
𝙺𝚊𝚖𝚒 𝚋𝚎𝚛𝚍ua sama sama terdiam ketika benda asing saling menyapa, kami saling berpandangan satu sama lain. Saling meresapi benda asing yang masih ingin menetralkan benda asing di bawah sana.
" Kau tak bisa mundur setelah ini Sarah…" Aku menatapnya dengan dia yang memompa pelan.
" Aku tak akan mundur Bryan. Sayang sekali jika aku harus mundur setelah semua ini terjadi…" Aku tau ini tak akan bisa mundur aku tak akan bisa mundur ketika semuanya sudah terjadi.
Benda asing terasa begitu sesak dibawah sana, tubuhku menerimanya dengan kenikmatan. Aku yang berada di bawah kungkungannya merasa dia begitu tampan.
" Argh…" Aku terguncang begitu hebat ketika dia semakin mempercepat tubuhnya yang begitu liar di atas tubuhku.
Aku hanya bisa memejamkan matanya menikmati diriku yang menguasai tubuhku begitu cepat. Semua perlakuan lembutnya membuatku terbuai seakan aku begitu berarti tapi sayangnya aku tak suka dengan kelembutan jika berurusan dengan masalah ini.
Aku mendorong pelan tubuhnya hingga dia berguling ke samping, aku memeluknya sebentar meraih bibirnya meluma* nya lembut. Tentu saja dia membalasku dengan cepat. Aku dengan segera memasuki tubuhnya dengan posisi aku berada di atasnya.
" Hmm.. Argh.. Honey…" Dia menggeram ketika aku mencoba untuk memasuki nya. Dia meremas pinggangku ketika benda itu sekarang masuk setengahnya di milikku.
" Ini terlalu besar Bry bagaimana bisa tadi masuk begitu saja…" Sekarang aku malah takut ketika melihat miliknya yang besar tersebut.
" Pasti masuk Honey…" Dia yang berkata seperti itu lalu menekan dirinya ke tubuhku hingga aku memejamkan mata ketika lagi lagi benda besar itu benar benar masuk sempurna.
Aku bergerak pelan di atas tubuh Bryan dan aku merasakan dia yang melihat ke arahku dengan pandangan gaira*
" Argh.. Honey…" Dia mendesa* ketika dia mengimbamgi tempo yang aku berikan. Kami berdua sama sama bergerak mencari kenikmatan yang ingin kami gapai saat ini.
Geraman dan desaha* kami kini saling bersaungat dengan tempo yang kami ciptakan sendiri. Tubuhku terguncang hebat ketika dia juga bergerak dibawah tubuhku. Kamar itu kini menjadi saksi bahwa kami telah bersatu menjadi satu, dan sekarang kami saling memiliki satu sama lain, saling merasa dia menjadi milikku.
Aku pasrah tak tertahan ketika dia dengan cepat membalikkan posisi kami dengan dia segera memasuki tubuhku dari arah belakang. Aku terguncang kedepan ketika dia memompa begitu cepat, aku mendesa* ketika dia malah merema* sesuatu yang bergerak cepat di tubuhku.
" Dam*..." Aku mendengar dia mengumpat begitu keras dan aku semakin terguncang.
" Argh.. Bry.. aku hampir tiba…" Aku tak tahan ketika sebuah pelepasan hampir menerpa tubuhku saat ini.
" Aku juga Honey…" Kami saling mendesa* dan dia menekan tubuhnya semakin dalam dan aku merasakan denyuta*.
Kami didorong pelepasan ketika kenikmatan yang dari tadi yang kami cari telah tiba. Aku memejamkan mata menikmati pelepasan untuk pertama kalinya. Dan rasanya begitu melegakan. Aku mengatur nafas dengan dia yang masih berada di belakang ku. Kami saling mengatur nafas ketika nafas ini begitu memburu dari tadi.
" Apa sekarang kau menyesal melakukanya denganku?"
" Bukan menyesal tapi aku lelah…" Kini kami saling berhadapan ketika penyatuan itu terlepas dan saat ini kami saling memeluk satu sama lain.
" Tidurlah. Malam ini aku rasa emosi kita sedang di uji…" Aku tersenyum dengan mata yang terpejam.
Jika di ingat ingat malam ini begitu banyak hal yang menggembirakan, yang pertama adalah para musuh yang tertangkap sedangkan yang kedua adalah kami bersatu meskipun aku memiliki kekhawatiran yang sepenuhnya tapi aku masih ingin menikmati malam malam seperti ini sebelum semuanya berakhir.
" Selamat malam Honey."
Lampu temerap yang dinyalakan tadi kini menambah kehangatan malam ini dan itu membuat aku semakin tertidur dalam tidur yang begitu nyenyak. Aku berharap ini bukan mimpi dan aku harap ini tak segera berakhir karena aku ingin merasakan kebahagian meskipun hanya sebentar.
_________
Pov Author
Malam yang indah itu kini mereka lewati secara kebahagian bagi kedua insan yang sedang bermadu kasih dari tadi. Mereka saling mengungkap perasan meskipun mereka harus ada drama pertengkaran yang membuat Sarah harus mengakui perasaan itu. Mereka kini bersatu di saksikan malam dan kamar laki laki itu.
Gerama* dan desaha* mereka tadi juga sebagai bukti bahwa mereka telah bersatu dalam ikatan dan mereka saling memiliki satu sama lain. Hati mereka kini terpaku dengan satu nama mereka masing masing. Mereka saling tertidur dalam keheningan malam yang begitu sunyi.
Udara malam itu membuat mereka semakin terlelap dalam tidurnya, mereka begitu terlelap karena rasa lelah dan rasa lega. Cinta mereka terbalas, sekarang Takdir telah menyatukan mereka dengan balas dendam yang sama sama berjalan seiringan.
Sedangkan di tempat lain Alexander masih belum sadarkan diri dia masih pingsan dengan rasa sakit pada sekujur tubuhnya, dia masih tak sanggup untuk bagun.
" Siram dia…" Kepala Sipir itu memerintah salah satu orangnya untuk menyiram Alex dengan sebuah air dingin yang sengaja di beri es.
Byuar!!
Alex tergagap dia bangun dengan segera dia yang terkejut karena siraman itu langsung ingin bangun tapi nyatanya dia tak bisa berkutik saat ini. Dia menatap sekelilingnya dan mengingat apa yang terjadi sebelum dia berada di sana.
" Lepaskan aku! Aku di mana?" Teriaknya dengan kencang ketika dia sadar tempat itu bukan penjara, dia saat ini berada di ruangan kosong dengan dia yang terikat di satu kursi. Seluruh tubuhnya di ikat.
Sipir itu kini tertawa melihat wajah Alex yang panik dan tak berdaya di memberontak tapi dia tak bisa karena ikatan itu terlalu kencang bagi tubuh lemahnya saat ini.
" Lepaskan aku brengse*..." Katanya dengan memberontak di kursi.
Plak!! Satu tamparan yang keras dilayangkan oleh Kepala Sipir itu membuat Alex menatap tajam ke arah nya. " Jangan menatapku seperti itu! Aku bisa mengambil kedua bola mata mu itu…" Ancamnya.
" Kau Kepala Sipir kurang ajar, aku akan membongkar semua sindikat kalian yang menerima uang suap dari mereka dan kau juga sengaja membiarkan tahanan yang kabur kalian lepas."
Kepala Sipir itu kembali tertawa keras bahkan ancaman itu tak ada gunanya saat ini dia sama sekali tak takut sedikit pun dengan ancaman yang di layangkan oleh Alexander.
" Lepaskan aku brengse*..." Teriaknya.
" He… jangan banyak tingkah! Kau hanya tahanan di sini kau bukan siapa siapa lagi jadi kau tak berhak mengancam ku saat ini,kau hanya sampah yang harus aku singkirkan kau dengar itu. Sebentar lagi kau dan adikmu akan mati di tangan kami. Mati di tangan kami."
Deg!!
Tidak aku tidak bisa membiarkan adikku mati, aku harus cari cara untuk keluar dari sani dan mencari Nicolas.
Bersambung besok ya 🤭 Mince kali ini benar benar lagi gabut gak bisa mikir sama sekali adegan nya pun datar gak ada sensasinya sedikit pun 🤣🤣 mungkin efek bumil kali ya🤣🤣 kalau unboxing lagi lebih h*t ya tapi lihat yang asli dulu 🤣🤣🤣