Ex Husband Is Broken

Ex Husband Is Broken
Pelarian 4



Deg!!


Dendam itu seakan membara di antara hati sang putri yang melihat ayahnya telah pergi dengan cara seperti ini. Komandan itu yang menatap ke mata wanita itu hanya bisa melihat kobaran api dendam yang begitu membara.


" Kita seorang polisi telah melakukan tugas dengan baik, ayahmu meninggal karena dia ingin menembak musuh yang di balas juga dengan tertembak. Seorang polisi mati di medan perang itu adalah hal yang wajar, jika kau ingin membalas dendam itu bukanlah hal yang wajar."


" Wajar atau tidak itu bukan urusan anda komandan yang jelas mereka telah merenggut kebahagiaanku dan harusnya tak hanya satu yang mati di antara mereka, tetapi semua orang orang yang meresahkan juga harus mati dengan cara yang sama."


" Saat ini kau sudah dalam keadaan tidak stabil karena baru saja ditinggal pergi ayahmu, lebih baik kau tenangkan dulu pikiranmu lalu kita bicara lagi."


Komandan itu kini langsung pergi meninggalkan wanita yang saat ini memiliki dendam yang begitu membara, dia yakin bahwa putrinya itu tak akan bisa berbuat apa apa selain hanya bisa pasrah dengan kehidupannya nanti. 


Komandan itu saat ini begitu yakin bahwa putri dari orangnya itu hanya terbawa emosi dan sedang tak baik hingga dia ingin membalas dendam. Jika semuanya sudah baik baik saja dia akan bicara lagi.


Ditatapnya kembali wanita itu yang saat ini sedang terpuruk atas kepergian dari ayahnya. Hatinya seakan terasa sesak melihat air mata wanita itu, lagi lagi rasa kasihan kini hinggap di hatinya, dia yang ingin menghampiri wanita itu kembali merasa serba salah sekarang.


Apa yang aku rasakan saat ini, kenapa aku merasa bersalah dengannya dan kenapa aku merasa kasihan.kenapa dengan jantungku saat ini, ada apa sebenarnya. Batinnya bergejolak tak karuan ketika jantungnya berdetak cepat seakan semuanya ingin dia lakukan untuk menenangkan wanita itu.


" Sir saya mendapatkan kabar dari kantor polisi bahwa ada tiga tahanan yang kabur dan ini semua telah direncanakan dengan baik…" Asistennya segera melapor dan membuat lamunan komandan itu pecah.


Komandan itu langsung mengalihkan tatapan rasa bersalah nya itu ke arah asistennya yang telah melapor kejadian malam ini.


" Tiga tahanan yang kabur?" Komandan itu merasa terkejut. " Siapa yang kabur?" Tanyanya dengan serius.


" Bryan, Antoni dan Chan Sir."


" Saya sudah menduga nya dari tadi bahwa ini ulah dari kedua orang itu. Sejak mereka berdua datang mereka hanya bisa membuat ulah…" Geramnya saat ini ketika mendengar nama kedua orang yang saat ini tengah kabur.


" Lalu apa yang mereka rencanakan tadi?"


" Makan malam satu tahanan telah di beri obat sakit perut Sir dan pihak medis sudah memeriksanya dan suara kebakaran tadi juga salah satu dari mereka. Dan saya rasa salah satu orang kita telah ada main dengan mereka di belakang kita Sir."


" Kau yakin dengan tuduhan yang kau katakan itu? Jangan main main dengan ucapanmu itu?" 


" Saya yakin Sir! Jika tak ada orang dalam mereka tak akan mungkin bisa memberikan obat sakit perut pada makan malam dan apa ada lupa bahwa jenderal telah mengetahui apa yang kita sembunyikan di kesatuan hari itu."


Komandan itu kini diam dia mencerna apa yang dikatakan oleh asisten itu, apa yang dikatakannya ada benarnya juga. Bagaimana bisa mereka kecolongan saat ini.


" Kurang ajar temukan siapa yang membantu mereka dan siapa yang melapor kepada jenderal, aku rasa ini satu orang yang berkaitan."


" Saya akan segera mencarinya Sir."


" Tapi biarkan pemakaman dari orang kita selesai,aku ingin dia dimakamkan dengan cara terhormat…" Perintahnya.


" Aku akan mempersiapkan semuanya agar pagi nanti bisa segera di lakukan cara penguburan dengan ala militer Sir…" Komandan itu mengangguk dengan cepat.


Sedangkan di tempat lain kini kedua insan itu saling merebahkan tubuh mereka masing masing, malam ini semua orang telah pergi menguburkan Baron dengan segera. Saat ini di markas itu hanya tinggal dua orang yang berada di kamar masing masing dengan mencoba memejamkan matanya.


Tok!  Tok! Tok!


Suara ketukan pintu itu membuat mata Sarah segera menatap kearah pintu,dia yang berjalan sedikit tertatih membuat seorang yang berada di depan pintu meyakini bahwa sang pemilik kamar telah tertidur.


Ceklek!! Suara pintu itu terbuka memperlihatkan wanita itu yang berdiri diambang pintu dan matanya juga menatap satu orang laki laki yang juga berada di depan pintu kamar nya.


" Bryan! Masuklah…" Katanya dengan mempersilahkan laki laki itu masuk.


Kedua orang itu masuk dengan kaki yang sama sama sakit karena mereka tadi tak memakai alas kaki ketika mereka berdua berlari mencari tempat persembunyiaan tersebut.


" Kau belum tidur?" 


" Aku tak bisa tidur! Kau juga belum tidur?" Tanyanya balik ketika mereka sama sama duduk di sofa yang sama yang ada di kamar Sarah.


" Aku tak bisa tidur, semuanya sekarang menjadi rumit. Andaikan saja aku tak ingin membalas dendam kepada mereka mungkin ini semua tak akan pernah terjadi, aku merasa bersalah kepada orang yang harus mati sia sia karena aku. Paman ku juga harus menanggung akibatnya dari apa yang tak diketahui sama sekali, sedangkan paman mu tadi juga mati karena melindungi ayahmu yang tak bersalah."


" Jangan merasa bersalah Sarah, semua apa yang kita ambil pasti ada akibatnya. Tak ada yang merasa terpaksa ingin balas dendam kepada mereka semua, Amel adalah orang kami yang mati dengan cara yang tak wajar,jadi kami berhak mengetahui siapa yang melakukan ini."


" Tapi ini semua salah ku-"


" Ssattt…jangan pernah merasa kau bersalah, ku mohon…" Sarah langsung terdiam ketika jari itu diletakkan di bibirnya.


Mata mereka bertemu kembali dengan tatapan yang berbeda kali ini. Bayangan dan kata kata sebelum Bryan pergi masuk ke dalam penjara kini berputar putar di telinga dan mata wanita cantik itu. Jantungnya memompa begitu cepat, getaran kecil itu mereka rasakan kembali.


Sarah yang ingin memutus tatapan itu kini malah di tarik kembali untuk menatap Bryan lebih dekat. Hembusan nafas itu kini terdengar jelas ketika wajah mereka begitu dekat. Bryan memiringkan wajahnya dengan pelan dia yang ingin menggapai bibir wanita. Sarah melotot dengan sempurna ketika dia tahu apa yang terjadi sebentar lagi.


Dia tak bisa menghindar, dia tak bisa bergerak saat ini. Tubuhnya terasa kaku ketika wajah mereka sangat dekat, bahkan Sarah dapat merasakan hembusan itu yang membuat dia menahan nafasnya seketika.


Cup!!


Bryan yang tadinya ingin menggapai bibir wanita itu kini beralih hanya mencium hidung Sarah dengan satu kecupan mesra,hanya ciuman di hidung mampu membuat kedua insan ini tak bisa berkutik karena rasa canggung.


Dendam dan cinta kini akan berjalan dengan seiringan, manakah yang didahulukan oleh Takdir? 


Dendam atau rasa cinta mereka yang akan mulai tumbuh!


Baca terus di sini karena up nya akan setiap hari dan akan banyak kejutan yang tak terduga. Sementara kita akan mengulas cerita dari Bryan dan Sarah yang membawa dendam dan cinta yang akan menyatu menjadi satu.


Jangan lupa like dan komentar ya, kasih vote nya hari senin aja yang belum kasih vote juga bisa kasih sekarang hadiah juga boleh.


Jangan lupa mampir di cerita Donzello dan Charlotte yang akan menceritakan tentang perselingkuhan 🤗