
" Aku tak perlu mengenalkan diriku kepada kalian, yang jelas ulah Nicolas yang membuat dendam ini membara."
Tak banyak bicara Bryan kini mendorong tubuh Erik cukup kencang membuatnya mundur cukup keras.
Bug!!
Erik yang belum siap kini di hantam dengan keras oleh Bryan hingga membuatnya terjatuh ke tanah dengan keras. Bryan menginjak dada nya menekannya dengan kencang.
Tatapan Bryan seakan membunuh membuat Antoni yang melihatnya merinding ketakutan.
" Jangan diam saja ayo lawan mereka…" James yang baru datang kini menyuruh orang orang itu membantu Erik untuk melumpuhkan lawannya yang ada di depan mata.
" Argh…." James berteriak kencang ketika dia maju ingin melawan Antoni yang berdiri tak jauh dari mereka.
Bug!! Bug!!
Pukulan demi pukukan kini tak dapat dihindari lagi, kini mereka saling menyerang satu sama lain. Bryan yang juga akhirnya membatu Antoni yang di serang meninggalkan Erik yang masih di bawah tanah dengan menahan rasa sakit dadanya.
" Kau tak apa?" James membantu Erik yang berusaha untuk bangkit.
" Uhuk.. uhuk.. sial.. dia lebih kuat di banding yang aku kira…" Umpatnya dengan menahan rasa malunya.
" Sekarang sebaiknya kita lawan mereka dan segera lumpuhkan mereka. Aku yakin akan cepat melumpuhkan dua orang sedangkan kita lima orang…" Ujarnya dengan gaya sombongnya.
Erik yang mengangguk dengan cepat dia membantu orang orang nya yang berusaha melumpuhkan mereka berdua yang saat ini mempertahankan dirinya.
Bryan kini melawan Erik dan tiga orang yang menyerangnya, Bryan yang tak terlalu emosi lebih mudah menguasai keadaan dibanding Erik yang berambisi untuk membawa lawannya saat ini.
Bug!! Bug!! Bug!!
Bryan dengan cepat menendang perut salah satu dari mereka sehingga membuatnya tersungkur. Bryan yang terlihat sedikit lelah kini dari arah belakang di pukul oleh orang yang tadi menyerang Antoni. Bryan sedikit membungkuk menahan rasa sakit pada tengkuknya.
Kedua orang tua itu dengan cepat memegang kedua tangan Bryan yang membuat Erik ingin menghajarnya. Bryan yang sedikit berontak membuat kedua orang itu kewalahan. Erik yang tersenyum sinis kini dengan rasa percaya dirinya maju.
Bryan yang terdiam kini dengan nafas yang memburu menunggu Erik mendekat. Erik yang mendekat kini dengan cepat Bryan sedikit melompat menendang perut Erik dengan keras membuat Erik tersungkur dan terpental cukup kencang. Sedangkan kedua orang yang tadi memegangi kedua tangan nya kini dengan cepat di tarik ke depan dengan bersamaan hingga membuat kedua orang itu bertabrakan dengan tubuh mereka hingga membuatnya melepaskan pegangan itu.
Antoni yang juga melawan James kini berusaha untuk menjatuhkan nya dengan cepat. Antoni dan James kini sama sama kuatnya mereka saling menyerang dan saling ingin menjatuhkan sama lain.
Bug!!
" Argh…." James berteriak ketika kaki Antoni sengaja menendang di titik kelemahan laki laki. Dia membungkuk dengan menahan rasa sakit yang menyerang nya.
Bug!!
Bryan dengan cepat memberikan sikunya untuk menghantam punggungnya dengan cepat. James yang memang menahan rasa sakit kini tersungkur dengan tengkurap bahkan dia hampir tak bisa bernafas menahan rasa sakit pada titik kelemahannya yang sengaja ditendang oleh Antoni.
Kini semua musuhnya telah tergeletak di tanah dengan menyerah sedangkan orang orang nya kini mundur perlahan tak berani menyerang kedua orang yang saat ini berdiri tegak di depan mereka.
" Serang mereka!" Perintahnya dengan menahan rasa sakit.
" Tidak bos kami tidak ingin mati konyol di sini…" Ucapnya dengan ketakutan.
Bryan mendekati James yang menyuruh orang orang itu. Dia berjongkok dengan mencekik leher nya dengan kencang. " Kalian memang sampah yang hanya tak berguna. Bandit tak berkelas seperti kalian tak akan mampu melawan kami…" Dengan mata yang penuh dengan amarah menatap James.
" Kalian pasti akan mati di tangan kami, saat ini kalian memang selamat tapi tidak untuk lain waktu."
Bryan yang mendengar ucapan dari Erik kini kembali tertawa keras, Antoni dengan cepat memberikan bogeman mentah kembali ke arah wajah Erik hingga dia kembali tersungkur dengan kencang.
" Jika.. hari.. ini kalian.. tak membunuh kami.. maka suatu saat nanti kalian akan menyesal karena membiarkan kami hidup…" Ucapnya dengan terbata bata.
" Saat ini kalian tak akan ku biarkan mati dengan mudah, karena yang harusnya mati terlebih dahulu adalah bos kalian, aku ingin menyiksa kalian perlahan."
" Itu mereka ada di sana…" Suara teriakan yang membuat semua orang yang ada di sana menatap dari kejauhan.
" Dam*.. bos ayo kita lari dari sini, mereka membawa pasukan lebih banyak…" Antoni menyeret Bryan yang tak bergerak dari jongkoknya.
" Kau pikir hanya ini pasukan kami.. kami memiliki banyak pasukan yang tak kalian ketahui…" James tertawa penuh mengejek dia pikir Bryan akan ketakutan.
" Menyerahlah…" Timpal Erik.
" Bos ayo…" Antoni yang berhasil menarik bosnya kini dengan cepat membawa bosnya lari kabur dari sana.
Saat ini pasukan mereka terlalu banyak sehingga mau tak mau mereka harus lari dari mereka. " Kejar mereka…" Perintahnya.
Bryan dan Antoni kini berlari dengan kencang mereka tak peduli berapa banyak orang yang tertabrak olehnya, meskipun malam ini tapi masih banyak orang yang masih berada di luar saat ini.
" Kita berpencar, kau kesana aku kesana…" Perintahnya yang di angguki oleh Antoni.
Kedua orang itu kini berpencar dengan cepat, Bryan yang berlari menuju ke sebuah gang gelap kini terus berlari dengan sesekali melihat kebelakang untuk memastikan orang orang yang mengikutinya dan benar saja mereka masih saja mengikuti Bryan.
Bryan yang melihat sebuah rumah yang besar di sebuah pojok gang kini dengan cepat berlari masuk ke dalam sana. Bryan masuk dengan sedikit terkejut bahwa di sebuah gang kecil itu ada sebuah rumah yang banyak orang bermain domino dan beberapa wanita yang telah disediakan di dalam sana.
Bryan yang berjalan pelan agar tak ada yang mencurigai nya kini perlahan mencari tempat persembunyian untuk dirinya. Dia yang mengamati pintu masuk tak ada tanda tanda bahwa orang orang itu ada.
" Halo ganteng, kau butuh sesuatu?" Seorang wanita tua mendekati nya yang saat ini sedikit ingin bernafas.
" Tidak terima kasih…" Tolaknya dengan dia membuang nafasnya dengan kasar.
" Laki laki sepertimu awalnya berkata tidak butuh tapi nanti kau pasti butuh sesuatu yang kami tawarkan."
" Pergilah dari hadapanku, aku tak butuh bantuanmu, aku hanya ingin minum di sini…" Usirnya dengan cepat.
Bruak!!
" Sial…" Umpatnya ketika dia bernafas lega dan berpikir bahwa dia tak dikejar ternyata salah, orang orang itu kini masuk dengan membuat kekacauan.
" Tunggu dulu, aku butuh satu kamar, tolong beri aku satu kamar…" Bryan dengan cepat menarik wanita yang tadi di usir olehnya.
" Cih!! Tadi kau menolaknya sekarang kau malah tak sabar."