Ex Husband Is Broken

Ex Husband Is Broken
Bertemu 1



Pov Sarah


" Sayang aku hari ini ada tugas penting, mungkin beberapa hari aku tak akan pulang jadi sementara kau harus berada di rumah bersama Mommy…" Aku tertegun mendengar apa yang dikatakan oleh kekasihnya, tinggal satu rumah dengan ibu nya sama saja membuat ku mati kutu di sana.


" Bry apa aku tak salah mendengarnya?" Aku tak ingin di sana sama saja dengan aku yang akan terjebak di sana. Bukan masalah aku tak sopan tapi ini masalah keberanian. Ibunya memang baik waktu itu tapi aku takut dia berubah setelah tahu aku menjadi kekasih anak nya.


" Honey apa yang kau takuti? Mom tak akan menggigitmu!" Memang benar dia tak akan menggigit ku hanya saja ini butuh keberanian.


" Aku tahu Sayang hanya saja aku belum siap berhadapan langsung dengan Mommy mu. Bukan kerana aku tak serius hanya saja aku belum siap bertemu…" Meskipun aku pernah bertemu dengannya tapi aku belum siap bertemu kembali dengan mengakui aku menjadi kekasihnya.


" Mommy pasti senang jika kamu ada di sana…" Benarkah? Tapi kenapa aku malah takut memikirkan ini semua.


" Bryan jangan katakan apapun kepadanya jika kita memiliki hubungan, kau sudah sepakat bukan dalam hal ini?" Aku masih tak ingin ada yang tau hubungan ini aku hanya takut mereka tak menerima hubungan ini.


Aku menatap kearahnya dan aku melihat dia yang menghela nafasnya dengan berat. " Aku sudah katakan bahwa tak ada yang tahu tentang hubungan ini Sayang, hanya kita berdua. Tapi jika Paman Albert yang memberi tahu nya maka jangan salahkan aku."


Aku melupakan satu hal lagi bahwa sebenarnya ada yang mengetahui tentang hubungan ini. Tapi apa mungkin jika Paman Albert memberi tahu bahwa aku dan Bryan memiliki hubungan.


" Kenapa kau takut sekali dengan keluarga ku hem?" Aku hanya takut mereka tak menerima ku karena status kami yang sangat berbeda jauh. " Apa karena status sosial yang kamu pikirkan?"


" Salah satunya itu Bry. Maafkan aku tapi untuk sementara jangan ada yang tahu, bukan karena aku tak mencintaimu hanya saja aku belum siap tentang semuanya…" Aku belum siap kehilangan orang yang aku cintai, mungkin nanti mereka tak akan terima jika aku mencintai anaknya.


Mereka memiliki status sosial yang begitu tinggi sedangkan aku hanya orang biasa yang tak memiliki apapun, bahkan adikku adalah orang yang bekerja dengannya. Aku hanya takut mereka memisahkan kami, hanya itu. 


" Kita sudah pembahasanya bukan? Jadi aku tetap dengan kataku bahwa hanya kita yang tahu tapi jika nanti masalah kita selesai dan balas dendam ini berakhir aku akan mengatakan kepada mereka jika kita memiliki hubungan!" 


Sebenarnya aku tak tahu kapan masalah ini berakhir hanya saja aku menyetujui jika semua ini berakhir mungkin aku masih bisa berpikir bahwa aku memang harus mengatakan dan membongkar hubungan ini.


" Iya aku setuju…" Aku menyetujuinya karena aku memang tak tahu kapan masalah ini akan berakhir.


Meskipun sebenarnya aku tak ingin masalah ini dilanjutkan, aku ingin semuanya tenang dan biarkan hukum yang berbicara tapi untuk saat ini aku tak akan berkomentar apapun karena pertengkaran kemarin sudah cukup menjadi bukti bahwa mereka tak ingin mengakhiri balas dendam ini meskipun akan banyak korban nantinya.


" Bersiaplah kita akan kerumah Mommy setelah ini, kau harus tinggal di sana untuk beberapa hari selama aku tak pulang…" Aku hanya mengangguk dan menerima apa yang sudah ia pikirkan meskipun hati ku tak mau tapi ini semua demi kebaikan ku.


✨✨


Pov Bryan


Aku tak pernah mengerti dengan jalan pemikiran seorang wanita karena apa yang ada di pikirannya dan di hatinya berbeda. Terkadang juga apa yang mereka inginkan berbeda dengan apa yang mereka ucapkan saat ini. 


Aku yang ingin serius dengan kekasihku malah dibanting ke dasar karena alasan status sosial. Apa hubungannya dengan status sosial kami? Aku yakin kedua orang tua ku tak akan membandingkan status kami yang berbeda. 


Tapi baiklah aku akan menurutinya aku akan mengiyakan asal dia bisa tenang. Hari ini aku memang sengaja membawa Sarah kerumah orang tua ku karena aku yang akan mulai menjalankan misi ku. 


" Sayang kau sudah siap?" Aku berdiri di ambang pintu memperhatikan dia yang mulai berkemas. Aku tahu wajahnya begitu panik.


Seharusnya dia senang aku ingin memperkenalkan dia sebagai kekasihku kepada keluarga tapi wanita ini begitu aneh, mungkin dia satu satu nya wanita yang tak ingin aku perkenalkan dengan keluargaku. Dia selalu menolak jika aku berkata ingin mengatakan kepada semua orang tentang status kami. Mungkin jika wanita lain mungkin dia akan lompat kegirangan dan mungkin akan banyak yang memaksa ku untuk mempublikasikan status kami.


" Sebentar lagi Sayang! Kurang sedikit…" Dia tersenyum meskipun dia khawatir bukan main. 


Aku hanya menghela nafas menerima senyuman itu meskipun aku tau dia ingin menolak untuk tinggal di sana tapi dia tak mengatakan apapun.


" Sayang kau tahu bukan aku menyuruhmu tinggal di sana hanya agar kau lebih aman…" Aku memeluknya dari belakang.


" Aku tahu. Aku tak akan takut atau merasa canggung asal mereka tak tahu hubungan kita berdua…" Aku menghela nafas dan mengiyakan apa yang dia mau. Meskipun aku sebenarnya ingin mengatakan kepada orang tua ku bahwa kami memiliki hubungan lebih sekedar teman.


" Kau itu adalah wanita yang paling aneh yang aku temui, setiap ada wanita yang dekat denganku mereka selalu meminta aku untuk mengenalkannya kepada keluargaku tapi kau malah tak ingin aku kenalkan sebagai kekasihku. Kau sangat aneh Honey!" Dia memang wanita unik mungkin dia tak tergiur dengan harta ku.


" Bukan karena aku tak ingin kau kenalkan Sayang hanya saja aku belum siap kau kenalkan sebagai kekasihmu. Kau tahu alasannya bukan?" Iya aku memang tahu alasannya karena dia berpikir status sosial kami yang mungkin berbeda jauh.


" Aku tahu dan aku menghargai apapun keputusanmu. Tapi kau juga harus menghargai keputusanku jika nanti masalah kita selesai aku ingin semua orang tahu hubungan kita."


" Iya Sayang jika masalah ini selesai."


Dan aku berharap masalah ini akan segera berakhir dengan cepat. Sebenarnya aku bisa saja membatalkan misi ini tapi tak mungkin, aku masih ingin membalas dendam tentang kematian orang tua. Bersabar sedikit saja mungkin bisa kami lakukan hanya sebentar aku janji hanya sebentar dan masalah ini akan selesai dengan segera.