
" Nathan kau sudah memeriksa nya ulang?" Alex yang bertanya ketika mereka akan segera pulang dari markas tersebut.
" Sudah! Mungkin satu hari efek itu akan segera hilang."
" Apa efeknya sangat bahaya?"
" Sepertinya tidak jika digunakan tak terlalu banyak. Hanya saja perasaan yang kacau membuat dirinya seperti saat ini…" Nathan menjelaskannya dengan cepat.
" Besok kita bisa gunakan lagi untuk mengujinya, jika tadi Bryan meminumnya hanya dua butir besok aku ingin lebih dari dua butir."
" Jangan terlalu banyak Paman jika jantungnya tak kuat dia bisa mati, jantungnya akan berhenti dan pembuluh darahnya bisa pecah hingga dia bisa mati langsung…" Nathan memperingatkan Alex agar dia lebih hati-hati memberikan obat itu kepada tawanannya untuk menguji obat yang mereka beli.
" Aku paham Dokter Nathan!" Jawabnya dengan menatap anak mudah yang saat ini berdiri di sampingnya.
" Baiklah jika begitu aku pergi dulu, aku harus ke rumah sakit karena sebentar lagi jam praktek ku akan dimulai."
" Baiklah hati-hati…" Nathan hanya melambaikan tangannya untuk pergi dari markas besar nya.
Alex sekilas menatap markas itu dengan dia yang juga cepat meninggalkan tempat tersebut. Tapi sebelum dia benar-benar pergi dia kedatangan sebuah mobil yang sangat familiar bagi dirinya. Alex dengan cepat keluar dari mobil miliknya.
" Alex kamu di sini?"
" Ayah! Ayah datang kemari untuk apa?" Benaknya bertanya-tanya apa yang Ayah mertua lakukan di sini. " Apa Ayah terlibat langsung dalam penyekapan ini?"
" Ayolah Alex jangan mencurigai Ayah mertua mu. Paman Johan tadi berkunjung di rumah yang kebetulan aku sendiri juga mau datang kemari. Jadi aku sekalian mengajak Paman datang kemari…" Laki laki gondrong itu kini mengelaknya dengan cepat.
Tapi sayangnya Alex tak percaya dengan apa yang dikatakan oleh rekannya itu, dia menatap penuh tanda tanya kepada temannya dan bergantian menatap ke arah mertuanya itu.
" Alex jangan berpikir yang tidak-tidak…" Timpal sang Ayah mertua yang tau jika menantunya tak akan mudah di bohongi.
Alex hanya menghela nafasnya dengan kasar ketika melihat kedua orang itu malah masuk ke dalam markas padahal dia ingin sekali mendengar penjelasan yang lebih dari sekedar ini semua.
" Bagaimana perkembangannya?"
" Seperti yang anda lihat Tuan Zac, dari tadi Nicolas tertawa dan terkadang menangis seperti itu. Tapi saat ini dia sudah sedikit tenang dibanding yang tadi…" Orang-orang itu menjelaskannya dengan menatap ke arah Nicolas yang saat ini tertawa keras di sana.
" Apa tadi dia tak setenang ini?" Paman Johan juga ingin tau efek obat yang diproduksi sendiri orang-orang itu.
" Tadi dia histeris Tuan! Berteriak memanggil nama Sarah berulang kali. Dia menangis dengan mengatakan merindukan Sarah tapi terkadang tertawa ketika dia ingat hari-harinya bersama Sarah…" Jelasnya dengan menatap ke arah Nicolas.
" Apa efeknya seperti ini?" Zac juga tak tahu apa efek dari obat yang mereka beli kemarin.
" Nathan tadi memeriksanya dia menjelaskan bahwa obat itu memiliki efek yang tak menentu. Jika hati orang yang menggunakan senang maka dia akan tertawa tapi jika dia sedih maka dia akan menangis. Tergantung hati orang yang memakainya…" Timpal Alex yang juga ikut menjelaskan apa yang di periksa oleh Nathan tadi.
" Nathan datang kemari? Ada apa?" Zac heran karena untuk pertama kalinya laki laki mudah keponakannya itu datang ke markas untuk memeriksa tahanannya.
" Aku yang membawanya kemari karena aku ingin tahu kondisi Nicolas ketika dia memakai obat ini…" Zac hanya mengangguk mengerti. " Bryan tadi hanya dua butir memberinya."
" Dua butir untuk apa?"
" Coba untuk besok lebih banyak lagi aku ingin melihat efeknya yang lebih gila dari ini…" Zac tersenyum miring.
" Aku tak sebodoh itu Alex! Aku hanya ingin menambah satu atau tiga sekaligus obat yang diminum."
" Tapi jika dia mati itu adalah kemenangan awal kita Zac…" Apa yang dikatakan oleh Paman Johan membuat kedua orang itu langsung melihat ke arah nya dengan bingung.
" Apa maksud Paman dengan kemenangan awal kita?" Zac tak paham dengan apa yang dikatakan oleh laki laki itu.
" Kita bisa mengirim mayatnya kepada Johan agar dia tahu bahwa cucu kesayangannya telah mati di tangan seseorang yang sedang menyekapnya."
" Paman ini tak sesuai rencana kita…" Zac belum mau membunuh orang ini dia ingin bermain-main dengan mereka semua saat ini.
" Aku tahu, hanya saja aku mengatakan jika dia mati maka kemenangan di awal ada ditangan kita…" Ucapnya dengan dendam yang sangat membara saat ini.
Terdengar jelas dari suaranya yang begitu sinis dan dingin, tatapannya juga tajam seakan dia ingin langsung menusuk Nicolas tepat di jantungnya dan segera mengirimkan mayat Nicolas kepada Aaron musuh bebuyutan dari bertahun-tahun.
Ada sesuatu yang paman sembunyikan dari ku dan Clarissa. Aku yakin Ayah ada sangkut pautan dari ini semua. Jika tidak, mana mungkin Ayah sangat dingin dan kilatan dendam terpancar jelas di mata Ayah.
\=\=\=\=\=
" Nathan kau dari mana heh?dari tadi Ibumu menunggu di sini!" Omelnya karena wanita itu dari tadi menunggu putranya tapi baru saja datang setelah satu jam dia menunggu.
" Ibu kenapa datang? Apa ada masalah?" Nathan heran ketika melihat Ibunya yang tiba-tiba sudah duduk di kursi nya.
Wanita itu berdiri berjalan menghampiri putranya. " Apa sekarang jika seorang Ibu ingin bertemu putranya Ibu harus membuat janji temu denganmu dulu."
" Tidak seperti itu maksud ku Bu, hanya saja aku bisa pulang tanpa Ibu datang kemari atau tidak Ibu tidak akan menunggu lama di sini."
" Ibu merindukanmu dan kau tak pernah pulang. Apa kau lebih suka tinggal sendiri di banding di rumah bersama Ibu dan Ayah mu."
" Bukan seperti itu Bu, tempat tinggal ku yang sekarang lebih dekat dari rumah sakit Bu…" Nathan memang tak pernah pulang dia memiliki tempat tinggal sendiri yang tak jauh dari rumah sakit tempatnya bekerja.
" Nathan kau putra satu-satunya kami, jika kamu tak pernah pulang lalu siapa yang akan menjaga Ibu dan Ayah mu ini heh?"
Nathan menghela nafasnya dengan kasar dia tau kedua orang tua nya bisa sangat melindungi diri mereka. " Jangan berpikir bahwa kami bisa melindungi diri kita sendiri. Kau putra kami yang seharusnya melindungi kami."
" Aku tau Bu, nanti aku pasti akan pulang. Aku janji aku akan pulang tapi tidak sekarang Bu. Beberapa hari ini pekerjaan ku banyak dan aku tak bisa pulang akhir-akhir ini…" Nathan menjelaskannya dengan cepat. Memang akhir-akhir ini pekerjaan rumah sakit banyak yang harus dikerjakan.
" Auwh.. auwh.. ampun Bu! Ampun!"
" Kau banyak alasan Ibumu meminta untuk kau pulang rupanya…" Wanita itu dengan cepat memelintir tangan putranya dengan kencang. " Kau pulang atau tidak?"
" Aku pulang Suhu! Nanti malam aku pulang! Ampun Suhu! Lepaskan ini sakit!" Nathan kesakitan meskipun itu tak akan membuat cedera bahaya tapi itu pasti akan sakit.
" Jika kau mengingkari janji maka Ibumu ini yang akan menyeretmu pulang! Kau mengerti!" Nathan mengangguk dengan cepat agar bisa dilepaskan oleh Ibunya.
Bersambung besok ya 🤗 Terjawab sudah yah Nathan anak dari Suhu dan abang Abhi 😍 mampir juga di Cinta Bernoda Darah 🤗