Ex Husband Is Broken

Ex Husband Is Broken
Bertengkar Di Pagi Hari



Suara kicau burung membuat kedua pasangan yang saat ini terlelap semakin menempelkan tubuhnya, hawa dingin itu membuat semua insan tertidur dengan begitu nyenyak. 


Masalah yang saat ini mereka alami sejenak mereka lupakan, saat ini yang mereka butuhkan hanya tidur dengan rasa yang tenang dan damai.


Kedua insan yang saling berpelukan mencari kehangatan kini enggan membuka mata dan enggan menjauh. Mereka semakin merapatkan tubuhnya dengan saling berpelukan.


Getaran ponsel pun tak sanggup membuat mereka terbangun dari tidurnya, getaran ponsel yang dari tadi berdering nyata nya menutup telinga mereka yang sedang bermimpi indah di alam nya.


Rasa hangat itu tak mampu membuat mereka bangun dari alam mimpinya saat ini. Semakin mereka bergerak malah membuat mereka malas untuk bangun. Matanya terasa berat untuk terbuka hingga mereka masih saja tidur dengan tenang.


" Hmmm…" Wanita cantik yang saat ini berusaha bangun kini menggeliat di dekapan laki laki gagah yang hanya bertelanjang dada tersebut.


Mata lentiknya berusaha untuk terbuka dia ingin melihat jam berapa, dia membuka mata perlahan menatap sekelilingnya dan melihat jam yang ada di depan atasnya. Dia menguap berulang kali ketika dia tahu ini masih pagi untuk ia bangun. 


Dia menghadap ke samping menatap laki laki yang saat ini masih tertidur pulas di sebelahnya. Senyumnya mengembang dia tak menyangka laki laki setampan dia saat ini berada di sisi nya berada di sampingnya mendukung apapun yang ia inginkan.


Tapi senyumnya tiba tiba pudar ketika ia ingat jika tak ada masalah ini dia tak mungkin bisa bertemu dengannya. Dia yang kehilangan adiknya serta Pamannya secara tiba-tiba menuntunnya bertemu dengan sosok laki laki yang sekarang menjadi kekasihnya.


Tuhan apa aku egois sekarang? Jika saja tak ada masalah ini apa mungkin aku bisa bertemu dengannya. Tuhan maafkan aku yang jahat saat ini.


Batinnya bercampur aduk saat ini, andaikan tak ada masalah apapun dan sang adik tetap bersamanya apa mungkin mereka bisa bertemu? Hanya takdir yang bisa menjawabnya saat ini.


Dia dengan cepat menghapus air matanya karena dia merasakan bahwa laki laki itu juga bangun. Dia pura pura tersenyum meskipun saat ini hatinya bimbang dengan keadaan yang dihadapi.


" Selamat pagi Honey…" Sapanya dengan cepat.


Laki laki itu menoleh ke arah samping menatap kearah wanita yang ada di dekapannya dengan tersenyum bahagia.


" Selamat pagi Sarah!" Jawabnya dengan suara khas nya bangun tidur. " Kamu habis menangis? Kenapa matamu merah?"


" Aku tidak!" Sarah gugup ketika Bryan sadar bahwa matanya marah karena dia menahan air matanya dari tadi.


" Jangan berbohong kepada ku Honey, ada apa?" Tanyanya dengan penasaran karena dia yakin bahwa wanitanya habis menangis.


" Tidak ada Bry, aku hanya sedang merindukan Amel. Aku tadi bermimpi dengan nya…" Dia berbohong tentu saja. 


Matanya kini berkaca kaca dia memang merindukan adiknya tapi dia juga tak mungkin mengatakan bahwa dia memang begitu egois ketika dia berpikir jika tak ada masalah ini mereka tak akan bisa bertemu.


" Apa aku jahat jika memiliki pemikiran bahwa jika tak ada masalah seperti ini kita tak akan bertemu. Jika Amel masih hidup dan dia masih bekerja bersamamu mungkin kita tak pernah bertemu. Apa aku egois jika memiliki pemikiran seperti itu?"


" Semuanya sudah direncanakan oleh Tuhan Sayang. Percayalah apapun yang terjadi pada kita sudah disusun rapi olehnya. Yang membawa kita bertemu pun juga Takdir yang memang membawa kita untuk bertemu…" Bryan mencoba menenangkan kekasihnya yang mungkin saat ini sedang berada di fase sedang tak baik.


" Aku percaya bahwa Tuhan memang mempertemukan kita dengan cara apapun. Meskipun kita tak ada masalah pun jika Tuhan ingin mempertemukan kita maka kita akan tetap bertemu bagaimanapun caranya. Apa kau yakin bahwa Tuhan mampu mempertemukan kita dengan banyak cara…" Sambungnya lagi.


Sarah diam apa yang dikatakan oleh kekasihnya benar. Tuhan memang mampu mempertemukan mereka berdua dengan cara yang kadang tak bisa ditebak. Sarah menghapus air matanya dia tersenyum dia yakin saat ini juga telah direncanakan oleh Tuhan. 


" Terima kasih sudah berada di sisi ku…" Dia kembali masuk ke dalam dekapan hangat kekasihnya memeluknya dengan erat. Seakan beban dan rasa sedih tadi hilang ketika dia di yakinkan oleh kekasihnya Bryan.


" Tetaplah disini apapun yang terjadi. Kita akan melawan dunia bersama…" Sarah mengangguk saat ini dia hanya ingin bahagia tak ada yang ia pikirkan.


" Bry jika kita tak perlu lagi balas dendam kepada mereka bagaimana?" Sarah melepaskan pelukan itu menatap kekasihnya dengan sungguh-sungguh.


" Apa yang kau katakan?"


" Aku hanya ingin hidup tenang seperti ini, tak ada yang pergi tak ada yang meninggal dan tak ada korban lagi. Aku ingin hidup tenang denganmu…" Ujarnya dengan hati-hati.


" Sarah apa kau sadar dengan ucapanmu itu? Apa kau tahu apa yang kau katakan barusan adalah hal yang tak mungkin aku lakukan…" Bryan langsung meninggikan suaranya dia tak mungkin membatalkan misi balas dendam ini.


" Aku hanya ingin hidup tenang Bryan. Mungkin mereka bersalah tapi untuk saat ini aku memaafkan mereka, kita bisa serahkan Nicolas ke polisi agar dia dihukum oleh negara."


" Tidak! Aku tidak akan membiarkan Nicolas begitu saja masuk ke dalam penjara, aku yang akan menghukumnya sendiri. Aku sudah bersumpah diatas kuburan Amel bahwa aku akan menyeret tubuh Nicolas dan membawanya kesana. Tidak semudah itu melupakan sumpah itu Sarah…" Bryan menggeleng tentu saja dia menolak apa yang diminta oleh kekasihnya itu.


" Kau bisa melakukannya sebelum kau membawa nya ke kantor polisi Sayang, aku hanya ingin hidup tenang bersama mu. Setiap hari aku harus cemas dan ketakutan jika kau kenapa kenapa. Sekarang aku sadar bahwa balas dendam ini tak akan membuat hidup kita tenang. Aku tenang seperti ini tak ada ketakutan jika kamu berada disampingku. Tak akan ada habisnya balas dendam ini Bry…" Sarah mencoba untuk menyakinkan kekasihnya.


" Tidak Sarah jangan pernah menyuruhku untuk mundur kali ini. Kami sudah jauh melangkah bahkan kami sekarang berurusan dengan kakeknya dan sekarang kau malah dengan mudahnya meminta ku untuk mundur dan menyerahkan Nicolas ke kantor polisi. Ini mustahil, aku tak akan mau…" Bryan segera bangun dari tidurnya dia merasa kesal dengan kekasihnya yang memintanya untuk mundur.


" Sayang biarkan hukum yang menghukum mereka berdua percayakan kepada hukum di negara ini bahwa mereka pasti akan mendapatkan hukuman atas perbuatannya."


Bryan menatap Sarah dengan tatapan dinginnya. " Kau sebenarnya yang tak tega melihat Nicolas disiksa seperti itu oleh kami bukan? Bukan karena kau ingin hidup tenang."