
Pov Author
Cinta dan Balas Dendam mungkin akan menjadi satu tapi Takdir yang hanya bisa menentukan manakah yang paling utama saat ini. Cinta atau Balas Dendam yang akan di tentukan oleh Takdir yang sudah di gariskan oleh semua orang.
.
.
.
Sarah dan Cristian kini berjalan beriringan mereka sama sama terdiam dengan pemikiran mereka berdua masing masing. Sarah masih terkejut menerima kenyataan pahit ini tapi dia juga tak bisa mundur dari balas dendam yang sudah mengorbankan banyak orang yang tak bersalah.
Sarah sedikit menahan isak tangisnya dia tak bisa menahan air mata yang keluar dari mata nya saat ini, dia menangis dia masih tak menyangka bahwa laki laki itu sekarang adalah tersangka utama atas kasus ini.
" Kau harus kuatkan hatimu! Aku tahu ini sulit kau terima tapi kau harus siap menerima kenyataan bahwa memang dia pelaku ini semua…" Cristian mencoba berbicara meskipun sepertinya akan percuma.
" Aku hanya tak menyangka dia yang membunuh adikku, dia tahu bahwa adikku satu satu nya keluarga yang aku punya saat itu tapi dia begitu tega melakukan ini kepadanya, mengambil yang aku punya saat ini…" Tangisannya kini pecah dia tak mampu untuk berjalan dia berhenti menyenderkan kepalanya di dinding dengan isak tangis yang begitu menyayat hati.
Cristian menghela nafasnya dia tahu bahwa ini adalah hal yang paling buruk bagi dirinya, orang yang pernah ada di hati Sarah adalah orang yang tega membunuh adiknya dengan cara keji, tak ada yang lebih menyakitkan ketika kebenaran harus terungkap seperti ini.
" Kamu tak apa? Apa kamu bisa berjalan? Ayo aku antar ke kamarmu kau harus istirahat…" Cristian menyentuh kedua pundak Sarah sedikit merangkulnya membawa Sarah untuk masuk ke dalam kamarnya untuk menenangkan hatinya.
Sarah menunduk dia merasa malu menghadapi ini semua, orang yang pernah dicintai adalah dalang kekacaun ini semua, rasa sedih rasa menyesal menjadi satu di hati nya.
" Andaikan aku tak pernah terjebak cinta dengannya mungkin saat ini Amel dan Paman masih di sini bersama ku. Leon tak mungkin kehilangan Ayahnya dan aku juga tak mungkin kehilangan Amel…" Gumam nya dengan pelan dengan dia menghapus air matanya.
" Tak perlu kau menyesali ini semua Sarah semua nya sudah terjadi dan tak ada gunanya kamu menyesal. Jika saja kamu tahu ini semua akan terjadi aku yakin kamu tak akan mau menjalani hubungan dengannya, dan mungkin jika aku tahu Amel akan seperti ini aku akan segera menikahinya waktu itu."
Sarah terdiam dia melihat kearah laki laki yang membantunya berjalan, dia mengerutkan keningnya mendengar apa yang dikatakan oleh laki laki itu. Sarah tak tahu siapa laki laki itu hanya yang dia tahu adalah laki laki salah satu dari mereka.
Mata mereka beradu ketika Sarah berhenti dan menatapnya dengan tanda tanya, Cristian yang juga melihatnya kini telah salah bicara, harusnya tak sekarang dia memberi tahu siapa dirinya.
" Apa maksudmu menikah Amel? Siapa kamu sebenarnya?" Sarah mendorong tubuh laki laki itu hingga mereka kini berjauhan dengan saling menatap kearah nya.
" Maafkan aku, sebenarnya aku tak ingin bicara saat ini tapi sepertinya kau sudah harusnya tahu. Aku kekasih dari Amel, kami berencana untuk menikah tapi Takdir berkata lain dan mengambil nya terlebih dulu kami bersama lebih lama…" Cristian memejamkan matanya dia ingat betul rencana yang mereka susun hancur tak ada sisa saat ini.
Sarah menutup mulutnya tak percaya, rasa bersalah kini semakin memenuhi hatinya. Dia tak menyangka adiknya menyusun rencana pernikahan yang selalu diimpikan baginya.
Aku ingin menikah di pinggir pantai Kak, gaun yang serba putih, aku berdandan dengan cantik dan seorang pageran akan mencium ku dengan bahagia kami yang menjadi satu.
Sarah kini menangis semakin histeris dia lari meninggalkan Cristian yang terpaku melihat calon kakak iparnya pergi dengan tangisannya. Hatinya begitu hancur dan kenyataan selalu menghancurkan hatinya berkeping keping saat ini.
Bryan yang melihatnya ingin mengejarnya tapi seperinya kaki nya seakan ada ribuan paku yang menancapnya hingga membuatnya lagi lagi hanya bisa diam dengan pandangan datarnya.
" Kenapa Sarah lari? Apa dia menangis?" William kini yang bertanya ketika mereka sudah sejajar dengan Cristian.
Cristian kini merasa bersalah harusnya dia tak mengatakan kepada Sarah bahwa mereka telah memiliki rencana untuk sebuah pernikahan yang begitu indah.
" Harusnya aku tadi tak mengatakan kepadanya!"
" Apa yang kau katakan?"
" Aku mengatakan bahwa aku dan Amel adalah sepasang kekasih dan kami telah menyusun hari pernikahan dengan impiannya, Sarah menangis histeris hingga dia lari…" Suaranya begitu menyesal tapi dia sudah terlanjur berkata jujur kepada kakak mendiang kekasihnya itu.
Bryan yang tadi berusaha keras untuk tak menghampiri Sarah nyatanya gagal karena dia saat ini sudah berlari mencari wanita itu dan ingin memenangkan hatinya. Bryan tahu mungkin saat ini hati wanita itu hancur ketika mengetahui bahwa adiknya menyusun rencana pernikahan.
Hiks!! Hiks!! Hiks!!!
Tangisannya kini begitu keras dia tak bisa membendung tangisan nya, dia dengan keras menangis meluapkan kesedihannya. Dia tak menyangka lagi lagi dia harus mengubur rasa kebahagian adiknya.
" Tuhan kenapa engkau tega mengambil Nyawa adikku jika engkau tahu bahwa dia akan menikah dengan kekasihnya, kenapa Takdirmu begitu kejam kepada kami Tuhan. Apa salah kami hingga engkau menguji kami seperti ini…" Tangisannya kini pecah dia tak bisa membendung apa yang ada di hatinya saat ini.
" Kenapa engkau tak pernah memberikan kami rasa bahagia sedikit saja Tuhan, kenapa Takdirmu selalu menyakitkan kami hingga ke akar nya…" Sambungnya lagi.
Sarah saat ini duduk di sebuah taman belakang dengan dia masih menangisi nasib adiknya yang sangat tak beruntung.
" Aku tahu Tuhan hanya engkau yang bisa membolak balikan keadaan saat itu, hanya engkau yang bisa mengambil apa yang kami punya. Tapi kenapa engkau tega mengambil nya di saat dia ingin menikah, kenapa engkau tak izin dia merasakan kebagian…" Protesnya kepada Tuhan yang seakan dia tak memiliki keadilan.
" Aku selalu menerimanya Tuhan semuanya aku terima, tapi kenapa adikku yang kau ambil kenapa bukan aku saja, biarkan dia yang merasakan kebahagian yang diimpikan olehnya. Kepada engkau begitu tega kepada ku Tuhan? Kenapa?" Teriaknya dengan dia masih menangis.
" Kau harus tenang Sarah semuanya sudah menjadi Takdir kalian berdua…" Suara lembut dari sebelahnya membuat dia menatapnya sebentar.
" Takdir?" Dia tertawa pahit. " Kenapa Takdri seakan tak membiarkan kami bahagia. Dari dulu aku selalu berusaha menerima semuanya dengan tangan terbuka dan tak mengelu sedikitpun tapi kenapa sekarang Tuhan lagi lagi mengambil nyawa orang yang ingin bahagia dengan impiannya."
Satu dulu ya badan lagi kurang fit lagi seperti biasa nya 🤭 Cinta Buta mampir ya, kalau ada yang gak bisa buka bilang di komentar 🤗