kecil di tangannya. " Kau lihat obat ini?" 


Nicolas menatapnya tapi dia tak tahu obat apa itu. " Ini adalah obat yang diproduksi oleh kakekmu Aaron dan dia yang bodoh telah menawarkan ini kepada kami. Dan kau tahu efeknya apa? Tapi aku tak masalah karena efek ini yang jelas aku ingin mengujinya dengan kamu yang memakai obat itu…" Senyumnya licik.


" Apa yang kau katakan?"  


" Aku hanya ingin kau yang memakainya, jadi obat ini ditawarkan oleh kakekmu lalu kau yang memakainya agar dia tahu bahwa kau meninggal karena obat yang diproduksi oleh mereka sendiri."


" Tidak jangan lakukan! Jangan lakukan!" Sekarang Nicolas tahu tentang obat itu, dia pernah mendengar tentang obat kecil yang bahaya itu tapi dia tak pernah mencobanya.


" Kau takut? Padahal kami belum tahu seperti apa efeknya…" Laki laki itu menatap Nicolas yang wajahnya ketakutan. " Atau kau sebenarnya tahu obat ini? Ah.. kau juga tau efeknya bukan?" 


" Tidak! Aku tidak tau apapun! Aku tidak tau semuanya!" Elaknya dengan cepat dan menggeleng.


" Benarkah? Jika begitu kita lihat sama-sama efek dari obat ini…" Langkah laki laki itu maju dengan senyum yang licik.


Sedangkan Nicolas menggeleng dengan dia yang berteriak tidak mau. Kakinya berjalan mundur membuat kursi itu juga ikut mundur tapi sayangnya kursi yang diikat tak akan mungkin bisa berjalan cepat.


" Hmmm….." Nicolas menutup rapat-rapat mulutnya ketika dia telah tertangkap oleh orang-orang itu.


Tangan kekarnya telah mencengkram rahangnya dengan kuat. Nicolas menggeleng dia tak ingin meminum obat itu dia tak ingin mendapatkan efek samping yang seperti dia dengar waktu itu.


" Tidak! Hm…" Dia menggeleng tapi kekuatan cengkraman yang keras membuat dirinya terpaksa membuka mulutnya hingga dua obat kecil itu berhasil masuk dengan paksa.


Sedangkan yang satu orang lagi kini memberikan minum dengan paksa juga agar obat itu tertelan begitu saja. Nicolas terbatuk ketika semuanya terjadi dengan paksa.


" Uhuk.. uhuk.. uhuk…" Nicolas mencoba untuk memuntahkannya tapi obat itu tak bisa keluar dari mulutnya, obat itu masuk ke tubuh Nicolas begitu saja.


" Dasar bajinga* aku bersumpah akan membunuh kalian semua…" Nicolas berteriak kencang ketika melihat semua orang yang ada di sana keluar dari ruangan tersebut dengan tawa yang begitu menggema di ruangan gelap itu.