
" Bangun.. bangun…" Suara nada tinggi itu kini membangunkan Antoni yang tidur dengan pura pura.
Antoni yang hanya pura pura tertidur dengan gayanya yang baru bangun tidur kini langsung mengerjapkan matanya menatap orang yang dengan kasar membangunkannya.
" Jangan pura pura tidur! Bangun…" Bentaknya dengan nada tinggi.
" Apa semua polisi memiliki sifat yang arogan sepertimu?" Katanya dengan tetap merebahkan tubuhnya.
Bahkan kini tangan nya terangkat untuk menutupi wajahnya yang silau karena cahaya lampu itu menyala. Sedangkan orang orang yang ada di sana kini semakin ketakutan tubuh mereka sedikit bergetar.
" Kau sungguh tak memiliki ketakutan sama sekali…" Gumamnya dengan sinis.
" Kau dan aku sama sama manusia hanya saja kau dan aku memiliki pangkat yang berbeda jadi aku tak perlu takut dengan pangkat mu yang hanya bisa di copot kapan pun…" Jawabnya dengan santai.
Polisi itu dengan rasa tak sabarnya kini menarik paksa tangan Antoni menyeretnya untuk turun dari kasurnya. Antoni yang terpaksa turun itu kini jatuh ke lantai bersama orang orang yang juga sudah berlutut di lantai.
Mereka semua kini menunduk tak ada yang berani menatap kearah polisi yang sedang mengamuk. Sedangkan Antoni kini menatap sang polisi dengan tatapan menantangnya.
" Siapa di antara kalian yang membunuh teman kalian?" Tanyanya dengan berjalan mengelilingi mereka semua.
" Jawab dengan jujur jangan ada yang kalian tutupi dari aku. Aku di sini ingin mengungkap kematian dari teman kalian…" Sambungnya dengan tetap berjalan di sana.
Tetapi semua orang yang ada di sana kini hanya bisa diam mereka tak ada yang membuka suaranya sedikit pun. Mereka tampaknya masih saja ketakutan bukan main. Kejadian semalam membuat mereka sadar bahwa lawan mereka bukanlah orang sembarangan.
" Hei katakan siapa pelakunya? Atau kau bisa jelaskan kenapa wajah kalian semua babak belur…" Pistol itu kini mengarah ke arah leher salah satu tahanan yang ada di sana.
Orang itu hanya diam dia tak berani membuka suaranya, dia sungguh ketakutan. Nyawanya sangatlah berharga bagi dirinya saat ini.
" Jawab kenapa kau diam saja!" Bentaknya lagi.
" Atau kau saja yang menjelaskannya?" Kini polisi itu pindah ke teman satunya lagi dengan tetap menodongkan pistol itu kearah lehernya.
Orang itu menelan ludahnya dengan kasar tetapi dia juga tak berani membuka suaranya mereka masih terlalu takut dengan laki laki bertato yang ada di sebelahnya.
Polisi itu kini geram karena semua orang yang ada di sana hanya diam mereka tak ada yang menjawab apapun yang dia tanyakan. Seakan mereka ketakutan, interogasi itu tak berjalan sesuai rencana.
Mata polisi itu kini mengarah kepada Antoni yang tenang. Mata polisi itu bahkan tak menangkap ketakutan dari wajah Antoni. Laki laki itu tenang bahkan sangat tenang.
" Atau jangan jangan kau yang membunuh nya? Semenjak kau dan temanmu itu masuk ada kekacauan yang tak pernah terjadi di sini. Teman mu yang bertengkar dan sekarang kau malah membunuh teman satu sel mu…" Tuduhnya dengan langsung dengan mengarahkan pistol itu ke dahi Antoni dengan tepat.
Antoni tersenyum tipis bahkan dia juga berani menatap polisi yang saat ini mengarahkan pistol itu ke arahnya.
Saat ini mereka langsung ketakutan ketika Antoni mengatakan hal tersebut. Antoni malah melempar pertanyaan kepada mereka yang dari tadi hanya diam tak berani mengatakannya.
Polisi itu kini kembali menatap ke arah mereka satu persatu, mereka hanya mampu menelan ludahnya dengan kasar dengan dada yang naik turun karena jantung mereka memompa begitu cepat.
" Ceritakan kenapa dia terbunuh, atau kalian semua akan mendapatkan hukuman yang lebih berat dari hukuman kalian yang ini…"Ancamnya.
" Semalam kami sempat bertengkar dengannya Sir…" Salah satu dari mereka kini membuka suaranya yang membuat sang polisi itu langsung menatap ke arahnya.
" Ceritakan dengan jelas…" Bentak nya.
" Baron adalah tahanan yang tak memiliki belas kasihan kepada kami, dia yang selalu menyuruh kami tanpa mengenal waktu. Malam kemarin dia yang menyuruh kami untuk tak tidur karena harus memijatnya."
" Kami juga manusia yang juga memiliki rasa lelah dan ingin beristirahat dan akhirnya kami membantah perintah dari Baron. Kami sedikit berdebat karena aku tak ingin melakukan apa yang dia perintahkan kepada kami."
" Dia yang tak terima karena kami mulai membantah nya, dia memukul ku dulu di bagian wajah dan aku membalasnya. Kami bertengkar hebat dan aku yang tak memiliki kekuatan kalah jauh darinya. Tahanan baru itu ingin memisahkan kami tapi dia yang terkena pukul hingga dia mengeluarkan darah dari hidungnya."
" Kami juga tentu tak tinggal diam, kami membela teman kami yang juga membutuhkan bantuan kami. Kami juga merasa lelah karena harus diperas tenaga oleh Baron, dia yang seenaknya memerintah kami tanpa melihat waktu."
" Terjadilah pertengkaran di antara kami semua dan kami mengeroyoknya. Tahanan baru itu hanya diam dan melerai kita tapi kami mengancamnya untuk tidak ikut ikut. Kami mengeroyoknya dengan membabi buta, kami memukulnya dengan tak peduli dia mati atau tidak."
" Akhirnya dia kalah dan jatuh dan kami juga melupakan bahwa dia memiliki riwayat sesak dan jantungnya bersalah!"
" Kami menginjaknya dadanya secara bergantian hingga dia mengeluarkan darah segar dari mulutnya hingga dia meninggal."
Mereka semua bergantian menjelaskan kronologi semalam, mereka begitu lancar bercerita membuat sang polisi hanya diam tanpa berkata apa apa. Meskipun di dalam hati polisi tersebut memiliki kecurigaan tapi dia hanya diam.
Antoni hanya diam dengan kemenangan di hatinya. Sang polisi hanya melirik ke arah Antoni dengan tanda tanya. Tetapi benar luka lebam di wajah Antoni hanya satu berbeda dengan luka lebam yang mereka terima. Ada beberapa luka lebam di wajah mereka yang membuktikan mereka bertengkar dengan adu jotos.
Jika Antoni yang di keroyok mungkin tak hanya satu luka lebam tapi pasti ada banyak di wajahnya tapi ini hanya satu.
Jika Antoni yang di keroyok mana mungkin yang mati malah Baron harusnya dia yang meninggal. Tak mungkin juga Antoni menang dia hanya satu sedangkan lawannya ada beberapa orang.
Badan Antoni juga lebih kecil dari Baron tak mungkin Baron kalah dengan laki laki ini. Tapi kenapa Baron bisa kalah hanya di keroyok oleh mereka.
Batin polis itu bergejolak tak karuan, penjelasan yang dikatakan mereka masuk akal tapi apa yang dia pikirkan secara logika jika Baron tak mungkin mati begitu saja karena di keroyok oleh mereka. Tapi bukti bukti mereka sudah jelas di mata sang polisi.
Selamat malam mingguan bagi kalian yang sedang kencan atau menghabiskan waktu bersama pasangan atau keluarga kalian 🤗 jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan kasih like dan ramaikan kolom komentar 🤗
Sambung besok lagi ya 🥰🙏