Ex Husband Is Broken

Ex Husband Is Broken
Memulai Serangan 2



" Di mana James?" Suaranya yang terdengar dingin dan sinis kini membuat semua orang yang ada di sana merasa merinding dan ketakutan.


Semua orang yang ada di sana kini secara bersamaan menunduk ketakutan tapi tidak untuk Bryan dan Antoni mereka memang sama menunduk tapi mereka tidak memiliki rasa takut sama sekali.


" Kami tidak tau bos…" Salah satu dari mereka kini menjawab dengan gugup.


" Aarghhhh…" Teriaknya dengan kesal. Dia juga hampir lupa bahwa tak hanya dia dan Erik yang tau pin ruangan tersebut.


" Maafkan saya Tuan Aaron…" Suara itu membuat Aaron menatapnya dengan dingin. " Saya tadi sempat melihat James keluar dari ruangan itu lalu dia terburu-buru keluar ketika anda berteriak memanggil Erik."


" Kau sungguh melihatnya?" Tanyanya dengan menyakinkan dirinya sendiri.


" Kami juga melihatnya Tuan Aaron…" Timpal Bryan yang juga ada di sana.


" Kurang ajar jadi ini ulahnya…" Dia menggertakan rahangnya dengan kesal. 


" Maaf bos apa ada masalah?" Mereka saling bertanya dengan rasa takutnya mereka semua saat ini ketakutan karena baru pertama kali ini mereka berhadapan langsung dengan sosok bosnya di tambah lagi dia sedang marah saat ini.


" Cari di sampai dapat! Saya tidak mau cari dia dan bawah di depan ku…" Perintahnya dengan cepat di angguki oleh mereka semua.


Dengan cepat mereka semua keluar untuk mencari tau dimana keberadaan James. Mereka dengan cepat berlari agar tak terkena imbasnya dari amukan laki laki tua itu. Bryan dan Antoni ikut mencarinya tapi mereka menarik bibirnya tersenyum dengan senang.


" Rencana kita berhasil dan tak ku sangka ada yang melihat James keluar dari sana dan aku tinggal menambahi bumbunya…" Bisiknya.


" Apa tadi anda melihatnya juga bos?" Bryan menggeleng dengan dia yang tertawa, Antoni merasa bosnya terlalu pandai untuk berakting seperti tadi.


_______


" Dingin.. dingin.. dingin.. tolong aku.. aku butuh kehangatan.. aku bisa mati di sini…" Rintihnya dengan pelan.


" Tolong pindahkan aku dari ruangan yang penuh dengan es ini.. tolong selamatkan aku…" Sambungnya dengan dia yang seakan berhalusinasi bahwa ruangan yang ia tempati di penuhi dengan es yang penuh sehingga membuat dirinya kedinginan seperti itu.


" Tolong.. tolong aku.. aku tidak ingin mati di sini.. tolong…" Sambungnya dengan dia yang sudah tak berdaya.


Badannya yang kekar kini terlihat kurus, wajahnya terlihat hitam dan berantakan. Di bawah matanya kini terlihat sangat hitam seperti seseorang zombie yang butuh makanan untuk energinya saat ini.


" Efeknya begitu kuat! Aku rasa obat ini memiliki efek yang lebih dari ini…" Seseorang yang ada di sana kini bisa menyimpulkan obat yang telah di makan secara paksa oleh orang orang itu.


" Kau benar!"


" Kalian belum tau efek semuanya kawan!" Timpal orang yang ada di sana saat ini.


" Apa maksudmu?" 


" Kau lihat saja nanti. Kau akan lebih kaget melihat reaksi obat setelah dia memakannya…" Kedua orang yang ada di sana kini merasa heran karena memang dia tak tahu apa efeknya yang mereka tahu saat ini efeknya hanya seperti orang yang sedang kecanduan.


" Tolong.. anda ingin menolong saya bukan.. tolong bawa pergi semua es yang ada di sini.. saya kedinginan…" Perintahnya dengan dia yang sudah benar benar tak berdaya.


Orang itu tak mengatakan apapun dia hanya mendekat lalu mencengkram kedua rahangnya lalu memasukan obat itu secara paksa. Dengan air yang juga masuk dengan di paksa. Orang itu kemudian pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun lagi. Kedua orang yang melihatnya kini heran.


" Sebenarnya apa yang ingin kalian tunjukan kepada kami?" Tanyanya dengan penasaran.


" Tunggu saja satu jam lagi, kalian akan tau apa reaksi obat itu setelah dia kedinginan seperti itu tadi."


Kedua orang itu sama sama mengerutkan keningnya dengan mereka yang juga tak tau apapun saat ini. Mereka hanya akan menunggu reaksi apalagi yang akan ditunjukan oleh laki laki yang tak berdaya itu.


\=\=\=\=


" Bos sebenarnya saya juga memiliki kecurigaan kepada James tentang penyerangan yang ada di kabin kita waktu itu…" Erik yang berjalan dengan menyentuh perutnya kini memulai pembicaraan kepada bosnya yang saat ini terlihat begitu marah.


" Penyerangan? Kabin?" Timpal Albert yang pura-pura tak tau masalah apa yang sedang mereka hadapi.


Aaron menghela nafasnya dengan berat menatap Albert dengan pandangan yang sulit diartikan saat ini. Ada rasa kesal ada rasa yang menyesal karena dia menuduh asistennya yang sudah bertahun tahun bersamanya dan ada rasa malu kepada Albert saat ini.


" Tuan Al maafkan atas tindakan ini, saya sungguh malu karena saya tadi sempat membanggakan senjata saya mengira tak ada satupun yang akan mengkhianati saya tapi rupanya masih ada orang yang ingin menguji saya di sini…" Suaranya yang dingin tadi kini melunak, dia yang tadi memasang kekerasan sekarang dia melunak begitu saja.


" Tak masalah Tuan Aaron saya mengerti. Terkadang kita yang baik kepada mereka selalu dibalas dengan kejahatan oleh mereka."


" Sekarang katakan apa yang membuat mu mencurigai James? Jangan asal kau bicara karena saya tidak suka kau menuduh tanpa sebuah bukti yang jelas."


" Saya memang belum mendapatkan bukti apapun Tuan tapi saya janji saya akan segera mendapatkannya…" Katanya dengan yakin.


" Jadi kau menuduh orang tanpa sebuah bukti? Kamu bisa di tuntut balik oleh orang yang kau cemarkan namanya…" Timpal Albert yang juga ada di sana.


" Ini bukan masalah hukum di negara Tuan Al, jadi saya harap anda tidak membawa hukum negara di kelompok ini. Karena di sebuah kelompok tidak akan menyangkut hukum negara, yang ada mati atau bertahan."


Albert tersenyum geli karena dirinya harus diberi tahu tentang tentang masalah kelompok oleh seorang laki laki yang umurnya jauh lebih mudah dari nya.


" Astaga mungkin pemikiran kita yang berbeda…" Albert hanya tersenyum kecut.


" Sudah hentikan jangan berdebat di sini, kau tak perlu mengajari atau memberi tau Tuan Albert sebaiknya kau urus senjata yang palsu itu. Jika kau masih belum bisa menemukan senjata yang asli maka kau harus menerima hukuman dari ku…" Perintahnya yang kemudian pergi dari sana. 


Albert yang menatap Erik dengan tatapan kasihan kini mendekati nya menepuk pundaknya dengan pelan.


" Aku tau bukan kamu yang ingin bermain main di sini, pasti ada seorang yang ingin menghancurkan kedekatanmu dengan Tuan Aaron, jika kau memiliki kecurigaan kepada James maka cari tau dan tangkap dia sebelum semuanya terlambat. Dan jika kau yakin itu memang James aku akan membantumu menjebak dirinya agar semuanya segera terbukti karena aku sendiri tak suka dengan kata kata pengkhianatan."


Albert dan Erik saling bertatapan dengan arti mereka yang berbeda, tatapan Erik begitu tajam dia bertekad untuk menangkap James.


" Dia akan menanggung akibatnya karena sudah berbuat seperti ini…" Ujarnya dengan dingin.