
" Jadi percuma kau menahan ku di sini dan kau membayar mereka untuk menyiksaku, karena aku tak akan mengatakan siapa pelaku yang sebenarnya. Lebih baik kau bunuh aku di banding kau mengeluarkan biaya terlalu mahal untuk ini semua…" Alex masih saja berusaha untuk mengatakan apa yang ada di pikirannya.
" Karena aku Alexandre tak akan mengatakan siapa pelaku yang membunuh wanita itu…" Katanya dengan tertawa.
Bugh!!
Bryan menyuruh salah satu polisi itu untuk memukul punggungnya dengan keras hingga dia benar benar terbatuk menahan rasa sakit yang terus menjalar ke perut serta punggungnya saat ini.
" Cih!! Aku lebih baik mati di sini, siksa aku sampai aku mati karena aku tak peduli kau siksa karena aku tak akan mengatakan siapa pembunuh wanita itu."
Alex tertawa keras melihat Bryan yang hanya diam seribu bahasa. " Aku yang menang di sini Bryan tetap aku yang menang bukan kamu yang menang, jadi percuma kamu membayar semua pihak Sipir dan Jenderal sekalipun, karena aku tak akan membuka siapa pembunuh wanita itu."
Bryan hanya tersenyum sinis saat ini dia tak menanggapi apa yang dikatakan oleh Alex saat ini. " Baiklah sekarang ajukan permintaanmu untuk menukar informasi yang kau punya itu…" Bryan menyilangkan kedua tangannya menatap Alex yang saat ini merasa dirinya akan menang.
" Akhirnya kau menyerah bukan? Aku sudah katakan bahwa hanya aku yang menang bukan kau…" Katanya dengan bangga. " Aku hanya ingin jabatanku kembali dan bebas di sini."
Bryan kini tertawa keras mendengar permintaan dari Alex. " Jika aku bisa memberikan jabatan mu kembali bahkan aku bisa memberikan kedudukan yang lebih tinggi dari Komandan Kriminal, apa yang aku dapatkan?"
Kali ini Bryan sungguh ingin mengikuti alur tawar menawar orang ini, dia ingin tau seberapa jauh Alex berani menawar dan menjual siapa nama pembunuh Amel.
" Jika kau bisa membuktikan apa yang kau ucapkan maka di hari itu juga aku akan menangkap pembunuh wanita itu bahkan aku akan siap membawahnya di depanmu dengan tangan ku sendiri…" Alex berkata serius. Dia yakin bahwa Bryan akan menerima tawaran ini karena pada dasarnya Bryan mencari dirinya hanya ingin tau siapa pembunuh wanita itu.
" Apa aku bisa memegang kata katamu itu? Apa aku harus bisa percaya denganmu? Atau kau hanya ingin pura pura ingin memberikan nama yang salah padaku?"
" Saya pastikan dia yang membunuh wanita itu?"
" Berikan aku satu nama yang membuatku bisa percaya, maka malam ini akan ku urus kebebasanmu…" Tantangnya, Bryan ingin tahu nama siapa yang akan dikatakan oleh Alex saat ini.
" Alvero!" Satu nama yang dikatakan oleh Alex membuat Bryan mengerutkan keningnya seketika.
" Kau yakin dia namanya?" Alex dengan cepat mengangguk segera.
Kau pikir aku bodoh menyebut nama yang asli, dia hanya nama bohongan dasar bodoh dan sekarang lihatlah kau percaya padaku. Batinnya dengan menatap Bryan yang hanya diam dalam pemikirannya.
" Alvero! Alvero! Alvero!" Bryan mengulangi nama itu hingga tiga kali membuat Alex hanya mengangguk dengan senang.
Bryan yang tadi menjauhinya kini menghampirinya Alex dengan segera, Alex berpikir bahwa dia akan segera bebas dengan menjual nama itu.
Sret!!
" Auwhhh…." Alex berteriak kencang ketika sebuah sayatan pisau begitu cepat mengenai lengannya saat ini. Darah segar langsung keluar dari lengan Alex saat ini dia meringis kesakitan. " Dasar bodoh apa yang kau lakukan ha?" Bentaknya dengan menahan rasa sakit.
" Aku sudah mengatakan siapa nama orang yang membunuh wanita itu sekarang giliranmu untuk menepati janji untuk membebaskan aku dan memberikan jabatan yang kau katakan tadi."
Ha.. ha.. ha.. ha.. ha..
Bryan tertawa keras dia tak bisa untuk tidak tertawa saat ini, apa yang didengar oleh dirinya adalah lelucon yang saat ini yang menggelitik di perutnya. Alex menatapnya dengan bingung.
" Kau membohongiku! Aku yakin kau hanya pura pura ingin tahu namanya dengan memancing jabatan yang tinggi untukku ternyata kau hanya berpura pura, dasar bajinga*..." Alex meninggikan suaranya.
Alex sebenarnya tahu bahwa orang yang ada di depannya tak mungkin mudah memberikan jabatan dan membebaskannya. Dia juga tak mungkin memberikan nama adiknya yang sesungguh saat ini, meskipun dia dalam bahaya dia tetap melindungi adiknya.
" Sir dia mengatakan aku bajinga*! Kalian dengar dia mengatakan aku bajinga*..." Kali ini dia tertawa kembali bahkan kali ini semua orang yang ada di sana tertawa kencang yang membuat Alex semakin bingung dan tak mengerti.
" Ssstttt… diamlah.. jangan tertawa lihatlah wajahnya yang bingung itu. Dia pikir keadaan akan tetap berpihak padanya setelah semuanya hancur…" Bryan berkata dengan sisa tawa yang ada. " Kau siapa hingga ingin mengendalikan keadaan saat ini heh? Kau hanya narapidana saat ini bukan Komandan yang kau bisa menyembunyikan apapun."
" Aku berkata bahwa aku memiliki nama siapa yang membunuh wanita itu?" Dia masih berusaha keras menyakinkan Bryan bahwa nama itu adalah nama yang benar.
" Apalah arti dari sebuah nama Alexander? Tak ada gunanya nama itu saat ini. Aku tak butuh nama Alvero yang kau katakan itu karena dia bukan nama yang aku cari…" Bryan tersenyum sinis. " Bahkan aku sudah mengantongi nama yang benar benar membunuh wanita itu, nama yang akan membuat bom ini meledak saat ini juga…" Alex langsung cemas dia tak tau nama siapa yang dimaksud oleh Bryan saat ini.
Aku rasa bukan dia yang dia tahu, karena aku sudah sangat yakin bahwa semua bukti yang mengarah kearahnya sudah aku lenyapkan jadi dia hanya menakuti ku.
" Jadi kau tak percaya bahwa aku memiliki satu nama yang akan membuat bom waktu ini meledak di kepalamu?"
" Aku yakin kau hanya memancing ku, kau tahu bukan bahwa aku tak mungkin dengan mudah mengatakan siapa nama yang membunuh wanita itu."
" Alvero adalah orang yang ingin kau kambing hitamkan bukan? Berapa orang yang ingin kau kambing hitamkan karena kau menutupi kesalahan orang heh? Dan aku beri tau bahwa ada saksi yang menguatkan bahwa kalian terlibat dalam pembunuhan yang menewaskan satu laki laki tua yang di tembak di dalam mulutnya.
Deg!!
Jantung nya berdetak cepat ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Bryan saat ini. Alex tak tahu bahwa ada salah satu saksi yang mereka punya saat ini.
" Kau penasaran? Baiklah karena aku baik hati aku akan memberitahumu siapa nama yang aku punya."
Bryan menyuruh satu orang untuk mengeluarkan sesuatu yang ada di dalam mobil yang terparkir tak jauh dari sana.
Bug!!
Orang itu melempar salah satu orang yang saat ini sudah terikat tepat di depan Alexander yang juga ditahan. Mata mereka saling melihat dan mereka tahu siapa itu. Alexander terkejut bukan main dia tak bisa membayangkan apa yang dilihat saat ini adalah kenyataan.
Sambung besok ya 🤭