Ex Husband Is Broken

Ex Husband Is Broken
Keputusan 2



" Tidak! Aku tidak akan mengakhiri hubungan ini!" Tolaknya dengan cepat. 


" Tapi ini semua akan menjadi beban antara kita! Kau tak percaya padaku buat apa hubungan ini berjalan tak ada gunanya…" Katanya dengan nada lemah. Dia juga tak ingin tapi dia juga tak bisa berjalan dengan orang yang tak percaya.


" Tidak! Apapun yang terjadi aku tak akan mengakhiri hubungan ini…" Bryan tetap menolaknya dengan keras.


" Kau tak ingin mengakhirinya tapi kau tak percaya padaku? Untuk apa hubungan ini Bry? Hanya untuk menyiksa ku atau hanya untuk memojokkan ku?" 


" Terserah kau mau berkata apa yang jelas aku tak ingin mengakhiri hubungan kita begitu saja."


" Aku ingin kita berakhir Bryan, kau dan aku memiliki pemikiran yang berbeda. Mau atau tidak aku ingin kita berakhir dan mulai sekarang aku akan pergi dari sini, aku akan kembali kerumah ku. Terima kasih untuk semuanya…" Sarah dengan cepat berbalik dia ingin masuk ke dalam kamarnya.


" Tidak! Aku tidak akan membiarkannya…" Bryan mengejarnya dia tak ingin ini semua berakhir begitu saja. 


Sarah tak peduli dia terus berjalan dengan menghapus air mata yang sudah turun. Tapi dia berusaha kuat, dia lelah jika setiap hari harus ada pertengkaran seperti ini, pertengkaran yang jelas menurutnya.


" Jangan pergi ku mohon!" Bryan menangkap tubuh kecil Sarah memeluknya dari belakang dengan erat. Sarah diam seribu bahasa. " Aku salah aku minta maaf.." Ujarnya dengan tetap memeluk Sarah dari belakang.


" Aku dari semalam tak bisa tidur memikirkan ini semua dan aku sadar aku sudah keterlaluan. Aku dari tadi menunggu mu untuk mengucapkan permintaan maafku bukan untuk mendengar kau mengakhiri hubungan ini…" Lirih nya dengan nada sedih.


" Kau tak percaya dengan ku Bry, lalu untuk apa hubungan ini. Sebuah kepercayaan dalam hubungan sangat dibutuhkan. Membangun komitmen harus dilandasi dengan kepercayaan satu sama lain."


" Aku tahu dan aku salah sudah tak percaya denganmu atau malah menuduh mu yang tidak-tidak. Aku minta maaf untuk soal itu, sekarang aku tahu bahwa kamu hanya mencintaiku dan aku hanya mencintaimu. Jadi please jangan katakan kau ingin pergi dariku…" Katanya dengan memohon. Mereka saling mencintai hanya salah komunikasi yang tak terjaga.


Bryan membalik tubuh Sarah hingga mereka saling berhadapan dengan pandangan mereka yang masih terlihat jelas ada cinta di sana.


" Apapun yang terjadi kita akan saling bicara tak akan saling bertengkar atau berteriak satu sama lain. Ini hanya kesalahpahaman yang seharusnya tak ada. Aku tahu aku salah saat ini maka biarkan aku yang menebus nya dengan memberikan kepercayaan penuh kepadamu…" Sambungnya dengan menyentuh pipi wanita nya.


" Apa kau bersungguh-sungguh mengatakan kau percaya padaku? Aku tak ingin hanya mendengar dari mulut mu, tapi aku ingin itu juga dari hati mu."


" Hem.. aku sungguh dari hatiku. Semalaman aku berpikir bahwa aku laki laki bodoh yang masih menganggap mu memiliki rasa kepada pembunuh adikmu. Seharusnya aku tak perlu memikirkan hal itu, aku seharusnya percaya padamu bahwa kau tak mungkin memiliki rasa dengannya."


Bug!! Bug!!


" Kau terlalu Bryan, kau sungguh bodoh jika berpikir bahwa aku memiliki rasa dengannya. Kau memang bodoh…" Sarah memukul dada Bryan dengan pelan dia melampiaskan semuanya dengan kesal.


" Aku minta maaf! Aku memang laki-laki bodoh. Kau bisa memukulku tapi jangan katakan untuk pergi dari sini…" Bryan membiarkan wanitanya mengamuk di sana, meskipun pada akhirnya pukulan itu terasa sakit dia hanya diam.


" Kau memang bodoh! Dasar laki laki bodoh!" Air matanya tak sanggup untuk tak keluar dia menangis dia merasa hatinya yang tadi tertusuk kini lenyap sudah.


Dia yang berpikir bahwa dia akan kehilangan cintanya tapi nyatanya cinta nya masih bersamanya takdir masih ingin menyatukan kedua insan yang masih saling mencintainya dan saling ingin berjuang. 


Mereka saling berpelukan dengan erat saling mencintai tak mungkin untuk saling berpisah. Kesalahan kecil mampu mereka lewati saat ini. Kepercayaan dalam hubungan dibutuhkan oleh mereka. Landasan suatu hubungan ada kepercayaan yang paling utama jika tak ada kepercayaan untuk apa bertahan dengan hubungan yang hanya memakan waktu sia-sia.



\=\=\=


" Kau yakin tempat ini aman untuk kita bertemu dengan orangnya?" Erik melihat sekitar dengan mata yang melirik kesana kemari.


" Kami sudah menelusurinya bos! Semuanya aman tak ada yang mencurigakan. Di sini aman tak ada siapapun hanya ada kita."


" Apa kita harus menunggu lama orangnya?" 


" Tidak bos! Mereka mengatakan bahwa mereka sudah dekat. Dan orang-orang kita juga berjaga jaga di sekitar area sini. Jika ada mobil polisi atau mereka menjebak kita maka kita sudah langsung pergi…" Erik mengangguk.


Tak mudah membawa barang sebanyak itu dan tak mudah membuat kepercayaan begitu saja kepada mereka yang baru mereka kenal. Bahkan melihat orangnya saja belum pernah. Mereka berjaga-jaga dengan membawa senjata tentu saja, untuk melindungi dirinya jika hal yang tidak ingin terjadi di sana.


Erik kini berada di Villa tempat yang paling aman untuk mereka bertemu, Alex yang sengaja mengajak mereka bertemu di Villa miliknya yang jauh dari kota jauh dari keramaian.


" Apa mereka sudah datang?" 


" Seperti sudah! Kau lihat saja kita seperti diawasi oleh sebagian orang."


" Kalian tahu dari mana jika kita di awasi?" Alex yang tak pernah terlibat langsung dalam hal ini malah bertanya dengan konyolnya.


" Sebaiknya jangan banyak tanya Alex karena kau sendiri tak mungkin merasakan jika ada yang melihat kearah kita semenjak kita masuk tadi…" Timpal Abhi yang sedang membawa mobil itu.


" Benarkah?" Alex melihat kebelakang kesamping bahkan kedepan tapi dia tak melihat hal yang mencurigakan sama sekali.


" Sudah ku katakan kau tak akan tahu tentang hal seperti itu, sebaiknya kau diam saja dan duduk manis di sana. Jangan mencoba melihat nya lagi kau akan bertambah pusing nanti…" Ejeknya dengan tersenyum.


" Kau ini, aku hanya ingin tahu bagaimana kalian tahu jika kita sedang diawasi hanya itu…" Ucapnya dengan kesal.


" Ayah mertuamu juga seorang pimpinan mafia, Dragon Red dulunya tapi menantunya malah tak ingin meneruskan geng itu hingga membuat nama itu pudar dan mati. Seharusnya kau yang meneruskannya agar ada generasi penerusnya."


" Aku hanya ingin hidup tenang tak ingin ada darah di tanganku yang membuat anak-anakku mengikuti jejak kami. Hidup seperti ini saja sudah tenang. Jika aku seperti kalian sampai kapan ini akan berakhir? Apa akan ada cucu-cucu kita yang meneruskan usaha gelap? Aku tidak ingin membahayakan keluarga ku sendiri."


Abhi dan Andre yang di sana diam mereka berpikir bahwa apa yang dikatakan oleh Alex benar adanya, terkadang mereka juga berpikir sampai kapan mereka tetap terjun di dunia gelap. Mereka juga ingin berhenti tapi sepertinya sulit untuk mereka berhenti.


Sambung besok ya jangan lupa kasih like komen dan vote, jangan lupa mampir di Cinta Bernoda Darah 🙏🙏