Ex Husband Is Broken

Ex Husband Is Broken
Memulai Seragan 4



" Jangan pura-pura tak tau! Aku tau ini semua ulahmu, kau bermain main dengan orang yang salah."


Bugh!!


Lagi lagi Aaron menendang wajah James hingga dia kembali tersungkur. James berusaha untuk berdiri dan ingin mendengar penjelasannya tapi dia tak bisa bangun, dia lagi lagi jatuh ke lantai dengan kaki Aaron yang terus menghajarnya berulang kali.


Erik yang melihatnya merasa iba tapi dia juga tak bisa berbuat apa apa selain hanya bisa melihat penderitaan yang dialami oleh rekannya itu.


Itulah akibatnya jika kau main main dengan kami. Kau harus merasakan apa yang aku rasakan tadi. Batinnya dengan wajah kaku.


" Tuan ampuni saya! Tolong beri aku kesempatan untuk tau apa kesalahan saya. Jika saya memang salah saya siap dihukum Tuan…" Katanya dengan merintih kesakitan. 


James kini merangkak di bawah kaki Aaron dengan luka lebam yang begitu menyakitkan, perutnya juga terasa sakit tapi dia tak peduli dia hanya ingin mendengar alasannya kenapa dia disiksa seperti ini.


Aaron berjongkok di depannya dia menarik rambut James ke belakang hingga membuat di lagi lagi merintih kesakitan. Pukulan yang tadi saja belum hilang dari rasa sakitnya.


" Kau yang menukar semua senjata yang aku pesan dengan yang palsu!" Katanya dengan dingin.


" Tidak! Saya tidak berani melakukan itu Tuan, saya tidak mungkin berani!" James membela dirinya sendiri dengan segera menjelaskan apa yang terjadi.


" Mana ada orang yang salah mengaku kesalahannya. Ruangan itu yang tau hanya kita bertiga."


" Tapi saya berani bersumpah demi Tuhan jika saya tidak mungkin berani bermain-main dengan anda Tuan, saya berani mati di tangan anda jika saya berani melakukan hal itu. Saya sudah bersumpah pada diri saya sendiri jika saya akan mengabdi kepada anda…" James lagi lagi memohon dengan dia menjelaskan semuanya.


Aaron terdiam dia melepaskan cengkraman nya dengan kasar hingga membuatnya terhuyung ke belakang dia kini berdiri saat ini dia benar benar bingung. Dia mengusap wajahnya dengan kasar karena dia tak mengerti harus berbuat apa setelah ini. Semua orang yang dicurigai membantah semua tuduhan yang dia berikan.


" Jangan percaya kepadanya Tuan Aaron saya yakin dia ada di balik ini semua…" Timpal Erik yang ada di sana juga. Dia tak percaya bahwa James bukan pelakunya.


" Jangan asal kau menuduhku! Aku tak mungkin berani melakukan ini…" James membanta nya dengan cepat. Erik menatap Erik dengan tatapan dingin.


" Yang tau ruangan itu hanya kau, aku dan Tuan Aaron. Sedangkan aku tak mungkin menukar yang asli dengan yang palsu. Sedangkan Tuan Aaron juga tak mungkin melakukannya, tersangka utamanya adalah kamu yang juga sering keluar masuk ruangan itu…" Tuduh nya dengan nada dingin.


James melotot menatap Erik dia yang sudah berdiri dengan dia yang memegang perutnya. " Tuan Aaron tolong percaya kepada saya, saya tidak mungkin berbuat seperti itu, saya berani bersumpah demi apapun saya tidak mungkin berani menukar senjata senjata itu. Mungkin saya memang orang baru di sekeliling anda tapi anda harus tahu bahwa tidak semua orang lama bisa dipercaya ketika dia mulai merasa ingin berkuasa…" Sindirnya dengan telak.


" Apa maksudmu?" Erik kini menaikan suaranya dengan cepat.


" Tuan saya memang orang baru tapi saya tidak mungkin berani bermain-main dengan anda, saya hanya bandit biasa yang tak memiliki koneksi tinggi untuk melawan anda. Apakah orang lemah ini berani bermain-main dengan anda. Sedangkan orang yang berada di sekeliling anda selama ini adalah orang mafia yang sudah memiliki koneksi yang mungkin saja bisa bersekongkol untuk mengambil semua yang ada milikki."


" Kau menuduhku?" Erik yang tak terima ketika James juga seakan menyerang dirinya balik saat ini. " Tuan Aaron anda harus percaya kepada saya, saya juga tidak mungkin melakukan ini semua, anda yang tau saya dari siapapun, saya tidak mungkin berkhianat di belakang anda Tuan. Saya bertahun tahun bersama anda jadi saya tidak mungkin bermain main dengan anda…" Erik juga membela dirinya sendiri.


" Anda tau bagaimana saya Tuan Aaron, saya mengabdi kepada anda bukan hanya satu dua bulan tapi sudah bertahun tahun, saya menyerahkan jiwa dan raga saya untuk kelompok kita, jadi saya tidak mungkin bermain di belakang anda atau ingin mengkhianati anda seperti ini."


" Kita tak pernah tau pemikiran orang. Bisa saja pemikiran orang bisa berubah ubah sesuai keadaan, orang bisa saja menjadi serakah karena dia ingin menjadi pemimpin, orang yang serakah kadang melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya…" Lagi lagi James menyindirnya dengan cara yang sederhana.


" Apa maksud ucapanmu hah?" Erik kini mencengkram baju James dengan mata yang sudah melotot saat ini.


" Aku tak mengatakan apapun atau menyindir siapapun, aku hanya berkata dengan kenyataan."


" Kau…?"


" Sudah hentikan.. hentikan…" Bentak Aaron yang membuat mereka berdua masih saling menatap dengan pandangan yang tak bisa diartikan tapi yang jelas ada dendam yang terpancar di kedua mata mereka saat ini.


" Lepaskan Erik! Lepaskan!" Erik kini mengalah dia melepaskannya dengan kasar dan sedikit mendorongnya dengan kencang. Meskipun James mundur tapi dia tak jatuh saat ini. Dia masih menahan keseimbangannya saat ini.


" Sebaiknya sekarang kalian berdua keluar dari sini! Saya ingin sendiri!" Usirnya dengan suara yang putus asa. Aaron merasa bimbang saat ini.


Kedua orang ini tak mungkin berani macam-macam tapi semuanya bisa saja terjadi karena pemikiran orang bisa berubah tanpa ada yang tau. 


" Tuan tolong percaya kepada saya! Saya tidak-"


" Keluar! Keluar!" Aaron menekan kata katanya dengan dia yang memasang wajah garangnya.


Erik tau bahwa saat ini wajahnya begitu serius dia tak mungkin membantah nya. Erik akhirnya mengalah untuk keluar dan sedikit menarik James untuk juga keluar dari ruangan itu.


Aaron mengusap wajahnya dengan kasar dengan dia langsung duduk dengan menahan emosinya.


" Jika bukan mereka berdua lalu siapa yang ingin bermain main dengan ku? Yang tau ruangan itu hanya kita bertiga, dan tak mungkin ada yang tau. Jika mereka saling membela dirinya lalu siapa yang harus aku curigai…" Gumam nya dengan dia yang berusaha menemukan siapa pelakunya.


" Apa sebenarnya memang dari sana kami sudah mendapatkan barang palsu? Tapi tidak mungkin mereka menipu ku…" Katanya dengan dia menggeleng.


" Argh… sial…" Teriaknya dengan frustasi.


Sedangkan di kejauhan mereka mendengar semua apa yang terjadi di dalam ruangan tertutup itu, mereka saat ini tersenyum penuh kemenangan.


" Ini hanya awal…" Gumam nya dengan tersenyum licik.