
" Jangan banyak bicara! Cepat dimana kamarnya…" Bryan dengan cepat berusaha bersembunyi saat ini dia lebih memilih untuk bersembunyi dibanding dia harus melawannya dengan satu orang dan tangan kosong.
" He anak mudah kau harus memilih teman kencanmu di kamar dulu, jangan terburu buru seperti ini…" Wanita itu dengan sedikit memberontak karena dia ingin menawarkan wanita wanita yang disediakan oleh tempat tersebut.
" Nanti kau bisa bawah di kamar, saat ini bawah aku dulu ke kamar."
" Baiklah.. baiklah…" Wanita itu mengalah dengan langkah cepat dan berulang kali melihat kebelakang Bryan kini di bawah masuk ke dalam dengan wanita tersebut.
Bryan sedikit lega setidaknya saat ini dia bisa bersembunyi untuk sementara, dia bukan pengecut tapi saat ini tak mungkin melawan orang banyak sedangkan dia hanya satu orang. Dia juga tak ingin membuat kekacauan di sana. Bryan menatap sekelilingnya menatap kamar di mana kamar kecil yang begitu sederhana.
" Sial aku malah terjebak di sini…" Umpatnya dengan dia duduk di bed yang kecil tersebut.
Bryan memikirkan caranya untuk dia bisa menghubungi orang orang saat ini tapi sayangnya ponselnya entah kemana dia juga tak tahu.
" Hei Tuan jangan masuk tanpa izin orang yang di dalam kalian melanggar privasi klien kami…" Suara nya terdengar dari dalam hingga membuat Bryan mondar mandir di dalam sana.
" Buka pintu ini aku ingin lihat orang yang di dalam."
" Kalian melanggar privasi klien kami, silahkan pergi…" Usirnya dengan cepat. " Di sini kami adalah pemiliknya jadi kalian semua tak berhak menyuruh kami, jadi silahkan pergi dari sini."
" Anda tidak tahu kami ternyata."
" Saya tidak peduli anda siapa yang jelas tempat ini bukan tempat kalian jadi silahkan pergi, jika tidak maka terpaksa kami akan-"
" Cup!! Kami akan pergi…" Salah satu dari mereka kini mencium pipi wanita yang terkenal sebagai pemilik tempat tersebut. " Ayo pergi…" Ajaknya dengan segera pergi dari sana.
Bryan yang dari tadi mendengarkan perdebatan di balik pintu sedikit merasa lega setidaknya saat ini dia bisa untuk kabur dari mereka. Bryan terduduk di bed kecil tersebut mengusap wajahnya yang penuh dengan keringat.
" Bagaimana bisa mereka bisa tahu penyamaran aku dengan Antoni?" Pikirannya kini mencari tau kenapa mereka bisa tau tentang penyamaran mereka. " Sial.. sial…" Dia mengumpat kesal karena rencananya akan berubah lagi setelah ini.
" Semuanya belum selesai tapi sudah ketahuan…" Dia menggeram kesal karena tak seharusnya ketahuan sekarang. " Sekarang aku harus segera mencari cara keluar dari sini."
Sedangkan Antoni kini masih terus berlari dia berlari dengan kencang dengan sekali melihat kebelakang yang orang orang itu masih mengejarnya. Antoni kini malah masuk ke sebuah gang sempit di mana hanya ada beberapa rumah yang ada di sana.
" Damn…" Umpatnya dengan kesal karena jalan yang dia lewati kini buntu. Dia menatap sekelilingnya dengan berharap ada harapan meskipun dia siap melawan ketiga orang yang mengejarnya.
" Argh… kenapa aku harus seperti ini.. tidak.. tidak.. jika aku tetap di sini maka mereka pasti akan membawa ku ketempat itu…" Suara yang keras dari balik pintu rumah itu membuatnya menoleh.
" Sial.. kenapa aku harus mempunya seorang ayah seperti dia.. memang dia pikir dia siapa? Hanya karena dia ayah tiri ku dia bisa menjual ku seenaknya."
Antoni tak peduli dengan suara wanita yang saat ini tengah marah marah tak jelas yang dia butuhkan saat ini hanya bersembunyi dari kejaran orang orang itu.
" Cari dia sampai dapat, kira harus membawanya…" Ketiga orang itu berusaha mencari Antoni di sekitar sana tapi tak ada satu petunjuk yang membawa mereka menemukan keberadaan Antoni.
" Bos di sini jalan buntu saya yakin dia tak lari ke arah sini…" Salah satunya melapor.
" Sial.. kita kehilangan jejak jika begitu.. ayo cari di tempat lain…" Mereka segera meninggalkan tempat itu dan mencari keberadaan Antoni di tempat lain karena mereka yakin Antoni tak ada di sana.
Antoni yang lega kini langsung terduduk di lantai dengan dia sebentar memejamkan matanya dengan rasa senang.
" He anda siapa? Kenapa bisa masuk ke rumah ku?" Seorang wanita mudah kini tiba tiba melihat kearah Antoni dengan tenang. " Atau kau ingin mencuri di sini?"
Antoni kini panik dia yang takut wanita itu berteriak segera berdiri dengan dia yang mencoba ingin menjelaskan apa yang terjadi. " Sudahlah! Kau ingin mencuri dirumah ku? Maka ambilah semua barang di sini karena aku tak peduli, sebentar lagi aku juga akan pergi."
Antoni mengerutkan keningnya dia masih mencernah apa yang dikatakan oleh wanita itu. " Aku akan pergi melayang tinggi ke surga, bertemu dengan kedua orang tua ku yang sudah bahagia di sana. Jadi aku tak peduli jika aku miskin di sini, lebih baik semua harta ini aku berikan kepada orang yang membutuhkan seperti mu dari pada harus jatuh ke tangan ayah tiriku yang kurang ajar."
Antoni tak berkutik dia masih diam mendengar semua yang dikatakan oleh wanita itu. Bahkan wanita itu tak ada takut takutnya dia hanya berkata dengan dia yang tersenyum dengan dia duduk di sofa di depan Antoni.
" Ambilah semua barang yang kau butuhkan, atau kau juga butuh uang? Aku akan berikan uang yang banyak untukmu…" Wanita itu mengeluarkan uang yang ada di tasnya tapi dia juga menjatuhkan sebuah botol obat.
" Ah obat ini dari tadi aku mencarinya ternyata di dalam tas."
Ini wanita gila atau apa? Dari tadi bicara sendiri tak jelas.
Wanita itu kini mengeluarkan semua butiran yang ada di botol obat itu. " Cepet ambil! Kenapa malah hanya berdiri di sana?"
" Maaf nona saya tidak ada niatan untuk mencuri saya hanya bersembunyi dari para orang orang yang mengejar saya tapi sepertinya saat ini semuanya sudah aman jadi saya pergi dari sini."
" Sudahlah sana pergi!" Usirnya dengan cepat. " Pergi yang jauh dan keluarlah secara diam diam agar tak ada orang yang melihatmu keluar atau mengenalmu, karena saya tak ingin bunuh diri saya ini malah membuat kau tertuduh membunuh saya, jadi cepet keluar dari sini."
Bunuh diri? Jadi wanita ini ingin bunuh diri dengan meminum obat sebanyak itu? Dasar wanita bodoh.
" Saya keluar dulu nona, jangan sampai anda yang ingin bunuh diri malah menyeret saya dalam masalah anda…" Antoni menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan wanita yang ada di depannya.