Ex Husband Is Broken

Ex Husband Is Broken
Cemburu 1



Pov Bryan


" Jangan terlalu polos Son…" Kata kata Daddy yag sekarang membuat ku sadar bahwa semua ini hanya rekayasa dari mereka semua.


Awalnya aku mengira mereka mengorban orang kami yang bernama Toni tapi sekarang aku sadar bahwa mereka tak mungkin melakukan hal ini kepada bawahan. Aku yang baru melihat masih ada duka di hati Daddy ketika Paman Baron harus pergi.


Paman Baron mungkin nomor 6 dari orang kepercayaan Daddy meskipun aku sendiri sebenarnya tak tahu siapa saja orang yang dipercaya oleh Daddy saat ini. Aku hanya asal menebak dan mengira bahwa Paman Baron adalah salah satu orang dari ke enam atau mungkin ke delapan orang yang menjadi kaki tangan Daddy.


Aku adalah Bryan Kozan anak dari Zac Kozan dan Mami Valery. Keluarga yang terlihat harmonis ini nyata menyimpan kekejaman yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya, bermimpi memiliki orang mafia saja aku tak berani tapi sekarang aku malah di hadapkan dengan keluarga pimpinan mafia yang kejam di negara ini.


Bayangkan saja orang seperti Daddy orang yang selalu romantis kepada Mami ketika kami berkumpul sekarang dia di depan ku dengan wajah yang dingin dan kejam, tangan yang sewaktu kecil menuntun ku berjalan kini tangan itu pernah berdarah membunuh orang. 


Sedangkan Mami wanita yang selalu lembut selalu hangat kepada keluarga tak dapat diragukan kekuatannya, terkadang aku tak mengerti dan sempat berpikir bagaimana mereka bisa bertemu hingga mereka sama sama memiliki kecocokan untuk sama sama saling kejam kepada para musuh.


Tapi aku tak ingin ambil pusing dalam hal ini, aku tak ingin bertanya meskipun di benakku ada ribuan pertanyaan yang ingin aku tanyakan. Meskipun aku sendiri sebenarnya tak yakin dengan aku yang menjadi anak dari Ketua Mafia Dio Della Morte, Dewa Kematian.


" Bry bisa kita bicara? Ada yang ingin aku katakan kepadamu…" Wanita ini adalah Sarah, kakak dari mendiang Amel. Orang yang ingin aku lindungi saat ini tapi untuk sekarang aku ingin menghindar karena dia masih menyimpan rasa kepada orang yang mungkin saja pembunuh adiknya.


" Katakan…" Aku bersikap dingin dengan rasa kecewa yang aku bawah aku harap dia mengerti bahwa aku masih tak ingin membahas apapun tentangnya.


" Apa di sini?" Dia menatap sekeliling nya, baiklah aku sekarang melangkah masuk ke dalam kamarku dan dia mengikuti langkahku untuk masuk.


Aku menatap nya sekilas dia yang menunduk dan sepertinya dia menghela nafasnya sebelum dia menatapku dengan keyakinan. " Ada apa katakan, aku tak mempunyai waktu lama aku harus segera menyusun rencana dengan orang orang untuk menemukan Mantan kekasihmu yang bernama Nicolas itu…" Aku sengaja menekan kata kata ku agar dia sadar bahwa laki laki itu tak pantas mendapatkan cintanya.


Dan Sial nya aku sendiri merasa cemburu kepada laki laki yang bernama Nicolas itu, meskipun aku bukan laki laki baik, aku memang laki laki perusak wanita tapi setidaknya aku tidak membunuh orang dan melarikan diri seperti seorang pengecut.


" Bry kamu salah paham jika kau berpikir aku masih menyimpan rasa itu untuk nya, aku tahu meskipun sulit melupakan orang yang bertahun tahun bersama kita tapi aku sudah berusaha dengan keras melupakannya, aku-"


" Jika kamu hanya ingin membahas masalah personal denganku jangan sekarang waktunya tidak tepat, ada hal lain yang lebih penting ingin aku bereskan…" Aku memotong apa yang ingin dia katakan, sebenarnya aku merasa bersalah tapi dadaku terasa sesak setiap melihat wanita ini membahas laki laki lain dari masa lalunya di depan ku.


" Baik jika apa yang aku katakan tak penting bagimu aku akan pergi, terima kasih atas waktunya dan aku tak akan mengganggumu atau mengajakmu bicara…" Dia langsung pergi meninggalkan aku yang membeku di tempat.


Dia pergi dengan wajah yang benar benar kecewa tapi aku lebih kecewa ketika setiap perkataannya seperti menyimpan rasa untuk laki laki bajinga* seperti Nicolas. Laki laki temperamental saja dia mencintainya kenapa laki laki seperti ku dia bisa menolaknya tanpa ingin mencoba ikatan sedikit saja untuk ku.


Aku menjambak rambutku sendiri karena frustasi dengan urusan hatiku sendiri, masalah dendam ini akhirnya berantakan karena urusan hatiku yang tak seharusnya ada di sini, hari ini aku sadar ternyata Cinta dan Luka tak bisa beriringan berjalan dengan sejajar.


Aku keluar dengan melanjutkan langkah ku untuk menemui orang orang yang sudah menunggu ku. Aku berusaha untuk melupakan masalah hatiku, aku harus fokus dengan apa yang akan kami lakukan setelah ini, aku ingin segera menangkap orang yang bernama Nicolas, aku akan buktikan bahwa orang itulah yang benar membunuh adiknya dan Paman nya.


Tekadku hanya satu menunjukan bahwa dia mencintai orang yang salah dan menolak orang yang salah juga. Meskipun sebenarnya aku tak bisa melawan hatiku untuk tak menemuinya tapi sekuat tenaga aku berusaha untuk tidak melangkah menemuinya.


Aku masuk pada satu ruangan di mana semua orang sudah ada di sana mungkin tak semuanya hanya orang orang tertentu yang berada di sana. Dan satu lagi Jenderal itu juga ada di sana dengan dia yang membawa sesuatu di tangannya.


" Baiklah jika semuanya ada di sini aku akan mulai bertanya kepada Sarah…" Daddy membuka suaranya dan aku melihat ke arahnya yang saat ini duduk bersebelahan dengan Cristian.


Dia hanya mengangguk dan tak menatap ke arah dirinya sama sekali, seakan kehadiranku di sini tak ada artinya bagi dirinya dan itu malah membuat dadaku bergemuruh marah.


" Aku sudah mendengar apa yang kau katakan kepada Bryan waktu itu…" Semua orang menatapku tapi tidak dengan nya.


Sial.


" Apa kau yakin dengan semua ucapanmu, mungkin aku disini juga memiliki petunjuk tapi aku harus mengkonfirmasi bahwa apa yang kau katakan juga sama hal nya kuat dengan yang akan kami tunjukan kepada mu."


" Maafkan saya Tuan tapi disini saya tidak ingin membela siapapun atau ingin melindungi siapapun. Jika dia memang pelakunya atau siapapun pelakunya saya tidak peduli dia adalah teman, keluarga atau orang yang pernah ada di hatiku mereka tetaplah salah dan mereka akan tetap harus dihukum sesuai sumpah kalian maupun sumpah saya."


Di setiap ucapannya seperti dia menekan kata katanya, aku tahu dia ingin memperjelas bahwa tak ada yang ingin dia lindungi dia tetap ingin menemukan siapapun pelaku yang tega melakukannya kepada keluarganya.