
" Tuan Zac anda di mana?" Albert yang segera menghubungi bosnya ketika dia sudah melakukan pertemuan dengan Antoni.
" Ada di rumah! Datanglah."
Albert segera menghampiri bosnya ketika mengetahui bosnya ada di mana, Albert tak bisa menyusun rencana bagaimana yang di minta oleh kedua anak muda yang saat ini sedang berada di dalam penjara.
" Katakan ada apa?" Zac dan Albert saat ini sudah duduk bersama dengan mereka saling berhadapan.
" Saya baru saja menemui Antoni, dia mengatakan malam ini mereka akan kabur dan mereka meminta kita untuk menyiapkan semuanya."
Zac mengerutkan keningnya dia yang kemarin belum sempat menemui putranya dan temannya kini malah bingung dengan kabar yang di bawah oleh sang pengacara.
" Sebenarnya apa yang mereka rencanakan Al? Kenapa mereka tak menunggu kita yang menyusun rencana kenapa mereka terkesan terburu buru?"
Albert kini dengan segera menceritakan apa yang terjadi kepada kedua laki laki itu mereka yang sengaja menyerahkan diri itu kini sudah menemukan orang yang bisa membongkar siapa pembunuh dari mendiang wanita mereka.
Zac mengepalkan tangannya ketika dia mendengar cerita orangnya, rencananya mereka memang terlalu konyol tapi tak ada yang bisa di perbuat Zac kecuali menyiapkan apa yang mereka minta.
" Bodoh! Kenapa mereka malah mengorbankan diri untuk masuk kesana, apa mereka tak tau bahwa kita memiliki orang yang berada di kepolisian?"
" Sepertinya tidak bos! Mereka tak tahu bahwa kita memiliki beberapa orang yang ada di sana. Tapi aku rasa mereka cukup pintar memilih untuk masuk ke sana."
" Apa maksudmu?"
" Orang orang kita adalah petinggi bos, jika kita menyuruh mereka untuk mencarinya maka dia akan memerintah orang atau hanya mencari info. Sedangkan orang pembunuh itu bersembunyi di bawah mereka yang tidak terlalu penting bagi kita."
Zac mengangguk mengerti sekarang kenapa tak ada informasi apapun dari para petinggi itu sekarang dia tahu bahwa orang orang itu bersembunyi di balik mereka yang hanya memiliki jabatan kecil.
" Sekarang katakan rencanamu!"
" Aku sudah mengatakan bahwa nanti sore akan ada yang datang kepada mereka!"
Albert kini segera mengatakan rencananya kepada bosnya, sedangkan Zac hanya menambahi rencana itu agar sempurna. Mereka kini menyusun rencana untuk kaburnya kedua anak muda dan satu orang yang tak mereka ketahui.
" Baiklah rencana itu akan berjalan nanti malam! Aku sendiri yang akan memimpin ini, siapkan perlengkapan kita…" Perintahnya.
Zac memilih untuk bergabung dengan orang orangnya untuk membawa putranya kabur dari sana. Dia tak akan tinggal diam dalam hal ini, dia memilih untuk ikut serta kali ini.
" Honey aku nanti malam harus ikut orang orang menyusun rencana untuk membawa Bryan dan Antoni kabur!" Zac kini meminta izin kepada istrinya yang dari tadi hanya duduk di kasurnya dengan membaca buku buku miliknya.
" Hem.." Gumam nya pelan. Wanita itu nyata nya masih sangat marah kepada suaminya.
Dia marah dan kecewa karena selama ini dia telah menyembunyikan hal sebesar ini dan pada akhirnya putranya mengorbankan dirinya. Valerie sungguh tak ingin anak anak nya terjun ke dalam dunia gelap seperti suaminya dia ingin tenang di hidupnya bersama mereka.
" Honey please sudahi marah mu, aku tahu aku salah dan aku minta maaf dalam hati itu. Dada ku sakit melihat kamu seperti ini?" Lirihnya dengan nada sedihnya dan dia duduk di depan istrinya.
" Bukankah sudah ku katakan jangan berbicara pada ku jika kau tak membawa mereka di depan ku…" Jawabnya dengan sinis.
Valerie hanya menatapnya dia tak mengatakan apapun. Dia kini meletakkan buku yang dia baca tadi, menarik tangan suaminya, menempelkan bibir mereka. Val meluma* nya dengan pelan dan itu membuat Zac bersorak senang di hatinya.
Kesempatan emas itu tak ingin di sia-siakan oleh laki laki gondrong yang sangat menginginkan istrinya dari kemarin. Lumata* kecil kini membuat kedua insan itu terbuai oleh ciuman mesra mereka.
Val melepaskan ciuman itu ketika Zac mengharap lebih dari sekedar ciuman. Kening mereka saling menempel sempurna dengan mata mereka yang terpejam dan dapat dipastikan mata mereka terpancar api gairah.
" Pergilah dan hati hati, bawah mereka berdua dan kalian semua harus tetap hidup…" Katanya dengan lembut menyentuh rahang suaminya yang sudah mulai ditumbuhi bulu bulu.
Zac mengangguk meskipun dia kecewa karena sang istri tak melanjutkan aksinya dia tetap tersenyum. Sekarang bukanlah hal yang penting untuk melakukan ritual panas mereka tapi sekarang yang penting adalah menyelamatkan mereka dari sana.
***
" Siapa kalian?" Suara bariton dari sosok laki laki yang baru masuk rumah kecilnya kini langsung bertanya ketika ada tiga orang yang duduk di sofa nya.
" Tak penting kami siapa? Kami hanya ingin tahu di mana wanita ini berada?" Salah satu dari mereka menunjukan satu foto kepadanya.
Orang itu mengerutkan keningnga ketika melihat foto itu adalah Sarah, keponakannya yang saat ini sedang bersembunyi. Laki laki itu menatap ketiga orang itu dengan datarnya meskipun jantungnya sudah tak karuan berdetak.
" Saya tidak tahu Sarah dimana?" Ucapnya dengan berbohong.
Sarah yang selalu mengatakan dia sedang bersembunyi kini harus dicari oleh orang orang yang ingin kepentingan mereka.
" Kau tidak tahu? Sungguh?" Orang itu kini maju menghampiri nya dengan senyum sinisnya.
Bug!! Satu pukulan mendarat sempurna di perut orang itu yang tak ingin mengatakan di mana keponakannya berada.
" Katakan dimana dia?" Tanyanya dengan menjambak rambut laki laki itu.
" Sudah saya katakan saya tidak tahu…" Dia tetap tegas mengatakan bahwa dirinya tidak tahu.
" Dia tidak tahu bos!"
Bug!! Bug!! Dua pukulan kembali menyasar di perutnya hingga membuatnya tersungkur di lantai dengan cepat. Tetapi orang itu tersenyum sinis meskipun dia tersungkur di lantai dengan luka lebam.
" Jadi kalian juga yang telah membunuh Amel?, Pantas saja kalian tak memiliki hati kalian seperti binatang…" Ejeknya dengan puas. Orang itu kini dengan cepat berdiri, menatapnya dengan tatapan marahnya.
" Binatang?"
Bug! Bug!! Bug!!! Bug!!! Bug!!!
Orang itu kini menjadikan orang yang setengah tua itu seperti bola dia menendangnya tak karuan saat ini, dia tak peduli dengan rintihan orang yang saat ini tahu dimana wanita yang mereka cari.
" Kau menempati rumahnya dan kau mengatakan tidak tahu! Kau sungguh konyol dalam hal ini. Kau pikir kami bisa kau tipu heh?" Orang itu menatap sinis ke arah laki laki yang saat ini sudah dipegang oleh kedua orang nya.
Orang itu kini tertawa dia tak peduli jika nyawanya dalam bahaya yang terpenting dia bisa melindungi keponakannya saat ini. Rasa bersalah karena tak bisa menjaganya kini ditebus dengan melindungi satu keponakannya.