
Suara yang semalam ramai kini menjadi sepi, kamar yang penuh dengan desaha* dan geraman kini menjadi sunyi hanya suara nafas yang berhembus pelan dan tenang di dengar di sana. Mereka berdua masih terlelap dalam tidurnya, mimpi indah yang membuat mereka tak merasakan ada kekhawatiran sama sekali.
Kedua insan yang semalam bermadu kasih kini masih berada di bawah selimut tebal dengan mereka yang sama sama telanjan* tak memakai apapun di sana. Sarah dan Bryan masih saling mendekap satu sama lain mereka masih terlelap dalam indahnya mimpi dan indahnya kebersamaan.
Tok!! Tok!! Tok!!
" Bryan.. Bry!! Bangun!! Bry bangun!" Suara seorang dari pintu depan yang seakan berteriak dari tadi tak membuat telinga mereka dengar. Mereka masih dengan dunia mimpinya.
" Astaga anak ini!" Dia berkacak pinggang merasa kesal karena dari tadi dia yang berusaha membangunkan sepupunya tak ada sautan sama sekali.
" Bryan! Bryan! Astaga anak ini tidur atau mati!" Dia begitu merasa lelah membangunkan sepupunya yang nyatanya sang sepupu masih terasa nyaman dalam mimpinya.
Sedangkan Sarah sayup sayup mendengar suara teriakan dari orang yang berada di luar, dia menggeliat dengan pelan mencoba mendengarkan suara yang berteriak keras serta gedoran pintu yang begitu kencang.
" Bryan! Kalau masih gak bangun aku dobrak ini pintu…" William merasa kesal karena dia yang berusaha baik dari tadi tak ada jawaban sama sekali dari orang yang berada di dalam.
" Honey bangun!" Sarah mengguncang tubuh kekasihnya yang baru semalam mereka resmi menjadi sepasang kekasih.
" Hmm…" Bryan bahkan hanya bergumam dia tak ingin bangun karena dia sebenarnya takut bangun bahwa apa yang terjadi semalam adalah mimpi.
" Bryan bangun! William nanti akan mendobrak pintu jika dia kamu tak membuka pintunya…" Bryan mau tak mau akhirnya membuka mata dia yakin suara itu bukan mimpi suara itu nyata dia dengar.
Dia mengerjapkan matanya menatap langit langit kamar lalu menoleh ke samping dengan Sarah yang tersenyum manis di sebelahnya. Bryan juga tersenyum dan sekarang dia yakin bahwa semalam bukanlah mimpi ini adalah kenyataan.
" Sarah bisa kau pukul aku atau tampar aku di sini!" Sarah mengerutkan keningnya karena dia tak mengerti maksud dari kekasihnya itu.
" Ada apa?"
" Aku takut bahwa ini mimpi! Jika ini mimpi aku tak ingin bangun, biarkan aku tidur…" Dia memejamkan matanya tak peduli dengan suara teriakan dari William yang semakin keras di luar sana.
Sarah tersenyum menanggapi apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu, dengan berani dia mencium bibir kekasihnya meraihnya lalu meluma* nya sebentar dengan pelan dia menggigit nya lalu melepaskan ciuma* itu.
Mata mereka beradu dengan Sarah yang tersenyum. " Bryan Sayang ini bukan mimpi ini nyata! Apa yang terjadi semalam nyata meskipun kau memaksa dengan hubungan kita."
Bryan tersenyum raut wajahnya begitu senang serta bahagia yang tak bisa dikatakan dengan kata kata. Dia memeluk Sarah dengan sesekali mencium pipi wanita nya. Orang yang sangat dia cintai kini berada di dekapannya bahkan ini bukan mimpi.
" Terima kasih Tuhan kau telah menyatukan kami…" Gumamnya pelan.
" Bryan!!" William berteriak keras dia yang sudah tak sabar kini memanggil beberapa orang untuk mendobrak pintu kamar tersebut.
" Honey kau bisa buka pintu itu? Aku tak ingin William tau ada aku di sini!"
" Kenapa? Bukankah bagus jika semua orang tau kau dan aku bersama maka tak ada yang berani mendekatimu."
" Honey kita sudah membahasnya semalam."
" Oke oke!" Bryan tidak ingin memperpanjang masalah ini dia segera bangun mengambil celana pendeknya yang di lempar ke lantai semalam.
Sedangkan Sarah mengambil kain yang berserakan di bawah dengan dia yang segera berlari pelan masuk ke dalam kamar mandi. Dia tak ingin semua orang tau tentang ini semua dia tak ingin semuanya menjadi rumit jika semua orang tau apa yang terjadi.
" Satu.. dua.. tiga."
Ceklek!!
Bug!!
" Astaga tak bisakah kau membuka pintu dari tadi!" William dan beberapa orang bangun dengan segera.
" Kalian ini kenapa harus mengganggu tidur ku heh? Aku lelah aku butuh waktu untuk tidur."
" Kau tidur seperti orang mati, aku membangunkanmu sudah hampir satu jam tapi kau tak ada suara aku takut kau bunuh diri atau kabur."
" Bubar sana!" Usirnya dengan cepat.
Semua orang yang ada di sana kini segera pergi meninggalkan kamar Bryan tetapi tidak dengan William dia masih meneliti isi kamar itu mata seakan mencari sesuatu di dalam sana.
" Keluar!" Usirnya dengan menekan kata katanya.
" Kau semalam tidur dengan siapa?"
" Sendiri."
" Kau yakin sendiri? Tapi aku rasa bed mu berkata kau tak tidur sendiri!"
" William jangan urusi urusanku jadi sekarang sebaiknya kau pergi karena aku ingin mandi…" Usirnya dengan mendorong tubuh sepupunya itu.
" Aku tak yakin kau tidur sendiri! Aku rasa kau sedang bersama seorang semalam."
" Sepertinya kau sekarang seperti para Mommy yang suka bergosip di sini. Sebaiknya kau pergi sebelum aku benar benar melempar mu dari atas sini…" Katanya dengan bernada serius.
William mau tak mau akhirnya pergi dari dalam kamar sepupunya itu tapi dia yakin bahwa sepupunya itu tidak sendiri semalam.
" Tunggu dulu…" William menghalangi Bryan yang ingin menutup pintu kamarnya.
" Apalagi Will?"
" Daddy mu memerintahkan kita untuk datang ke markas satunya dia ingin kita membawa Sarah juga. Nicolas sepertinya sudah bangun dan kita butuh permainan sedikit yang menyenangkan hari ini."
Bryan mengangguk dengan senyum devil nya. Hari yang ditunggu tunggu akhirnya tiba. Dia tak sabar menyiksa orang yang sudah berbuat keji dengan orang orang nya itu.
" Baiklah aku akan segera turun dan kita akan kesana."
" Tapi dari tadi aku juga belum melihat Sarah! Kemana wanita itu? Apa dia patah hati karena mantan nya tertangkap dengan kita."
Bug!!
" Auwhh…" William berteriak kesakitan ketika Bryan memukul dada William cukup keras. Dia meringis kesakitan ketika pukulan itu lumayan sakit.
" Jaga bicara mu atau ku hajar kau di sini."
" Tenang Bro! Kau sensitif sekali. Sepertinya kau yang patah hati bukan Sarah…" William berlari meninggalkan sepupunya dibanding dia yang mendapatkan pukulan yang lebih sakit dari ini.
Bruak!!
Bryan membanting pintu kamarnya, Bryan yang mendengar Mantan kekasih dari Sarah rasanya dada nya di cabik cabik seperti terasa sakit. Meskipun dia tau semalam Sarah bersamanya hingga pagi ini. Rasa cemburu itu masih tidak bisa di hilangkan dari hatinya terbukti raut wajahnya gelap ketika dia sadar bahwa wanitanya akan bertemu dengan Mantan Kekasihnya yang pernah ada di hati nya.