
Tok!! Tok!! Tok!!
Ceklek!!
" Saya ingin bertemu dengan bos anda!"
" Ada keperluan apa?"
" Katakan saja bahwa saya komandan dari kepolisian ingin bertemu dengannya…" Ucapnya dengan garang.
Prok! Prok!!
" Selamat siang komandan suatu kehormatan anda bisa datang kemari menemui saya…" Suara tegas dengan senyum tipis itu membuat semua orang yang berdiri di sana langsung menatap ke arah orang yang berada di dalam rumahnya.
" Saya tidak perlu basa basi, anda jelas sudah tahu untuk apa saya datang kemari. Serahkan putra dan teman nya…" Komandan itu kini langsung mengatakan tujuannya datang kesana.
" Putra?" Laki laki gondrong itu berjalan menemui beberapa polisi yang berada di depan pintu rumahnya.
" Hubby bukankah putra kita hanya satu Bryan Kozan dan saat ini dia sedang ditahan, atau jangan jangan kamu memiliki seorang putra dari wanita lain?" Val yang juga berada di sana kini memerankan sandiwaranya cukup apik.
" Sayang kau yakin menuduhku seperti itu? Apa kamu tak merasakan jantungku yang selalu berdebar dan cinta ini selalu tumbuh setiap hari hanya untukmu!" Zac dan Val kini malah bersikap romantis dia tak peduli dengan beberapa polisi yang sedang menatap kearah mereka.
" Kau selalu membuatku tersanjung dan seakan aku adalah wanita yang paling berharga saat ini…" Val kini memeluk lengan Zac sedangkan Zac mendaratkan ciuman di ujung kepalanya.
Ehem.. ehem..
Zac dan Val kini menatap kearah suara itu dengan rasa yang memang tak ada malu, dia juga merasa tak peduli jika banyak yang melihat keromantisan mereka.
" Bisakah kalian bekerja sama dengan kami? Kami datang kemari mencari putra anda yang kabur semalam!"
" APA?" Val menutup mulutnya saking terkejutnya.
" Anda mengatakan apa?"
" Putra anda Bryan Kozan telah kabur bersama Antoni serta teman Chan!"
" Astaga hubby putra kita!" Val memeluk Zac dia bersandiwara menangis penuh haru saat ini. Mereka kini harus memainkan perannya cukup pintar untuk mengelabui semua para polisi ini.
" Sayang tenang dulu!" Zac mengelus rambut istrinya. " Saya tak tahu jika putra saya dan kedua temannya telah kabur dari sana, jika dia memang kabur dia akan pulang tapi nyatanya mereka tak ada disini."
Komandan itu menatap tajam kearah Zac dia yakin bahwa ini semua hanya sandiwara yang mereka perankan dan mereka berusaha untuk menyembunyikannya.
" Saya tidak percaya jika putra anda tak datang kepada anda atau setidaknya menghubungi anda…" Tuduh nya dengan tepat.
" Terserah jika anda tidak percaya."
" Saya akan mencobanya mencarinya di rumah anda."
" Tunjukan surat perintah anda jika ingin menggeledah rumah saya."
Komandan itu hanya diam dia memang melupakan surat surat penting yang mungkin akan menjadi pertanyaan dan benar surat penggeledahan pun tak ada, satu berkas pun tidak mereka bahwa.
" Saya tidak butuh surat untuk masuk kerumah anda,ini adalah perintah langsung dari komandan Kenzo yang bertugas…" Ucapnya dengan tegas.
Zac kini tertawa dia tertawa penuh mengejek bahkan dia tetap memeluk sang istri yang saat ini sedikit tersenyum tipis di bibirnya. Tak ada yang tahu saat ini dia sedang bermain sandiwara dengan rasa sedihnya.
Komandan itu kini menatap tajam ke arah Zac dia tahu laki laki yang ada di depannya kini akan sangat melarangnya untuk masuk ke dalam rumah untuk menggeledak nya.
" Jangan halangi kami untuk mencari seorang penjahat di sini, anda bisa kami tahan karena menghalang halangi kami…" Ancamnya dengan tegas.
Val melepaskan dekapan lengan suaminya dia juga menatap para polisi yang saat ini sedang beradu sengit.
" Silahkan tahan saya!" Zac menyodorkan kedua tangannya untuk diborgol mereka. Mereka semua hanya saling bertatapan dengan bingung. " Ayo borgol tangan saya?" Tantangnya lagi.
" Kenapa kalian hanya diam? Ayo borgol!" Katanya dengan nada tinggi nya.
***
" Saya kesini untuk mencari putra anda yang bernama Antoni."
" Antoni? Bukan anda menahan putra saya, sekarang anda datang kemari untuk menanyakan putra saya, apa anda sadar?" Maria seorang ibu yang berhadapan langsung dengan beberapa polisi yang berada di depan pintu nya.
" Jangan pura pura tidak tahu nyonya, saya rasa anda sudah tahu bahwa putra anda telah kabur dan saya yakin putra anda datang kemari!"
" Ha? Kabur? Astaga!" Maria kini harus memainkan sandiwaranya dia juga harus pandai memainkan perannya saat ini.
" Jangan pura pura anda tidak mengetahuinya nyonya, saya rasa anda hanya bersandiwara. Sekarang katakan dimana putra anda?" Ucapnya dengan sinis.
" Bahkan saya terkejut mendengar apa yang kalian katakan sekarang anda mengatakan bahwa saya bersandiwara?" Maria tersenyum sinis menanggapi apa yang dikatakan oleh polisi tersebut.
" Periksa rumah ini!" Perintahnya.
" Saya tidak mengizinkan kalian masuk kerumah saya…" Tegasnya Maria.
" Saya tidak peduli anda mengizinkan kami atau tidak, yang jelas kami akan tetap memeriksa tempat ini…" Jawabnya dengan bernada tinggi.
Beberapa orang polisi yang ada di sana kinu maju untuk masuk ke rumah Maria tapi Maria kini menghalanginya. Maria dengan beberapa kali berdebat dengan mereka kini memancing kericuhan.
" Auwh…" Maria yang tanpa sengaja didorong oleh asisten polisi itu limbung ke belakang membuatnya hampir jatuh ke belakang dan Andre sang suami yang segera menangkapnya membuatnya tak mendarat di lantai.
" Sayang kau tak apa?" Tanyanya dengan panik. Maria hanya tersenyum.
Andre kini membenarkan berdiri istrinya dengan betul dan dia maju untuk berhadapan langsung dengan polisi yang tadi dengan berani mendorong wanita yang dicintainya.
" Kalain sadar membuat keributan dirumah siapa hah?" Bentaknya dengan langsung.
" Saya tidak peduli ini rumah siapa, yang saya pedulikan adalah kami akan masuk ke dalam untuk mencari orang yang harus kami bahwa sekarang juga…" Asisten polisi itu kini dengan berani menantang Andre seorang pimpinan perampok yang paling ditakuti.
" Jika saya tak mengizinkan kalian masuk apa yang akan kalian lakukan?" Tantangnya lagi.
Asisten itu merasa geram dia yang secara tiba tiba ingin menyerang Andre kinu dapat ditahan oleh tangan Andre. Asisten itu yang tadi memajukan tangannya tepat di wajah Andre kini dapat ditahan oleh tangan Andre yang juga sama sama cepat.
Mata mereka saling bertatapan dengan amarah yang benar benar memuncak, mereka saling ingin menyerang saat ini. Andre tapi tentu tak ingin memulainya tetapi dia tahu cara memancing musuhnya agar dia bisa menaikan emosinya saat ini.
Bug!! Polisi itu menendang perut Andre hingga dia mundur hingga menabrak pintu yang ada di belakangnya. Andre senang hatinya bersorak senang ketika mereka menyerang dirinya, dia hanya bisa tersenyum tipis. Kini tangannya terasa gatal untuk menghajar mereka semua.
Andre kini maju dengan cepat tangan itu menyentuh wajah polisi itu, untuk kedua kalinya tangannya juga menyentuh perut nya hingga polisi itu mundur dengan menabrak beberapa polisi yang ada di belakangnya.