Ex Husband Is Broken

Ex Husband Is Broken
Satu Bukti 3



Mata bagus itu kini terbuka pelan dia mengerjapkan matanya mencoba melihat sekelilingnya, Bryan yang merasakan tangan wanita itu bergerak segera melihat kearah wanita itu. Dia bernafas lega ketika melihat wanita itu sadar dari pingsan nya.


Bryan tersenyum. " Apa kamu baik baik saja? Apa yang sekarang kamu rasakan?" Bryan segera bertanya dengan nada khawatirnya, dia tak dapat berbohong bahwa dia juga penuh dengan kecemasan.


Sarah mengingat apa yang terjadi pada dirinya, dia menatap sekelilingnya dan dia ingat itu bukan kamar yang ditempati semalam.


" Sarah kau mendengarkanku? Apa ada yang terjadi katakan sesuatu ku mohon…" Bryan kini bertambah panik ketika wanita itu malah tak menjawabnya.


Sarah menatap kearah Bryan dengan tatapan yang bingung dia tak tahu harus berkata apa selain hanya mencernah dengan apa yang didengar tadi.


" Sarah kamu baik baik saja? Jangan membuat ku cemas ada apa katakan sesuatu?" Sarah dapat melihat jelas bahwa laki laki yang ada di depannya saat ini sangat khawatir padanya.


Matanya berkaca kaca dia tidak bisa menjawab apa yang ditanyakan oleh Bryan dia hanya mengingat setiap apa yang didengar tadi dengan jelas.


Ceklek!!


Suara pintu yang terbuka membuat kedua orang yang ada di sana kini langsung melihat kearah beberapa orang yang saat ini tengah masuk. Sarah melihat seorang anak kecil yang berada di belakang.


" Leon…" Sarah langsung terbangun ketika melihat anak kecil itu dengan rasa sedihnya.


Laki laki kecil itu kini berlari menghampiri Sarah yang duduk di Bed nya dengan mata yang sudah meneteskan air mata nya. Mereka berpelukan dengan derai air mata yang langsung menetes ke pipi nya begitu deras. Kedua orang itu kini saling berpelukan dengan erat mereka saling menyalurkan rasa sedih itu dengan pelukan serta derai air mata.


Semua orang yang melihatnya tahu bahwa mereka berdua merasakan luka yang begitu mendalam mereka sama sama ditinggal oleh orang yang mereka sayangi dengan cara yang begitu tragis, mereka harus menghadapi ini semua dengan kuat dan tegar.


" Apa kamu baik baik saja sekarang Leon?" Tanyanya dengan melepaskan pelukan itu dengan menatap wajah laki laki kecil itu.


Leon hanya bisa mengangguk dengan dia yang terus menangis. " Maafkan kakak ini semua salahku! Jika saja waktu itu kakak tak menyuruh kalian disana maka ayahmu pasti tak akan pergi seperti itu."


Leon menggeleng dia tahu dia harus kuat apa yang terjadi saat ini adalah takdir yang harus ia terima dengan lapang dada. Kematian memang bukanlah hal yang mudah diterima ditambah lagi kematian dengan cara yang mengenaskan tapi tak ada yang bisa protes dengan keadaan saat ini selain hanya bisa menerima takdir mereka yang telah ditinggal pergi untuk selamanya.


" Ini bukan salah kakak tapi mereka yang bersalah…" Sarah menatap ke arah Leon dengan serius tangan nya kini menghapus air mata itu dengan segera.


" Kau tahu sesuatu tentang siapa yang membunuh ayah mu?" Tanyanya dengan serius dan Leon hanya mengangguk perlahan.


" Aku melihat semuanya dengan jelas kakak, aku juga mendengar apa yang mereka bicarakan hanya saja aku tak melihat wajah mereka karena mereka membelakangi ku."


" Bagaimana kamu bisa bersembunyi di sana?"


" Malam itu aku berada di dapur dan tanpa sengaja aku mendengar suara keributan di luar. Aku sengaja hanya mengintipnya dan Ayah hanya menggeleng pelan ketika Ayah melihat aku…" Leon memejamkan matanya dia masih ingat betul suara ayahnya waktu itu dia juga ingat betul bahwa ayahnya tidak mengizinkan dia keluar.


" Aku mendengar semuanya dengan jelas kakak,sepertinya orang itu mencarimu di sana dan ayah bersikeras untuk tidak memberitahu, waktu itu ayah memiliki untuk mati dibanding dia mengatakan kamu berada dimana…" Sarah semakin terisak dia tak menyangka pamannya malah masih ingin menyembunyikan dirinya padahal waktu itu nyawanya saat itu terancam. 


" Lalu orang itu datang dengan wajah yang panik dan dia berkata."


" Apa yang kau lakukan?" Seorang laki laki berbadan tegap dengan pakaian lengkap tiba tiba masuk dengan menarik tangan orang itu. 


" Aku tak tahu! Dia mengejekku dan aku terbawa perasaan hingga membunuhnya."


" Dan lagi lagi kau membunuhnya…" Leo  melihat orang yang baru datang kini mengusap wajahnya dengan kasar.


Leon segera bersembunyi di balik dinding ketika mata orang itu menatap sekelilingnya seakan mencari sesuatu yang ada di sana.


" Apa ada orang lain disini?" 


" Tidak ada! Hanya ada kami…" Leon bersembunyi dengan sesekali dia melihatnya.


" Sekarang cepat kita harus keluar dari sani, sebelum ada yang tahu" Katanya dengan segera meninggalkan rumah yang dimana ada sosok mayat yang baru saja dia bunuh.


" Jangan sampai ada yang curiga! Kita harus biasa keluarnya agar tak ada yang curiga sedikitpun…" Mereka keluar secara perlahan dan tak tergesa gesa.


Mereka keluar dengan berbincang bincang agar orang sekelilingnya tak ada yang mencurigai mereka semua. Mereka dengan cepat keluar dan menutup gerbang itu, mereka dengan segera menaiki mobilnya yang telah terparkir agak jauh dari rumah tersebut. 


" Argh…." Teriaknya dengan kencang. 


Leon sempat mendengar bahwa orang itu berteriak seperti nada frustasi. " Kenapa lagi dan lagi? Kenapa harus seperti ini sekarang?" Orang itu memukul keningnya sendiri yang terasa pusing dan sangat berat.


" Aku harus berbuat apa sekarang? Kenapa dia lagi lagi membunuh? Amel sekarang laki laki ini, setelah inu siapa lagi?" Sambungnya dengan nada frustasi.


Kali ini pembunuhan itu begitu mengerikan, tak pernah dia bayangkan jika laki laki kecil itu melihat pembunuhan yang belum pernah dilihat sebelumnya. 


Leon meneteskan air matanya dengan tatapan kosong dia yang melihat langsung bagaimana ayahnya telah di bunuh di depan matanya dengan cara yang keji.


Mereka yang pergi tak sadar bahwa ada saksi mata yang melihat perbuatan mereka yang begitu mengerikan, pembunuhan yang begitu mengerikan di sejarah. Leon terjatuh ke lantai dengan derai air mata, bibirnya tak bisa berbuka dia terlalu terkejut dengan apa yang dilihat olehnya, tatapannya kini kosong dia seperti mengalami trauma yang begitu besar.


Flashback Of


Sarah dan semua orang yang ada di sana kini mendengarkan apa yang dikatakan Leon dengan serius, mereka kini yakin bahwa ada pihak pihak yang memiliki kedudukan tinggi yang melindungi mereka yang bersalah.


" Kakak aku bersumpah akan membalas semua orang yang telah membunuh ayah dengan keji, aku akan membunuh seluruh keluarga nya aku tak peduli dengan mereka…" Laki laki kecil itu berucap dengan tegas dan serius.


" Leon apa kau tak ingat wajah salah satu dari mereka?" Leon menggeleng dengan perlahan.


" Tapi aku ingat betul bahwa salah satu dari mereka memakai seragam polisi dengan pakaian lengkapnya. Polisi itu melindungi mereka semua kakak."