Ex Husband Is Broken

Ex Husband Is Broken
Memulai Serangan 7



Beberapa hari berlalu begitu cepat, setiap gerak gerik dari semua orang kini telah diawasi oleh seseorang yang sangat ahli. Dia cukup tenang tapi tak di ragukan mata elangnya seakan mengincar orang yang telah membuat semuanya menjadi kacau.


Dia yang mencurigai setiap orang kini mulai tak percaya kepada semua orang yang ada di depannya. Setiap orang yang ada di sekelilingnya kini menjadi pengawasan tersendiri dari nya. Kali ini dia lebih memilih untuk diam dan mencari tahu sendiri siapa yang ingin bermain main dengannya.


" Semuanya terlihat biasa saja dan baik baik saja, aku malah bingung siapa yang ingin bermain main di sini…" Dia mengusap wajahnya dengan kasar dia kini yang sudah menyelidiki sendiri seakan tak menemukan siapa di balik ini semua.


" Argh…." Teriaknya dengan tertahan.


Bug!! 


Dia yang mengacak-acak mejanya membiarkan semua berkas yang ada di meja nya jatuh di lantai. Dadanya naik turun dia menahan emosinya yang dari kemarin seakan tak menemukan siapa dalang dibalik pengkhianatan ini. Sedangkan kedua orang yang ia curigai malah saling menyerang dengan saling menjatuhkan sama lain.


" Di mana ponsel ku tadi? Aku harus menghubungi seseorang!" Dia mencari ponselnya yang tadi tergeletak di meja tapi meja itu kini bersih karena dia yang memberantakan tadi.


Matanya menangkan ponsel yang ada di bawah kakinya, dengan pelan dia menunduk mengambil ponsel itu tapi matanya menangkap satu benda yang ada di sana, matanya melotot tak percaya melihat apa yang ada di bawah meja kerja nya saat ini.


Sial… batinnya dengan tangan yang mengepal.


Sedangkan Erik saat ini berjalan jalan pelan dia harus berpikir keras mencari bukti untuk menangkap James agar dia mengakui kejahatannya selama ini. Rugi yang mereka dapatkan bukan main-main. 


Erik berjalan dengan berpikir keras tapi langkahnya terhenti ketika dia melihat seseorang yang berada sedikit jauh dengan gerakan yang mencurigakan saat ini.


" Rencana kita harus segera berhasil bos, malam ini kita harus segera mengakhiri permainan ini."


" Hmm.. aku sedang berpikir tentang bagaimana mengadu mereka kembali, kau pikir mudah mengadu mereka tanpa bukti…" Ucapnya dengan pelan.


" Bos sepertinya kita harus bertindak untuk rencana B, jika rencana B sudah berjalan aku yakin semuanya akan segera terselesaikan."


" Rencana B?" Orang itu berpikir sebentar sebelum dia berkata. " Aku belum pernah mengetahui rencana B itu, tapi nanti aku akan tanyakan kepada mereka, jika semuanya sama maka kita harus segera menyelesaikan rencana ini."


" Saya akan segera menghubungi mereka jika begitu bos."


" Yang jelas malam ini kita harus segera mengakhiri ini semua…" Kedua orang itu bertekad untuk mengakhiri permainan nya.


Mereka terlalu lama bermain main di sini, mereka terlalu lama berada di depan untuk menantang maut yang kapan saja menghampiri mereka. 


Sedangkan Erik yang tadi mendengarnya kini mengepalkan tangannya dengan rahang yang mengeras, dia tak menyangka kedua orang yang terlihat biasa saja kini malah orang yang sedang berusaha merusak geng mereka. 


Sial.. jadi ini semua ulah mereka berdua, kau lihat saja malam ini bukan kami yang harus kalian singkirkan tapi kami yang akan menyingkirkan kalian berdua. 


Erik dengan langkah cepat kini meninggalkan tempat itu dengan dia yang sudah membawa bukti di mana bukti itu akan membuktikan bahwa dia tak terlibat dalam hal ini. Wajahnya yang merah kini membuat semua orang yang melihatnya tak berani menyapanya meskipun hanya sekedar untuk bertanya.


Tok!! Tok!! Tok!!


Ceklek!!


Erik dengan tak sabar kini segera masuk keruangan bosnya dia tak sabar memberi tahu siapa dalang di balik ini semua.


" Bos maafkan saya tapi-" Dia diam ketika bosnya berdiri dengan jari yang terangkat untuk diam.


" Siapa yang berani berbuat seperti ini kepada ku?" Gumam nya dengan pelan. Aaron mengepalkan tangan nya dengan kuat serasa dia saat ini butuh orang untuk melampiaskan emosinya. 


Erik kini mendekat dengan dia yang berbisik sebentar yang membuat Aaron menatapnya dengan tak percaya. Dia tak percaya dengan apa yang dia dengar itu. Erik juga memperlihatkan sebuah video yang direkam tadi.


" Kurang ajar…" Emosinya tertahan ketika melihat video apa yang ada di depannya saat ini. 


Erik mendekat kembali ketika sebuah perintah, Aaron membisikan sesuatu kepadanya untuk menjalankan aksinya saat ini. 


\=\=\=\=


Nicolas kini yang tak bisa berkutik dia hanya bisa lemas dengan dia yang terbaring di lantai, wajahnya sudah berantakan, kulitnya kusam badannya terlihat kurus, bahkan mata nya sudah terlihat menghitam. Wajahnya begitu pucat terlihat mengerikan.


Jika aku terus seperti ini, maka aku akan mati di sini. Aku harus segera mencari cara untuk kabur dari sini, aku harus berpikir keras untuk melarikan diri segera. 


Akalnya telah kembali dia berpikir keras untuk melarikan diri. Tapi badannya yang terasa lemas tak berdaya membuatnya harus berusaha untuk memulihkan tubuhnya saat ini.


Badanku harus segera pulih, aku tidak akan memakan obat itu lagi, obat itu hanya akan membuat ku kecanduan dan tak memiliki tenaga seperti zombie. 


Tap!! Tap!!


Langkah sepatu itu masuk keruangan dimana Nicolas berada kini Nicolas berpura pura pingsan dengan dia yang tak ingin dipaksa untuk meminum obat yang membuat dirinya seperti benda mati yang tak bisa bergerak sama sekali.


" Hei bangun.. bangun…" Salah satu dari mereka menendang pelan tubuh Nicolas yang terasa lemas itu, tapi Nicolas berusaha untuk tidak bangun, dia harus tetap pura pura tak mendengar bahkan dia juga harus pura pura pingsan saat ini.


" Dia masih pingsan!" Tebaknya dengan dia yang jongkok di depan Nicolas.


" Hmmm.. kau benar…" Ujarnya dengan dia yang melihat Nicolas tak bergerak sedikitpun. " Tunggu dulu."


Byuar!!!


Salah satu dari mereka kini mengguyur Nicolas dengan kasar hingga membuat Nicolas tak bisa untuk tidak bangun segera. Kedua orang yang ada di sana tersenyum senang melihat Nicolas bangun dengan paksa.


Bug!!


" Kau pikir kami percaya kau pingsan heh? Dasar!"


Bug!!


Dia ditendang kembali membuat Nicolas kembali tersungkur di lantai, Nicolas hanya bisa tersungkur dia tak bisa terbangun dengan cepat. Badannya terasa lemas tak berdaya.


" Kau hanya bandit sampah yang mau menipu kami dengan pura-pura pingsan heh!" 


Sial mereka tahu bahwa aku hanya pura-pura pingsan, aku tak boleh meremehkan mereka ternyata.


Nicolas yang tadi percaya diri bahwa dia bisa menipu orang orang ini kini merasa kalah, dia tak bisa berkutik kembali dia tak bisa meremehkan apa yang ada di depannya saat ini.