
Algojo itu tertawa ketika semakin melihat orang itu menahan rasa sakit pada dadanya. Jantungnya terasa ingin berhenti dia memutar otaknya agar semua orang tahu bahwa dia telah di racuni saat ini.
Orang itu berusaha bangun dengan mencengkram baju algojo itu dengan nafas yang hampir tak ada di berusaha keras untuk tetap berdiri.
" Kau meracuni ku?" Katanya dengan terputus putus.
" Lebih baik kau mati daripada kau menghancurkan semuanya…" Jawabnya dengan sinis.
Orang itu menggerakan kakinya tepatnya lutut dia yang susah payah. Bug!! Algojo itu kesakitan ketika lutut orang itu mengenai tepat sasaran miliknya.
Bug!! Orang itu mendorong algojo hingga dia terjatuh dan kepalanya membentur sel besi tersebut. Orang itu berusaha untuk keluar dia lari dengan sisa tenaga yang ada.
Tap!! Tap!! Tap!!
Bruak!! Pintu sel tikus di dorong sekuat tenaga hingga membuat para polisi dan sipir langsung menatap kearah pintu itu. Mereka terkejut melihat siapa yang lari keluar dari sana dengan menyentuh dadanya.
" Ada tahanan kabur…" Salah satu dari mereka berteriak dan segera menghidupkan alarm berbahaya.
Orang itu tak peduli dia tetap lari sekuat tenaga dengan sisa sisa nya dia terus berlari dengan mencari orang yang dia percaya. Dia terbatuk batuk dengan darah yang keluar terus dari mulutnya.
Dia menatap kekanan kekiri dia tak tahu harus kemana saat ini tapi langkah kakinya menuju ke sebuah pintu besi yang besar yang tertutup di sana. Ada beberapa penjaga yang siap menangkap orang itu.
Dia yang ingin berbalik juga telah siap para polisi dengan tembak di tangannya, saat ini dia telah dikepung oleh banyaknya polisi yang menodongkan pistol ke arahnya. Dadanya terasa sakit, jantungnya tak tahan lagi.
" Berlututlah! Menyerahlah!" Seorang polisi yang ada di sana berteriak.
Sedangkan di lapangan besar itu mereka para tahanan mendengar suara alarm berbahaya yang membuat mereka bingung ada apa ini. Semua orang berlari menuju ke sebuah pintu.
" Jangan bergerak sekali kau bergerak kutembak kepalamu…" Ancamnya dengan sungguh sungguh.
Orang itu tak tahan dia semakin terbatuk dengan darah terus yang keluar, para polisi yang ada di sana merasa ada yang aneh dan heran.
" Bryan…" Teriaknya dengan kencang.
Dor!! Satu tembakan yang cepat menyasar ke kaki orang itu membuat orang itu langsung berlutut dengan segera.
Suara teriakan yang memanggil namanya serta suara tembakan membuat Bryan dan Antoni membuka paksa pintu lapangan itu. Dengan dia yang susah payah kini membuat pintu itu terbuka.
Semua para tahanan kini dihadang hadangi oleh para penjaga yang ada di sana. Bryan dan Antoni yang ada di depan kini melihat jelas ada laki laki yang sekarat di sana.
Orang itu. Batin Bryan.
Bryan mendorong dan menerobos para polisi yang ada di sana di berlari menghampiri orang yang sudah tak tahan lagi dengan racun yang cepat menjalar di tubuhnya.
" Apa yang terjadi?" Katanya Bryan ketika dia menangkap tubuh orang itu yang hampir jatuh ke lantai.
Bryan dengan cepat meletakkan kepalanya di pangkuannya,dia juga menyentuh dada orang itu. Bryan sadar bahwa jantungnya memompa begitu cepat bahkan sangat terdengar jelas.
" Apa yang terjadi katakan? Ku mohon jangan pergi!" Katanya dengan memohon. Laki laki ini adalah harapan dia satu satu nya.
Semua orang yang ada di sana kini mendengar apa yang dikatakan oleh orang yang saat ini sekarat di pangkuan Bryan.
" Tidak ku mohon jangan mati! Panggil ambulan cepat!" Teriaknya kepada para polisi yang ada di sana.
Tangan orang itu kini memberi kode agar dia mendekat, Bryan mendekatkan telinganya dan orang itu berbisik pelan dia mengatakan apa yang dia katakan selama ini. Orang itu mengangguk sebentar sebelum akhirnya dia batuk darah dengan banyak hingga dia kehilangan nyawa nya di pangkuan Bryan.
***
" Tidak mungkin paman ku mati seperti ini.. tidak…" Katanya dengan setengah tak percaya ketika mendengar kabar dari orangnya.
Sarah yang tadi mendengar kabar kematian sang paman yang mengenaskan dia segera pergi dari apartemen dan menuju rumahnya. Dan benar saja ada luka lebam serta luka tembak yang ada di dalam mulutnya yang tembus ke tengkuk nya.
" Siapa yang melakukan ini?" Tanyanya dengan tangisan yang pecah.
" Maafkan kami nona kami akan segera mencarinya,sementara kita harus merahasiakan ini dari pihak polisi agar kita bisa menemukan para pelaku…" Orang orang yang ada di sana adalah orang orang Bryan yang melindungi Sarah.
Sarah kini teringat ketika dia sadar bahwa pamannya memiliki seorang putra angkat yang masih kecil. Matanya menatap sekelilingnya dengan mencari keberadaan adiknya tersebut.
" Ada apa nona?"
" Paman ku bersama anaknya! Dimana dia…" Katanya dengan panik. Semua orang yang ada di sana juga panik.
Sarah setengah berlari mencari adik keponakannya yang juga ikut tinggal di sana. " Leon.. Leon.. kau di mana?" Teriaknya dengan panik.
Tubuhnya gemetar jantungnya berdebar dia takut bahwa mereka telah menculik anak kecil yang tak tau apapun saat ini. Sarah terus mencarinya dengan masuk kesana kemari tapi tak ada siapapun.
" Leon.. ini kakak Sarah jangan takut…" Teriaknya kembali dengan suara yang bergetar.
Sarah yang turun dari lantai atas kini segera mencarinya kembali ke dapur tapi tak ada siapapun di sana, harapannya hancur seketika dia yakin adiknya telah diculik oleh mereka yang membunuh pamannya dengan kejam.
Dia kembali berlari tapi langkahnya terhenti ketika melihat setumpuk cucian yang ada di depan mesin cuci. Seingatnya dia tak meninggalkan cucian di sana, dia berjalan pelan mengambil satu persatu cucian itu dengan hati yang kacau. Dia tak akan kuat jika adiknya malah dibunuh di sana.
Orang orang itu membantu Sarah menyingkirkan tumpukan baju itu dan hanya ada mesin cuci yang tak terpakai di sana. Sarah dengan perlahan membuka pintu mesin cuci itu tetapi tak ada siapapun di dalamnya, hanya mesin cuci yang kosong.
Seorang laki laki yang ada disana melihat ada kaki yang meringkuk di belakang mesin cuci yang ada di sana. Jantung Sarah kini tak karuan, saat ini dia berjalan pelan menghampirinya dan benar anak kecil itu meringkuk dengan tatapan kosong.
" Leon.. astaga kamu di sini…" Air matanya menetes dengan rasa lega untuknya. " Leon ini kak Sarah kamu ingat?" Tanyanya dengan menepuk pipi laki laki kecil itu.
" Nona aku rasa dia sedang trauma sebaiknya kita bawa dia pergi dari sini, untuk sementara dia selamat saja sudah keajaiban bagi kita semua."
" Kau benar, kita harus pergi."
Leon laki laki kecil yang tak memiliki siapapun kini pandangannya telah kosong, dia adalah saksi dimana ayahnya telah dibunuh dengan cara yang sangat sadis. Saat ini saksi mereka adalah laki laki kecil yang masih trauma dengan keadaan yang ada di depannya.
hai hai selamat tahun baru islam untuk kalian semua 🤗 kalau kata orang jawa bulan suro 🤭
Mince belum bisa up banyak karena si kecil lagi sakit dan mince sendiri juga lagi gak enak badan, ramaikan kolom komentar boleh dong 🙏