
Sedangkan Alexander kini masih tergulai lemas tak berdaya karena pukulan demi pukulan terus ia terima beberapa hari ini. Dia tak bisa bergerak rasa sakit pada perutnya kini masih terasa sangat menyakitkan. Kakinya bahkan tak bisa di gerakan karena luka pukul pada lututnya yang bertubi-tubi.
Darah yang mengering kini ada di mana mana sekujur tubuhnya di penuhi dengan luka serta darah yang mulai tercium amis. Tapi Alexander tak bisa menyuruh orang untuk membersihkannya, dia hanya terbaring di lantai yang sedikit basah karena darah dan keringat.
Lantai itu menjadi saksi di mana semuanya telah hancur berkeping-keping, kedudukan yang di bangga-banggakan tak ada gunanya saat ini. Mungkin dia salah tapi niatnya memang baik dia hanya ingin melindungi adiknya, tapi sayangnya para musuhnya bukanlah musuh yang menerima kekalahan dengan mudah.
Dendam ini membawa semuanya ke dalam kehancuran, membawa mereka dalam kematian yang menyakitkan. Tak hanya Alexander tapi Nicolas juga tersiksa seperti orang mati. Mereka hidup tapi seperti orang mati, siksaan demi siksaan mereka terima saat ini.
Suara pintu sel yang terbuka secara terburu buru membuatnya bergerak tapi dia tetap tak bisa bangun dari dia yang tengkurap di lantai. Dia tau orang yang datang hanya akan menyiksanya.
" Alex bangun.. Alex.. kau mendengarkanku bukan?" Tepukan pada pipi serta suara panik dari seseorang membuatnya membuka mata dengan cepat. Meskipun mata nya sakit untuk terbuka kini dia terpaksa membukanya melihat dengan nyata siapa yang ada di sana.
" Alex.. kau mendengarkan ku bukan? Kau bisa mendengarkan suara ku?" Lagi lagi dia mendengar suara itu, suara yang dia tau pasti siapa orangnya.
" An..gel.. kau.. kah.. itu…" Terbata bata dengan pelan. Bahkan sangat pelan.
" Akhirnya kau masih bertahan, kau masih mengenalku bukan?"
" Ang-"
" Jangan bicara apapun! Kau cukup untuk mengangguk jika kau setuju dengan apa yang aku katakan dan cukup menggeleng jika kau tak ingin kita melakukannya…" Alex hanya mengangguk dengan pelan.
Saat ini tenaganya seakan tak ada sisa sama sekali, dia sudah kehabisan tenaga. Para sipir itu menyiksanya bagaikan hewan yang harus mati. Tapi Alex masih mampu bertahan meskipun siksaan terus menerus terjadi.
" Ayo bangun aku akan membantumu untuk bangun. Setidaknya duduklah!" Alex hanya menggeleng.
Angel kini membantu Alex untuk bangun meskipun dia hanya mampu menahan rasa sakit pada perut nya ketika dia berusaha untuk bangun. Alex hanya meringis kesakitan saat ini dia tak bisa berteriak karena jika dia berteriak tak hanya dia yang terancam tapi Angel akan ketahuan saat ini.
" Apa.. yang kau lakukan disini.. pergi dari sini Angel…" Lagi lagi dia hanya mampu berkata pelan dengan terbata-bata.
Angel terdiam ketika melihat wajah Alex yang sudah bengkak, matanya merah karena pukulan, darah yang dari hidung pun juga sudah mengering saat ini.
" Mereka sungguh keterlaluan! Apa mereka sengaja ingin membunuhmu hingga membuatmu seperti ini…" Amarahnya tak tertahan ketika melihat semuanya dari dekat.
" Angel pergilah.. jabatanmu akan terancam jika mereka melihat kau ada di sini…" Usirnya.
" Aku disini untukmu! Aku meminta maaf jika aku tak mengatakannya maka ini tak mungkin terjadi…" Suaranya bergetar air matanya tak bisa terbendung lagi.
" Tak apa semuanya sudah terjadi, tak bisa diubah lagi. Ini adalah hukuman ku jadi aku harus menerima nya…" Tangannya terangkat untuk menghapus air mata itu.
Angel masih terus menangis. " Jangan menangis lagi, semua sudah baik baik saja. Luka ini hanya tinggal pemulihan saja…" Entah dapat dari mana yang jelas saat bersama dengan Angel laki laki yang kejam ini bisa bersikap lembut.
" Bagaimana ini bisa cepat pulih jika mereka masih terus menghajarmu setiap saat dan seakan mereka masih tidak terima jika kau belum mati di tangan mereka."
Alex hanya tersenyum dia menggenggam tangan Angel dengan erat. " Aku tidak akan mati dengan mudah Angel, aku memiliki ribuan nyawa."
" Jangan bercanda Alex! Kau bisa mati jika setiap hari di siksa seperti ini. Apa perlu aku mengatakan ini ke pengadilan atau kepada Komandan Axcel?"
Alex hanya menggeleng. " Tidak jangan katakan apapun karena semakin banyak yang tau maka semua orang akan malah menyiksa ku. Aku tak apa, sungguh! Ini hanya akan memakan waktu sebentar untuk memulihkan nya."
Angel yang tadi menangis kini menatap iba ke arah laki laki yang dulunya memiliki kekuasaan tinggi kini menderita seperti ini. Mereka yang menyiksa nya seakan tak memiliki hati.
" Sebenarnya apa salahmu? Apa hanya karena kau lalai dalam tugas itu? Tapi sepertinya tidak, ada kasus lain yang mereka proses untukmu!"
" Jangan pikirkan apapun tentang masalahku Angel. Sebaiknya sekarang kau pergi dari sini, tempat ini sangat bahaya untukmu!"
Angel menghela nafasnya dengan berat dia menatap laki laki yang juga menatapnya. Dia tau saat ini Alex menahan rasa sakit yang ada pada tubuhnya. Genggaman tangan itu kini semakin erat tatapan mata mereka saling berkata untuk tidak saling meninggalkan.
" Alex aku tak tau kenapa langkah kakiku membawaku kemari, aku tau ini sangat bahaya bagi aku dan kamu bahkan jabatan serta karier mu mungkin akan hancur setelah ini…" Angel menarik nafasnya dalam-dalam sebelum dia melanjutkan ucapannya.
" Aku tau kamu orang baik bahkan mendiang Ayah ku pernah mengatakan bahwa kamu membantu biaya aku mendapatkan gelar ini. Mungkin aku sempat marah dan egois karena aku tak menghiraukan mu, karena itu aku kecewa kamu tak bisa menjaga Ayah ku. Tapi sekarang aku sadar bahwa kamu tak mungkin bisa menjaga satu anggota mu dalam, tapi kamu hanya bisa melindungi mereka meskipun kamu harus kehilangan mereka."
" Kau tau aku tak mungkin mau kehilangan mereka apalagi harus kehilangan mereka di waktu bersamaan. Kehilangan mereka seperti kehilangan separuh nyawa ku. Aku tak ingin kehilangan mereka, itu semua bukan mau ku."
" Aku tau! Mana ada seorang komandan ingin kehilangan anggota nya secara tragis seperti itu. Aku tau kau komandan yang bertanggung jawab dan aku juga paham betul kau kehilangan mereka semua. Tapi di sini aku tak bisa berbuat banyak, aku hanya bisa membantumu dalam diam ku."
" Apa maksudmu Angel? Aku tak mengerti. Jangan lakukan hal yang membuatmu menyesal."
" Tidak ada kata penyesalan. Percayalah padaku semuanya sudah aku pikirkan matang-matang…" Alex menatapnya dengan penuh ragu.
" Angel apa yang ingin kau lakukan?" Angel hanya diam seribu bahasa dia melihat jam yang ada di tangan nya.
" Aku sedang menunggu waktu nya. Kau hanya perlu persiapkan dirimu."