
...Dalam kepantasan, hidup harus seperti embun. Tanpa bimbang dan tanpa beban....
***
Pagi ini udara terasa dingin, embun pagi seakan menyempurnakan dingin nya di pagi hari. Tanpa jelas di kaca bahwa embun telah menempel dengan sempurna di sana. Suasana hati yang kacau membuat situasi semakin enggan untuk membuka mata nya.
Hari ini embun terasa begitu indah tapi tak seindah embun yang menyejukkan hati seperti biasanya. Mata wanita cantik itu terpaksa terbuka melihat keadaan sekelilingnya bahwa tak ada siapapun dan hanya dirinya yang berada di sini, seorang diri.
Dia menghela nafasnya dengan berat, menatap langit kamarnya yang terasa begitu saja. Bayangan semalam seakan menjadi beban tersendiri untuknya. Cinta dan dendam terlalu rumit untuk di jalankan bersamaan.
Dengan malas dia bangun dengan jalan gontai dia berjalan menuju ke kamar mandi menyelesaikan urusan nya di dalam sana. Dengan raut wajah yang tak bersahabat dia keluar setelah semuanya sudah selesai ia lakukan di dalam sana.
Dia kembali membuang nafasnya dengan kasar lalu berjalan menuju ke dapurnya, langkahnya terhenti ketika dia melihat sosok laki laki yang sudah duduk di sana dengan santai.
Dia kembali dia tak ingin bertemu jika semalam saja bisa membuat mereka tak ingin tegur sapa apalagi pagi ini. Sarah yang sadar diri ini bukan tempatnya dia mengalah untuk nanti ke dapur.
" Selamat pagi! Kau ingin kemana lagi?" Bryan yang tahu wanita nya ingin pergi dia segera bersuara dengan cepat berdiri.
Sarah menghentikan langkahnya tapi dia masih memunggunginya. " Sarah kau mendengar apa yang aku katakan?"
" Iya! Selamat pagi…" Jawabnya dengan ketus.
" Kau mau kemana? Ayo sarapan ada yang ingin aku katakan."
Tepat sekali aku juga ingin mengatakan sesuatu, aku tak ingin ada beban di antara kita lagi.
Sarah langsung berbalik menatap Bryan yang juga menatapnya dengan dia yang berdiri. " Aku juga ada hal yang ingin aku katakan Bry tapi sebaiknya kamu dulu yang bicara."
" Duduklah dulu kita sarapan bersama…" Ajaknya agar mereka bisa makan pagi bersama seperti kemarin-kemarin.
" Aku tidak lapar terima kasih…" Tolaknya karena Sarah yang berpikir agar semuanya ini lebih cepat lebih baik.
" Kau bisa makan dulu Sarah nanti kau bisa sakit…" Bryan memaksa wanita itu untuk sarapan tapi sayangnya wanita itu tetap berdiri diam di tempat.
" Aku bisa makan nanti jangan cemaskan aku. Jika kau lapar kau bisa makan aku akan menunggu mu setelah kau selesai makan."
" Kenapa kau mempersulit keadaan Bry?" Potongnya dengan cepat. Mata mereka beradu pandang. " Kau membuat semuanya terlalu sulit sekarang, kemarin kita bertengkar karena cemburu mu yang tak jelas lalu kau mengabaikan ku semalam dan sekarang kau pagi ini seperti tak terjadi apa-apa. Kenapa kau mempersulit ini semua?"
Bryan diam ketika wanita itu menatapnya dengan kilatan marah. " Aku tak tahu apa yang saat ini sedang kau pikirkan. Kau mempermainkan keadaan ku Bry. Seakan kau memperpanjang masalah tapi lalu kau mengabaikan masalah dalam waktu singkat. Sebenarnya apa yang ada di otakmu?" Tanyanya dengan nada emosi.
" Aku lelah jika setiap apa yang aku katakan selalu kau sambungkan dengan masa laluku. Jika aku memang masih mencintai atau masih memiliki rasa dengan Nicolas aku tak mungkin di sini bersamamu. Aku disini karena aku sudah menentukan hatiku padamu tapi nyatanya kau tak bisa melihat itu…" Bryan hanya diam dia tahu dia salah dia terlalu cemburu.
" Aku bukan wanita bodoh yang masih menyimpan rasa cinta kepada orang yang telah membunuh keluargaku. Sejak saat ini melakukan kekerasan sejak saat ini aku mati rasa, sejak saat ini aku membuang rasa cinta ini. Apa kau tak tahu atau kau tak bisa melihat bahwa aku mencintaimu bukan mencintai Nicolas…" Sarah kini melampiaskan emosinya dia tak tahan dengan semua tuduhan yang selalu diberikan oleh kekasihnya itu.
" Setiap aku melihat Nicolas aku selalu melihat wajah adikku yang mati, melihat wajah adikku yang begitu tersiksa dan kau malah menuduhku jika aku masih menyimpan rasa dengannya. Apa kau tak memikirkan perasaan ku mengatakan hal seperti itu?" Tanyanya dengan menggebu-gebu. Tapi Bryan tetap bungkam dia masih diam membiarkan kekasihnya melanjutkan perkataannya.
" Aku hanya ingin tenang, hidup ku tenang tak ada darah tak ada kematian tak ada dendam. Aku sudah merelakan kepergian adikku biarkan hukum yang berbicara, biarkan hukum negara yang menghukum mereka. Aku hanya tak ingin ada korban yang jatuh lagi, aku tak ingin ada keluarga yang merasa kehilangan hanya karena dendam ini, hanya itu. Tapi-" Dia menghentikan ucapannya mengatur nafasnya.
" Kita sepakat untuk berkomitmen, kita sepakat untuk berjalan bersama tapi jika kamu tak memiliki rasa percaya kepada ku sedikit saja buat apa kita bersama? Buat apa hubungan ini semua? Buat apa cinta kita. Suatu hubungan yang tidak ada kepercayaan sama saja akan memakan waktu yang sia-sia."
" Apa maksudmu dengan sia-sia?" Akhirnya Bryan membuka suaranya dia tak mengerti dengan kata yang saat ini dikatakan oleh Sarah.
" Aku lelah Bry jika setiap apa yang aku katakan selalu kau sangkut pautkan dengan Nicolas, aku lelah selalu kau curigai jika aku masih menyimpan rasa dengannya, aku juga lelah dengan semua ini. Balas dendam dan cinta tak bisa berjalan dengan seiringan, akan ada kalah di antara kita berdua…" Matanya berkaca kaca ada ribuan pisau yang menancap di dadanya hingga terasa sesak.
" Katakan dengan jelas jangan berbelit-belit…" Nada nya ketus.
Sarah tak sanggup bicara dia hanya menatap Bryan dengan air mata yang hampir menetes tapi dia juga harus berkata agar tak ada beban di sana. Beban nya adalah setiap apa yang dilakukan oleh Sarah, Bryan selalu mencurigainya.
" Aku hanya ingin langkah kita tak ada beban. Kau dan aku sama sama tenang berjalan meskipun di kobaran api sekalipun. Sebelum kita melangkah jauh dan itu akan membuat kita sulit aku-"
" Katakan dengan jelas…" Nadanya penuh penekanan.
Jangan katakan kau ingin mengakhiri hubungan ini Sarah karena aku tak akan terima jika kau berkata ingin mengakhiri ini semua.
Bryan tahu apa yang ingin dikatakan oleh wanita nya tapi dia ingin mendengar sendiri apa yang keluar dari mulut wanitanya.
" Aku yakin jika kau tahu apa yang aku katakan dan kau tahu apa maksudku. Tapi jika kau ingin aku memperjelasnya baiklah. Aku ingin kita berakhir sampai disini, aku tak ingin ada beban di pundak kita. Setiap kau dan aku melangkah seperti ada beban yang membuat kita berhenti. Seharusnya aku dan kamu tak pernah terlibat hubungan yang merumitkan ini."
Deg!!
Deg!!