Ex Husband Is Broken

Ex Husband Is Broken
Pengejaran 8



Dor!! Dor!! Dor!!


Tembakan yang brutal kembali terdengar di sunyinya malam ini, suara yang begitu keras membuat semua orang berhenti dan saling terdiam. Bryan diam tak bergerak menyentuh sesuatu yang juga mengeluarkan darah segar dari arah tubuhnya saat ini.


Dia menekan darah yang keluar merembes. Sedangkan keempat orang itu kini langsung terjatuh tak bergerak di tanah. Tembakan itu tepat sasaran yang mengenai organ tubuh mereka yang langsung mati di tempat. 


" Bryan kamu tak apa?" Suara orang itu juga panik ketika melihat orang yang mereka cari ternyata juga sedikit goyah karena luka tembakan tersebut.


" Paman Abhi aku tak apa, ini hanya luka kecil…" Elaknya padahal dia juga tau rasa sakit bekas tembakan itu begitu perih.


Plak!!


Pukulan telak di kepala Abhi membuat Abhi menatap ke arah pelaku dengan tatapan sengit. " Kau berapa lama memegang senjata menembak musuh saja bisa meleset, untuk hanya mengenai lengan Bryan jika mengenai yang lain bagaimana? Dasar bodoh."


" He kau pikir aku sengaja melakukan ini?"


" Sudahlah Paman jangan bertengkar, aku tak apa ini hanya luka kecil…" Bryan meringis kesakitan sebenarnya ini bukan luka kecil tapi peluru itu masuk ke dalam lengan nya dengan cepat.


" Ayo kita harus pergi dari sini sebelum semuanya ada yang melihat kita…" Kedua orang itu mengangguk menyetujui apa yang dikatakan laki laki bertato yang juga ada di sana.


" Bereskan mereka dengan cepat, aku mau sebelum pagi semuanya sudah bersih, aku tak ingin ada yang tau satu orangpun. Jika ada yang tau lakukan seperti biasanya."


" Siap bos Andre."


" Bereskan!" Semua orang yang ada di sana kini mengangguk membiarkan ketiga orang itu pergi meninggalkan tempat kejadian dan mereka segera membersihkan tempat kejadian tersebut.


***


" Andre mengatakan bahwa Bryan bersama mereka tapi sepertinya mereka harus membawa Bryan ke tempat Nathan."


" Apa dia terluka parah?"


" Hanya luka tembak di lengan nya, Abhi salah sasaran. Dia malah menembak Bryan yang juga ada di sana."


Zac sedikit bernafas lega mendengar kabar tersebut meskipun putranya mendapatkan luka tembak setidaknya dia berada di orang yang tepat saat ini.


" Tapi Antoni belum ditemukan bos, dari keterangan Bryan mereka berpencar untuk memecah orang orang yang mengejarnya."


" Baiklah! Kita cari Antoni jika begitu."


" Tidak perlu bos!" Zac mengerutkan keningnya ketika dia yang ingin mencari malah di larang oleh orangnya.


" Kenapa? Bukannya Antoni belum di temukan?"


" Andre yang melarang kita mencarinya. Sebagian orang sudah perjalanan pulang ke markas. Andre hanya membawa timnya untuk mencari putranya. Dia tak ingin banyak orang yang terlibat dalam pencarian Antoni."


" Semakin banyak orang yang membantunya maka semakin cepat menemukan Antoni."


" Tapi Andre beralasan karena sebentar lagi pagi, jadi akan banyak orang yang beraktifitas di luar. Dia tak ingin orang orang curiga dan melapor ke polisi, jadi dia hanya membawa tim nya untuk mencari Antoni."


" Dia selalu bertindak dengan pemikiran matang. Aku tau dia sangat cemas kepada putranya tapi dia masih bisa berpikir jernih dalam kasus ini…" Zac mengangguk menyetujui apa yang di jelaskan oleh Albert saat ini.


Apa yang dikatakan oleh Andre memang benar saat ini. Butuh waktu untuk menemukan Antoni tapi dia juga perlu memikirkan apa yang terjadi jika banyak orang yang tau apa yang terjadi saat ini. 


" Kamu disini saja, jika tiba-tiba Antoni datang kabari aku. Aku akan ke tempat Nathan." 


Sedangkan Antoni yang terlelap kini terbangun ketika telinganya mendengar suara air dari kamar mandi. Matanya menatap sekeliling rumah yang tak ada cahaya lampu apapun di sana. Dia berdiri mencari sumber  bunyi air yang terus menyala. Telinganya kini di tempelkan ke sebuah pintu yang tertutup. 


Ceklek!! 


Pintu itu ternyata terkunci, Antoni berusaha untuk membukanya tapi tak bisa. Dia berusaha tapi nyatanya tak bisa terbuka.


" Oh shit…" Dia terpaksa mendobrak pintu tersebut.


Satu kali dua kali sampai tiga kali tendangan membuat pintu itu terbuka secara paksa.


Bruak!! 


Matanya langsung menatap orang yang sudah tenggelam di dalam bathtub. Antoni langsung menarik wanita itu yang lagi lagi ingin bunuh diri.


" Apa yang kau lakukan hah?" Teriaknya dengan kencang.


" Siapa kamu heh? Dari kemarin kau menghalangi ku. Apa mau mu?" Aneth tak kalah berteriak.


" Jangan bodoh jadi manusia. Bunuh diri tak menyelesaikan masalahmu, kau harus hadapi bukannya lari dengan mati…" Ucapnya dengan kesal.


" Siapa dirimu ikut campur dengan urusan ku heh? Kau hanya orang asing yang tiba tiba sok menjadi pahlawan disini. Sebaiknya kau pergi dari sini jangan halangi apa yang ingin aku lakukan…" Tatapannya begitu sengit.


" Aku memang orang asing dan aku juga tidak tau masalahmu apa, tapi disini aku bukan sok menjadi pahlawan, aku disini hanya ingin menyelamatkan nyawamu dari hal bodoh."


Aneth kini tertawa dengan keras tapi tak menjawab apapun, saat ini Aneth malah berdiri dan keluar dari bathtub dan masuk ke kamar nya dengan tawa yang terus terdengar.


Tok!! Tok!! Tok!!


Antoni masih cemas ketika wanita itu malah hanya tertawa tak mengatakan apapun. " He nona apa kau gila?"


" Iya aku memang gila karena kau selalu menggagalkan rencanaku untuk bunuh diri…" Katanya yang berteriak juga dengan kencang.


" Buka pintunya!" Perintahnya dengan cepat. " Buka atau aku dobrak pintu ini…" Antoni kini mengancam Aneth ketika pintu itu tak terbuka.


Aneth yang berada di dalam kamar kini merasa jengah karena lagi lagi orang yang berada di luar kamar itu malah mengancamnya.


" Sebenarnya siapa dia kenapa dia sangat peduli dengan ku?" Gumam nya dengan pelan.


Ceklek!!


" Kau puas sekarang Tuan! Sekarang mau mu apa heh?" Aneth menyilangkan tangan nya ke dada menatap Antoni dengan kesal karena semua rencananya telah di gagalkan oleh nya.


" Aku harus per-"


" Ya silahkan pergi dari rumahku, tak perlu berterima kasih apapun, jadi silahkan pergi…" Usirnya dengan senang.


Antoni tak berkata apa apa tapi dia malah menarik tangan wanita itu. " Apa?" 


" Sebaiknya kau ikut aku karena jika aku meninggalkan mu sendiri di sini maka kau akan melakukan hal gila itu."


" He tunggu dulu, mau kau bawah kemana aku hah?" Berontaknya dengan kencang.


" Ikut saja."


" Tidak! Aku tidak mau ikut denganmu. Kita tak saling kenal jadi aku tak ingin ikut…" Antoni berhenti ketika Aneth semakin memberontak.


Antoni menatap ke belakang menatap Aneth dengan senyum miring. " Aku Antoni dan kau Aneth bukan, jangan bertanya aku tau namamu dari siapa? Karena namamu ada di depan kamarmu. Jadi kita sudah saling kenal bukan? Ayo ikut aku jangan banyak bertanya."


" Tidak aku tidak mau ikut."


" Jika kau tak mau ikut maka aku akan mencium mu di sini sampai kau lemas…" Aneth terdiam dengan mata yang melotot. Antoni menatapnya dengan tersenyum karena ancamannya berhasil saat ini. 


" Bagus! Jadilah wanita penurut!"