Ex Husband Is Broken

Ex Husband Is Broken
Tempat Baru 3



Sedangkan di ruang tamu wanita itu saat ini menatap datar berita utama  yang saat ini tengah disiarkan berulang kali, hatinya tak tega melihat orang itu menjadi terkenal karena dia yang lalai dalam tugasnya tapi dia saat ini harus berusaha menjadi tega karena nya kejahatan tak terungkap dari dulu.


Jika di pikir pikir masalah ini sudah hampir enam bulan tapi penangkapan tak pernah ada, bahkan setiap di tanya tentang kasus pembunuhan Amel mereka selalu menjawab bahwa tak ada titik terang dalam kasus ini. Andaikan semuanya bisa diselesaikan dengan segera dan tak banyak memakan korban orang yang tak bersalah mungkin semua ini tak mungkin terjadi.


" Kita akan segera menangkap Nicolas itu,kami sendiri yang akan menyeretnya di depanmu…" Suara laki laki dari belakang membuat Sarah tersenyum.


" Aku tak sabar melihat orang itu berada di kaki ku…" Ucapnya dengan penuh penekanan saat ini.


" Kau sudah lebih baik sekarang?" 


" Hmm.. sangat baik. Tak ada gunanya terpuruk dalam hal ini, meskipun aku menyesal dan menangis darah sekalipun Amel tak akan kembali, jadi percuma aku nangis. Saat ini aku harus kuat untuk menemukan dan menangkap pelakunya, tak peduli dia adalah orang yang aku kenal atau orang yang pernah bersama ku di masa lalu…" Sarah menatap ke depan dengan dia menyakinkan dirinya bahwa dia harus kuat untuk menghadapi ini semua.


" Aku yakin kau wanita yang kuat…" Laki laki itu memberikan semangat kepada Sarah. 


" Aku tak tahu bahwa adik ku telah memilihmu untuk menikah dengannya dan maafkan aku yang benar benar tak mengenalimu karena Amel tak pernah mengatakan apapun tentang hubungan kalian berdua."


" Tak apa, kami memang sepakat untuk saling mengenal sebelum kami akhirnya ingin memiliki komitmen yang lebih serius lagi, tapi sepertinya Tuhan berkata lain tentang hubungan ku dengannya."


" Aku yakin kau akan menemukan wanita yang lebih dari Amel, Tuhan tahu mana yang pantas untukmu dan tidak. Aku sekarang lebih untuk membalas dendam kematian Amel dari pada aku menangis tak ada gunanya. Mungkin semalam aku menangis karena aku baru tahu rencananya…" Sarah memang baru tahu rencana yang di akan di susun oleh adiknya itu. " Aku seperti Kakak tak berguna saat ini…" Sarah tersenyum kecut.


" Tidak, kau Kakak yang baik untuknya. Dia selalu berkata bahwa dia bekerja di sana untuk membantumu untuk mencari uang. Dia juga sangat menyayangimu jadi jangan merasa bersalah atas musibah ini. Aku mungkin merasa kehilangan tapi di sini kau lah yang lebih merasa kehilangan untuknya."


Sarah tak menjawab dia hanya terdiam dengan cara pemikirannya, sedangkan dari jauh ada dua mata yang saat ini yang tengah menatap mereka sedang mengobrol dengan tak senang. Rasa sesak serta rasa panas menjalar di seluruh tubuhnya. Wajahnya kini gelap seakan dia butuh pelampiasan pemukulan yang menyalurkan rasa emosinya.


" Aku ingin bermain samsak hari ini, siapkan lawan yang pas untukku Antoni…" Bryan langsung pergi menuju ke tempat latihan ketika dia berkata seperti itu.


Sedangkan Antoni hanya mengerutkan keningnya karena bosnya tiba tiba ingin berlatih samsak hari ini. Antoni menatap ke depan dan tak ada siapapun di sana, hanya suara para orang orang mereka yang saat ini tengah mengobrol.


" Ada apa denganmu bos kenapa tiba tiba ingin berlatih samsak? Padahal tadi dia bilang ingin bertemu dengan Singa sekarang sudah berubah pikiran? Aneh…" Gumam nya sendiri dengan berjalan pelan menuju ke ruangan bosnya yang mungkin saat ini sedang menunggu dirinya.


Dan benar saja Bryan saat ini sudah siap untuk melatih dirinya tepatnya untuk melampiaskan emosinya yang begitu tinggi dari kemarin. Mungkin kemarin dia bisa menahan dirinya tapi hari ini tidak dia butuh untuk menghajar orang saat ini.


" Di mana lawanku?" Bryan bertanya dengan dia yang tak sabar.


" Saya belum menemukan orang yang cocok untuk menjadi lawan anda bos…" Antoni juga merasa heran karena bosnya sudah siap dengan dia yang sudah berganti baju dan dia yang sudah memakai sarung tinju serta penutup kepala.


Sial. Batinnya Antoni yang terpaksa jalan menuju ruang ganti.


Kini malah Antoni yang harus menjadi sasaran amukan dari bosnya, dia yang tak tahu apapun malah menjadi sasaran empuk dari bosnya. 


Sedangkan Nicolas mencari cara untuk bertemu dengan Kakak nya. Dia saat ini harus hati hati jika tidak dia sendiri yang akan tertangkap juga dalam kasus lain. 


Apa Kakak juga mengakui kesalahanku atau hanya kasus dia lalai dalam tugasnya. 


Nicolas kini tak tenang di tambah lagi dia gusar karena dia juga mendengar kabar bahwa ada saksi yang hidup ketika dia membunuh Paman dari Amel.


" Bos kita harus menyingkirkan saksi itu, jika tidak habislah kita bos!" Seorang anak buahnya datang menghampiri Nicolas yang masih termenung.


" Kita tak bisa seperti ini terus, aku harus mencari cara untuk membawa kabur Kakak Alex terlebih dulu setelah itu kita menyusun rencana lain untuk menutupi kasus kasus kita…" Mereka semua mengangguk.


" Lalu kenapa tak sekarang bertemu dengan Kakak mu itu, kita harus segera menemuinya. Aku malah takut kasus kita terbongkar dan Kakakmu mengakui kesalahan kita."


" Aku tak ingin mati konyol seperti teman kita yang di hajar dan di racuni waktu di dalam penjara."


Nicolas terdiam dia juga memikirkan apa yang dikatakan oleh teman temannya, sebenarnya dia juga takut jika Kakak nya terpaksa mengakui kesalahan yang selama ini ditutupi olehnya, tapi saat ini tak ada yang bisa di lakukan selain hanya bisa pasrah dan berpikir membawa kabur kakak nya.


Sedangkan Alex kini sadar dia mengerakan tubuhnya yang terasa sakit dan kaku, dia merasa seluruh tubuhnya sekarang begitu sulit di gerakkan. Dia yang masig berbaring di lantai itu membuatnya segera membalikan tubuhnya dengan menyentuh darah yang sudah mengering di dahi dan kepalanya.


Dia kembali meringis kesakitan ketika kepala bagian belakangnya mengenai lantai, dia mengingat apa yang terjadi kepadanya sebelum dia pada akhirnya pingsan tak sadarkan dirinya.


" Hei kau sudah sadar rupanya!" Salah satu dia menendang kakinya membuat Alex hanya menatapnya dengan tatapan datarnya.


" Ku kira kau mati di sini tapi sepertinya Tuhan memberikan izin kepada kita untuk menyiksanya lebih dari ini."


Alex tak menjawabnya dia berusaha untuk bangun dari tergeletaknya dari tadi.


Kurang ajar mereka sengaja menghajar ku seperti ini, lihat saja aku akan membalas kalian satu satu nanti. Kalian pikir aku akan tinggal diam dengan hinaan yang kalian berikan kepada ku.