
" Apa yang kau lakukan?" Angel kembali melotot ke arah nya ketika dia sudah berada di depannya dengan dia yang ingin mengobati luka itu.
" Maafkan aku tapi jika kau tak bisa membantuku maka terpaksa aku harus menggunakan kekerasan ini."
" Maka lukai aku! Aku tak peduli!" Tantangnya, Angel bahkan tak takut sedikitpun dia malah menantang Alex yang mengarahkan pisau kecil ke arah leher Dokter yang ingin membantunya untuk mengobati dirinya.
Mata mereka saling beradu pandang dengan arti yang berbeda, mereka saling menyelami tatapan yang penuh dengan arti masing-masing.
" Lukai aku tunggu apalagi? Bukankah dari dulu kau selalu melukai orang yang tak menurut atas perintahmu? Dan sekarang aku tak akan menurut apa yang kau perintahkan kepadaku maka lukai aku atau bunuh saja sekalian aku, seperti kamu membunuh Ayahku…" Ucapnya dengan dingin.
" Aku tak membunuh Ayahmu! Aku tak membunuhnya!" Teriaknya dengan nada tinggi. Alex merasa lelah jika setiap kali bertemu dengan Angel dia selalu dituduh atasan membunuh Ayah dari wanita itu.
" Itu adalah tugas yang harus diselesaikan oleh Ayahmu kenapa kau malah menuduhku membunuhnya…" Sambungnya.
" Kau pikir aku peduli dengan apa yang kau katakan…" Angel tersenyum sinis. " Ayo bunuh aku sekalian!" Tantangnya dengan mengarahkan pisau itu ke leher dirinya.
Ceklek!!
" Angel… Auwhhh… Apa yang kau lakukan kepada teman ku…" Satu Dokter kini masuk dan berteriak ketika melihat temannya diancam oleh seorang tahanan di sana.
" Pergi dari sini! Ini urusan ku dengannya…" Angel bahkan tak melihat ke arah temannya dia hanya menatap lurus ke depan menatap Alex yang juga menatap dirinya.
" Lepaskan temanku.. apa yang kau inginkan…" Katanya mencoba untuk bernegosiasi kali ini.
" Pergi dari sini Dokter Susan! Jangan ikut campur…" Usirnya.
" Jika kamu keluar dari ruangan ini maka temanmu ini akan mati…" Ancamnya hingga membuat wanita yang bernama Susan itu tak jadi pergi.
" Pergi jangan hiraukan aku."
" Apa kau pikir aku main-main…" Kini wajahnya serius.
" Aku tak peduli jika kau membunuh ku hari ini atau nanti. Maka bunuh aku!"
" Angel jangan menantang orang itu, kau sungguh bisa mati…" Suaranya bergetar ketakutan.
" Maka pergilah dari sini jangan hiraukan aku. Selamatkan dirimu dari sini…" Angel melirik Susan yang saat ini juga tak bisa bergerak sedikit pun.
" Pilihan ada di tanganmu! Kau pergi silahkan tapi kau akan melihat temanmu ini mati di sini…" Alex memberikan pilihan yang membuat Susan tak bisa berkutik.
" Apa yang kau inginkan dari kita?" Dadanya naik turun hingga dia tak bisa berpikir apapun saat ini.
" Aku hanya ingin meminta satu hal agar dia atau kalian menghubungi pengacara ku, ada yang ingin aku katakan kepadanya. Hanya itu yang aku minta."
" Tapi kamu janji setelah aku membantumu kau akan melepaskan teman ku Angel?" Tak ada pilihan lain saat ini.
" Aku janji…" Alex senang dengan cara seperti ini dia bisa menghubungi pengacaranya. " Aku tak tau berapa nomor pengacara ku tapi kau bisa mencarinya dengan nama Albert dia pengacara yang terkenal di kota ini."
" Aku akan lakukan! Tapi bisakah kau turunkan pisaumu itu. Kau bisa melukai lehernya…" Mintanya dengan dia yang langsung mengambil ponsel miliknya.
" Lakukan saja apa yang aku minta."
" Oke.. aku akan lakukan. Aku sedang mencarinya."
" Bangun!" Alex meminta Angel untuk bangun. Tangan nya memberikan kode untuk berbalik agar menatap ke arah temannya itu.
" Aku harap teman ku tak menemukan nomor pengacara mu itu."
Sedangkan Susan yang panik serta ketakutan tak bisa fokus dengan cepat mencari nomor pengacara yang bernama Albert, sedangkan di kota ini orang yang bernama Albert begitu banyak tak hanya satu orang.
" Kau tau siapa nama panjangnya? Di sini banyak sekali nama Albert…" Dia bingung harus mengambil nomor ponsel yang mana. Nama Albert dengan status pengacara begitu banyak di sana.
" Bisa kau tunjukan kepadaku."
" Cih!! Kau juga tak tau nama pengacara mu!" Ejeknya dengan dingin.
Sedangkan saat ini Albert sedang memikirkan apa yang dikatakan oleh Erik kemarin sebuah tawaran yang entah itu menguntungkan baginya atau nanti malah membahayakan dirinya sendiri.
" Sebenarnya jika kau mengambil apa yang mereka tawarkan untukmu itu akan membuat kita semakin dekat dengan kehancurannya tapi itu juga sangat memiliki resiko tinggi…" Johan yang ada di sana kini mulai berkomentar tentang apa yang dilaporkan olehnya.
" Untuk mencapai sebuah kemenangan maka kita perlu mengambil resiko ini bukan? Tapi semua ada ditanganmu Al, kau mau atau tidak itu terserah padamu…" Zac juga yang ada di sana tak bisa memaksa apa yang akan dipilih oleh orangnya itu.
" Semua keputusan ada ditanganmu jadi terserah apa yang kau ambil kita akan mendukungnya."
Albert menghela nafasnya. " Aku perlu berpikir tentang ini semua. Sebenarnya apa yang dikatakan oleh Paman Johan benar bahwa ini akan menguntungkan di pihak kita tapi resikonya sangat besar. Jika aku belum berkeluarga maka aku akan mengambil tawaran ini tapi saat ini ada keluarga yang akan menungguku…" Semua orang mengangguk mengerti.
" Bos beri aku waktu untuk berpikir."
" Tentu kau harus memikirkan nya."
Drt!! Drt!! Drt!!! Albert mengerutkan keningnya melihat nomor asing yang menghubunginya.
" Halo dengan siapa saya berbicara?"
" Tuan Albert saya Alex…" Suaranya dengan cepat berbicara ketika dia paham betul itu suara dari pengacara yang menemuinya kemarin.
" Alex?" Albert mengulangi nama itu. " Kau menghubungi ku memakai nomor siapa?"
" Tidak penting saya hanya ingin bertanya apakah Nicolas sudah ditemukan?"
" Angkat tanganmu dan turunkan senjatamu!" Albert mendengar suara teriakan dari orang yang ada di seberang sana.
" Nicolas jangan membuat hal yang merugikan dirimu! Apa yang kau lakukan?"
" Aku hanya sedang menyandera seorang Dokter untuk bisa menghubungimu. Jadi katakan apa yang aku tanyakan sebelum mereka benar-"
" Turunkan senjatamu!" Teriaknya lagi.
" Berikan senjatamu dan jangan membuat ulah jika tidak hukuman mu akan bertambah…" Albert mengatakan dengan wajah yang datar bahkan dia tak peduli sebenarnya apa yang dilakukan oleh laki laki itu.
" Jawab saja pertanyaanku! Apakah Nicolas sudah ditemukan? Hanya itu…" Alex berbicara dengan terburu-buru.
" Aku akan datang kesana besok! Aku akan datang. Jadi berikan senjatamu itu kepada mereka…" Albert tak peduli hukuman orang itu akan bertambah yang dipedulikan hanya Dokter yang disandera olehnya.
Dor!!
Satu tembakan yang tiba tiba terdengar membuat telinga Albert merasa sakit, dia dapat mendengar jelas bahwa suara itu kemudian disusul oleh suara teriakan yang cukup kencang dan kacau.
" Apa yang terjadi?" Gumam Johan dan Zac secara bersamaan ketika Albert hanya tersenyum sinis setelah panggilan itu diputus oleh dirinya sendiri.