
Sedangkan di apartemen Sarah saat ini sendiri dia sedang tak ditemani oleh orang orang Bryan, semua orang saat ini sedang siap siaga jika mereka di butuhkan oleh bosnya. Rencana kabur dari bosnya kini juga terdengar dan itu membuat mereka siap di posisi mereka masing masing.
Sarah yang hendak tidur kini mendengar suara orang berbisik bisik pelan di luar kamarnya,dia turun dari kasur dengan berjalan pelan seperti mengendap endap seperti dia yang tak ingin orang yang berbisik itu mendengar langkahnya.
Untungnya kamar dia dari tadi telah di kunci olehnya, dengan perlahan dia mengambil kunci itu mengintip dari lobang kecil yang ada di pintu. Jantungnya memompa begitu cepat ketika melihat ada beberapa orang yang ada di luar kamarnya.
Kedua tangan itu kini menutupi mulutnya sangking dia terkejutnya, dia tak menyangka mereka memasuki apartemen yang ditempati saat ini. Aliran darah kini begitu cepat dari ujung rambut hingga ujung kakinya.
Siapa mereka,kenapa mereka bisa masuk kesini. Batinnya.
" Kau yakin bahwa wanita itu tinggal di sini?"
" Aku yakin bos! Tadi aku mengikutinya hingga dia masuk ke sini."
" Tapi apartemen ini seperti tak ada orang sama sekali."
Mereka bertiga menatap sekelilingnya dan tak ada pergerakan siapapun yang ada di sana. Mereka yang saat ini memakai topeng untuk menutupi wajah mereka agar tak terlihat oleh siapapun.
" Saya yakin dia tinggal di sini bos."
" Ayo kita cari tapi ingat hati hati jangan membuat kecurigaan sama sekali karena jam segini seorang wanita pasti tertidur pulas…" Mereka berdua mengangguk inisetuju.
Mereka yang berjalan pelan kini mulai mencari keberadaan Sarah sedangkan Sarah kini tambah panik ketika melihat dan mendengar mereka mulai bergerak mencarinya.
Jika aku tetap di sini aku bisa mati, aku tak ingin mati sebelum melakukan balas dendam ku kepada orang orang yang membunuh Amel dan paman ku. Batinnya.
Sarah kini dengan cepat menata kasurnya dengan meletakkan bantal seperti ada orang yang tertidur di sana. Sarah menatap jendela besar itu dengan perlahan dia membuka, dia melihat setinggi apa apartemen yang ditempati.
" Kau masuk sana aku masuk sini…" Katanya dengan menunjuk ruangan ruangan yang tertutup.
Sarah perlahan menaiki jendela itu, dia keluar dari kamarnya dengan melewati jendela yang terbuka. Jantungnya seakan tak normal, kakinya terasa geli ketika melihat ketinggian yang ada di bawah kakinya.
Dengan kedua tangan memegang tembok yang digunakan untuk menahan tubuhnya, kekuatan tangan dan kakinya kini harus bekerja sama agar dia tak terjatuh. Tangan satunya kini berusaha untuk menutup kembali jendela yang terbuka agar mereka tak curiga jika dia keluar dari jendela.
Sarah perlahan berjalan menyamping dia tak ingin melihat ke bawah dia merasa tangan dan kakinya saat ini penuh dengan keringat karena menahan rasa takut serta rasa gemetar di seluruh tubuhnya.
Sarah berjalan perlahan sangat perlahan ketika dia hampir tiba di balkon apartemen nya, dia memajatnya dengan pelan dia turun juga perlahan agar tak menimbulkan masalah apapun di sana. Sarah berjalan mengendap endap agar tak ada yang tahu bahwa dia ada di sana.
Sarah kini kembali turun dari balkon nya, dia berusaha menggapai dinding yang ada di sana dengan pelan, dia berharap tangan dan kakinya saat ini bisa bekerja sama dengan baik untuk kabur.
" Disini tak ada siapapun bos."
" Tinggal satu ruangan ini yang belum kita periksa."
Ceklek!! Ternyata pintu itu masih terkunci dan itu membuat ketiga orang itu kewalahan untuk membukanya, mereka tak ingin ada suara sedikitpun agar tak menimbulkan masalah yang ada.
" Cepat buka…" Salah satu dari mereka kini membuka paksa pintu itu.
Mereka berdua kini tak sabar melihat ruangan yang hanya ruangan itu terkunci, mereka dengan cepat masuk ketika pintu itu terbuka. Senyum mereka sedikit mengembang ketika melihat selimut putih itu seakan ada orang di bawahnya.
" Saya katakan apa bos dia ada di sini!" Bisiknya dengan senang.
Kedua jari itu mengisyaratkan untuk orang orang nya maju dengan segera dan memeriksanya dengan cepat. Mereka perlahan maju agar tak menimbulkan bunyi sedikit pun.
Sedangkan Sarah kini perlahan berjalan menyamping kembali agar dia sampai di salah satu balkon orang lain yang ada di sebelahnya dia ingin meminta bantuan orang yang ada di sana. Tetapi nafasnya seakan terhenti, tangan dan kakinya sudah terasa sakit jika dipaksa terlalu lama lagi.
" Aku harus kuat, aku tak ingin mati konyol di sini…" Gumamnya dengan memberikan semangat untuk dirinya saat ini.
Kedua orang itu kini siap menerjang orang yang ada di bawah selimut dengan perlahan mereka membukanya dan mata mereka melotot sempurna ketika hanya bantal yang ada di sana. Bos dari mereka kini berlari membuka jendela dan menatap sekelilingnya dan benar saja dia melihat Sarah yang turun ke balkon tetangga nya.
" Tolong…tolong saya…" Teriaknya.
Salah satu orang yang belum tertidur kini segera membuka pintu balkon itu dengan cepat. " Tolong hubungi polisi katakan bahwa ada orang yang mengejar saya dengan menyelinap ke apartemen saya."
Sarah tak bisa menjelaskan banyak dia harus segera keluar dari sana dia tak ingin orang yang tak bersalah terkena imbasnya karena dia yang melarikan diri.
Tap!! Tap!! Tap!! Sarah lagi tanpa dia yang memakai alas kaki, dia terus lari dengan mencari perlindungan untuk dirinya.
" Itu dia bos…" Ketiga orang itu kini melihat Sarah yang masuk lift, Sarah dengan cepat menekan tombol lift agar segera tertutup. Dia yang panik ketika pintu lift tak segera tertutup.
Tapi kemudian dia merasa lega ketika pintu segera tertutup dia menyandarkan tubuhnya dengan keringat keluar deras dari dahinya. Sedangkan Bryan kini masih di kejar kejar oleh polisi yang dari tadi belum bisa menangkapnya.
Terjadi baku tembak yang jalanan malam ini dan membuat seluruh orang yang ada di sana langsung menghentikan mobilnya karena takut terkena timah panas yang menyasar.
Wush!! Suara ban yang terkena timah panas itu kini langsung bocor, Bryan memukul setirnya karena merasa kesal. Bryan dengan cepat lompat dari mobil yang masih menyala. Beberapa orang yang mengendarai mobil langsung menginjak rem ketika melihat ada seorang yang melompat dan berguling guling di jalanan.
Kecelakan kini langsung terjadi di sana ketika mobil yang ada didepan berhenti secara mendadak, klakson langsung terdengar bersahutan di tengah malam. Bryan bangun dengan menahan rasa sakit yang ada, dia lari dengan kencang ketika melihat arah polisi itu semakin dekat.
Bruak!! Duar!!
Suara tabrakan dan suara letusan itu kini membuat semua orang yang mengunakan jalanan pada malam hari menjadi saksi bahwa ada aksi kejar kejaran dan suara itu membuat mereka yakin bahwa ada korban di dalam kobaran api.