
" Kau sudah sadar?" Bariton tegas dari seorang laki laki kini membuat orang yang saat ini terbaring langsung membuka matanya dengan cepat.
Dia berusaha untuk duduk meskipun kepalanya terasa pusing. Dia menatap sekelilingnya dan mengingat apa yang terjadi sebelum dia berada di sana.
" Kau ingat sekarang apa yang kau lakukan kepada orang bawahanmu?" Orang itu melipatkan tangannya ke dada dengan menatap sinis kearah laki laki yang duduk dengan bersandar.
" Sir apa mereka semua gugur?"
" Gugur kau bilang? Mereka semua mati karena ulahmu yang tidak mementingkan mereka sedikit saja. Apa yang kau lakukan disana sebenarnya heh?" Orang itu langsung marah marah tanpa menunggu orang itu kembali sehat.
" Saya diberitahu bahwa salah satu dari teman tahanan yang kabur ada di sana jadi saya dan beberapa orang juga mengikuti masuk hutan dan saya menemukan sebuah rumah yang besar. Saya masuk ke sana karena saya pikir bahwa rumah itu ada penghuninya Sir. Lalu-"
" Lalu kau mengorbankan mereka yang tidak bersalah hanya karena yang terlalu ceroboh dalam hal ini, apa kau pikir keluarga mereka tak hancur mendengar kabar mereka yang mati karena sebuah ledakan yang begitu dahsyat. Apa kau pikir mereka semua terima dalam hal ini? Coba kau yang berada di posisi salah satu keluarga mereka, apa yang kau rasakan?"
" Maafkan saya Sir saya akan bertanggung jawab atas kesalahan saya, saya seharusnya lebih hati hati dalam hal ini."
" Kau memang harus tanggung jawab."
" Saya akan membiayai semua keluarga mereka dengan uang pribad-"
" Uang? Kau pikir nyawa mereka bisa kau tukar dengan uangmu heh? Kau menganggap semuanya mudah kau beli denganmu? Apa hanya itu saja yang bisa kau lakukan untuk bertanggung jawab?" Laki laki itu kini tambah marah dia tak bisa mengontrol emosinya begitu saja ketika mendengar apa yang dikatakan oleh bawahannya.
" Aku tidak mau kau berada di kepolisian lagi, aku akan segera mengatakan kepada-"
" Maksud anda apa? Aku harus bertanggung jawab seperti apa yang anda maksud?" Dia panik tentu saja.
" Kau harus menerima hukuman mu dan masuk ke dalam penjara karena kelalaianmu kau meghilangkan banyak nyawa."
" Tapi Sir ini di luar kendali saya, saya tidak tahu bahwa rumah itu telah di penuhi oleh bom bom, jika saya tahu pun saya tidak akan membiarkan mereka semua masuk dan mengorbankan diri mereka…" Dia membela diri tentu saja dia tak ingin karirnya hancur saat ini.
" Kau pikir saya peduli dengan apa yang kau jelaskan, saya akan tetap memproses apa yang sudah menjadi kesalahanmu…" Orang itu kini segera berdiri.
" Maaf Jenderal yang terhormat anda tak bisa tiba tiba ingin memasukan saya ke penjara hanya karena saya lalai dalam tugas, setidaknya anda beri saya surat peringatan atau anda bisa menonaktifkan saya terlebih dahulu, apa anda lupa bahwa saya adalah Komandan Kriminal di kota ini."
" Kau bilang aku harus menonaktifkan mu atau memberimu surat Sp? Dan kau membanggakan jabatan mu di depanku,apa kau sadar dengan apa yang kau katakan kepadaku? Apa kau juga lupa siapa aku?"
Komandan ini terdiam dia tak bisa berkata apa apa selain dia baru sadar dengan semua ucapannya adalah kesalahannya saat ini.
" Kenapa kau diam? Bukankah kau tadi membanggakan dirimu dengan jabatanmu itu? Kenapa sekarang wajahmu tiba tiba pucat?" Sambungnya dengan komandan itu yang tak bisa menjawab pertanyaan dari Jenderal tersebut.
" Kau menantang ku dengan jabatan yang kau andalkan. Kau hanya seorang Komandan Kriminal sedangkan aku adalah Jenderal yang bisa kapanpun memasukan mu kedalam penjara atau bisa menonaktifkan mu seperti yang kau katakan tadi, aku tak butuh persetujuan siapapun untuk menyeret mu dalam kasus ini, aku tak butuh jawaban kau setuju atau tidak karena aku adalah Jenderal dan kau hanya seorang bawahan yang harus patuh kepada ku atasanmu…" Ucapnya dengan penuh penekanan.
" Aku ingatkan lagi bahwa yang menjadikanmu sebagai Komandan adalah aku! Aku adalah orang yang memilih dan memecat orang yang telah bersalah. Kau tidak memiliki kewenangan apapun di sini, keputusanmu tak ada artinya jika dibanding dengan keputusanku kau dengar itu…" Jenderal itu kini menatap komandan itu dengan tatapan amarahnya.
" Jadi jangan membanggakan jabatanmu yang tak ada sebanding dengan jabatanku, kau dengar itu…" Katanya lagu dengan membentak.
" Sir maafkan saya tentang semuanya, saya mohon beri saya kesempatan satu kali lagi dan tolong jangan lihat kesalahan saya yang hanya beberapa kali melakukan kesalahan tapi pertimbangkan kinerja saya yang juga bagus Sir…" Dia memohon berharap apa yang dikatakan oleh dirinya bisa mengubah keputusan dari Jenderalnya.
" Meskipun kinerja mu bagus dan kau memiliki banyak penghargaan tapi jika kau melakukan kesalahan yang fatal itu semua tidak ada artinya nya Alex, kau hanya akan terpuruk menyesali semua kesalahan yang kau buat sendiri. Sekarang jika aku membebaskanmu dan memberimu kesempatan aku tak tahu besok jika kau berperang akan banyak nyawa lagi yang kau korbankan jadi aku tidak ingin main main dengan nyawa seorang prajurit yang banyak. Jadi kau harus menanggung semua resiko atas kelalaianmu itu."
Tok!! Tok!!
Ketukan itu membuat kedua orang itu terdiam dan Alex tak menyangka ada tiga orang yang berpakaian lengkap militer yang masuk ke sana dengan pandangan kedepan.
" Sir ini surat yang ada minta, dan di dalam sana ada beberapa nama yang telah gugur dalam bom kemarin serta ada satu nama yang tewas dalam pengejaran buronan kemarin lusa."
Jenderal Excel mengangguk pelan dengan membuka dokumen yang ada di tangannya, tak hanya satu orang yang meninggal di sana tapi ada tiga belas prajurit yang meninggal dalam bom rumah yang dipimpin oleh Komandan Alex yang tidak hati hati dalam tugas.
" Borgol dia dan jaga dia mulai sekarang, setelah dia pulih bahwa dia penjara untuk bertanggung jawab apa yang dia lakukan."
" Tidak Sir saya tidak mau, saya hanya menjalankan tugas seharusnya yang ditangkap orang yang memiliki rumah bukan aku yang ditangkap Sir."
" Cukup Alex jangan membantah lagi semuanya sudah jelas kau melanggar kode etik polisi juga. Aku beritahu satu alasan yang kuat agar kau tahu kesalahanmu, kau tak mendapatkan izin dari siapapun untuk menggeledah rumah itu, kau tak meminta izin ku terlebih dahulu untuk datang ke sebuah rumah yang kau sendiri tak tahu siapa pemilik rumah itu. Kau mengorbankan prajurit yang hanya akan mengangguk jika kau suruh, mereka orangmu yang akan menuruti semua perintahmu."