
" Ayo aku obati dulu mukamu yang memar itu…" William dan beberapa orang kini telah tiba di sebuah rumah.
Sedangkan Nicolas kini berada di markas di mana dia masih sedang tak sadarkan diri, mereka masih ingin membiarkan laki laki itu pingsan.
" Hmm…" Bryan hanya bergumam.
Mereka semua kini berjalan masuk ke dalam rumah di mana para orang orang juga sudah menunggu kedatangan mereka. Tetapi langkah Brya tiba tiba terhenti ketika kedua matanya menangkap sosok wanita dan sosok laki laki sedang tengah duduk bersama dengan saling mengobrol. Bahkan wanita itu terlihat tertawa tak ada kesedihan di wajahnya.
" Kenapa berhenti?" William juga menatap kearah kedua mata sepupunya menatap tajam.
Mereka di sini dengan santainya saling tertawa sedangkan aku di sana mencari orang yang membunuh Amel. Dasar kurang ajar, lihat saja aku akan memberikan hukuman kepada mereka.
" Bry kamu baik bukan?"
" Ajak temanmu itu pergi dari sini sebelum aku menjadikan dia musuh samsak ku berikutnya…" Perintahnya dengan dingin dan tegas.
Bryan langsung berjalan kembali dengan mata nya yang tak ingin memandang pemandangan yang begitu menyakitkan hatinya. Dia berusaha keras untuk tetap tenang dia berusaha untuk tidak memperlihatkan emosinya.
" Kalian sudah datang? Aku tak mendengar suara mobil…" Sarah yang langsung berdiri ketika melihat Bryan berjalan melewatinya begitu saja.
Bryan langsung menghentikan langkahnya, dia menoleh kearah belakang dengan tatapan yang begitu tajam untuk kedua orang yang saat ini juga menatap kearahnya.
" Tentu saja kamu tak mendengarnya kalian terlalu asik mengobrol hingga melupakan bahwa kami mempertaruhkan nyawa untuk menangkap musuh…" Sindirnya tepat sasaran.
" Kami hanya sedang membahas Am-"
" Tak penting kalian sedang membahas apa…" Bryan kini langsung pergi meninggalkan kedua orang yang saling berpandangan.
Sarah hanya menghela nafasnya dia tahu laki laki itu pasti masih marah karena dia yang tak ingin memiliki status dengannya, bukan karena tak mencintainya tapi karena dia takut sosial dari keluarga Bryan yang begitu mentereng di mana mana.
" Cris sebaiknya kau pulang, hati Bryan sedang tak baik…" William berbisik pelan kepada sahabatnya itu.
" Masalahnya dengan ku?"
" Dasar bodoh…" Umpatnya dengan kesal. " Sarah kami pulang dulu sebaiknya kau istirahat, selamat malam…" William dengan segera menarik Cristian untuk pergi dari sana sebelum sepupunya benar benar menghajar sahabatnya di sana.
Cristian bertanya tanya tapi dia tetap saja mengikuti langkah sahabatnya itu. William sekarang tau kenapa emosi sepupunya tadi dengan Nicolas begitu memuncak.
Sedangkan Bryan terhenti di sebuah lorong di mana dia hanya melihat Sarah sendiri di sana, dia juga melihat kedua laki laki itu pergi dari sana. Sarah akhirnya memilih untuk kembali ke kamar dengan perasaan yang bersalah.
Dia bersalah telah menolak Bryan tapi dia juga tak ingin merusak semuanya, keluarga Bryan sudah melindungi dirinya sudah membuat dia memiliki hutang nyawa dia tak mungkin masuk ke dalam lingkaran orang orang yang memiliki kekuasaan seperti ini.
" Arg…" Sarah berteriak ketika secara tiba tiba tangan nya ditarik paksa oleh orang ketika dia ingin masuk ke dalam kamarnya. " Bryan kau mau membawaku kemana?"
" Bryan tunggu dulu kau mau mengajakku kemana? Katakan sesuatu!" Bryan menarik paksa Sarah dia tak peduli dengan suara Sarah yang dari tadi bertanya tanya.
Bryan yang tadinya ingin menahan emosinya nyata nya dia tak bisa, nyata dia gagal. Dan kini dia masih menarik paksa wanita yang dari kemarin mengganggu pikiran dan hatinya.
Ceklek!! Mereka kini masuk ke dalam kamar Bryan, Sarah termenung dengan menatap Bryan ketika mereka masuk dan Bryan menutup pintu itu dengan menguncinya. Kini mata Sarah menangkap luka lebam di pipi Bryan.
" Pipi ku lebam…" Dia yang ingin menyentuh pipi itu kini di tepis dengan kasar oleh laki laki itu.
" Apa mau mu sebenarnya Sarah?" Katanya dengan nada tinggi. Sarah mengerutkan keningnya karena dia tak tahu apa maksud dari laki laki itu.
" Apa? Aku tak mengerti apa maksudmu?"
" Jangan polos Sarah! Aku tau kau hanya mempermainkan ku, setelah kau memberikan harapan kepadaku lalu kau membuangku, setelah itu kau berhasil menghancurkan hatiku kau mendekati laki laki lain…" Bryan mengatakan semua yang ada di pikirannya dengan nada emosinya.
" Aku mendekati siapa? Apa yang kau kata-"
" Jangan pura pura polos!" Bentaknya membuat Sarah terkejut dengan memejamkan matanya. " Aku tau kau sekarang lagi mendekati Cristian, apa kau tak sadar bahwa dia calon adikmu yang meninggal. Apa tak ada laki laki lain yang ingin kau dekati setelah aku, jangan memberiku harapan lalu kau mencampakkan nya lalu kau mendekati laki laki lain."
Sarah termenung dia terkejut laki laki yang ada di depannya ini bisa mengatakan itu semua, Sarah terdiam cukup lama membuat Bryan semakin marah dengannya.
" Kenapa bukan orang lain yang kau dekati, kenapa harus Cristian? Apa karena dia lebih tampan dan lebih mapan dari aku. Ternyata semua wanita sama saja hanya mencintai harta."
Sarah meremas ujung bajunya sendiri hatinya terluka tentu saja dia terluka atas hinaan yang sengaja di lontarkan oleh Bryan saat ini. " Kenapa kau diam? Jadi benar kau hanya mengincar harta para laki laki?, Ahh tunggu kemarin aku sempat melihat tubuhmu dan aku akan membayarmu tunggu di sini."
Bryan dengan segera mengambil sejumlah uang yang ada di tas kecil nya, dia mengambil tangan Sarah meletakkan uang itu di tangan Sarah dengan cepat. Sarah menatap uang itu dan lalu menatap Bryan dengan rasa sesak di dada nya.
" Kenapa diam? Apa karena uang itu kurang untukmu?" Tanyanya dengan sinis.
" Aku tak butuh uangmu?" Sarah melempar sejumlah uang itu tepat di depan muka Bryan hingga membuat uang itu berhamburan jatuh di lantai kamar.
Mata mereka beradu pandang dengan arti yang berbeda. " Aku diam karena aku masih mendengar semua hinaan yang kau katakan kepada ku, aku diam karena aku sadar bahwa aku tak pantas mendapatkan laki laki terpandang sepertimu ataupun Cristian…" Dia menekan kata katanya dengan kasar.
" Jika kau beranggapan aku sekarang mendekati Cristian karena dia lebih tampan dan lebih mapan kau yang bodoh! Kau mengatakan cinta kepadaku tapi kau sekarang kau merendahkan ku atas tuduhanmu yang merendahkan ku…" Sarah tersenyum kecut.
" Lihatlah kau dan aku berbeda, jalan pemikiran kita pun berbeda saat ini. Apa kau tak bisa melihat dan merasakan apa yang aku rasakan, aku dan kamu melakukan itu karena apa? Apa karena perasaan atau karena uangmu? Pikiran itu baik baik Bryan."
Bryan terdiam dia tak tahu kenapa emosinya saat ini begitu meninggi dia tak bisa mengontrolnya hingga dia meluapkan emosinya dan mengatakan hinaan itu kepada wanita yang dicintai olehnya.
Sambung besok ya 🤭 satu rumah pada sakit jadi mince baru sempat ngetik buat kalian semua 🙂 Vote nya bisa di kasih ke mince dong ini kan sudah hari senin 🤗 makasih ya 🤗😘