
" Tuan Aaron kami ingin bertemu dengan seseorang yang kami tawarkan obat kita…" Erik yang ingin pergi kini segera melapor kepada bosnya.
" Kenapa harus kamu yang datang? Kenapa bukan yang lain?"
" Maaf Tuan pemilik diskotek ini ingin bertemu langsung dengan saya…" Aaron mengerutkan keningnya.
" Terlalu bahaya jika kau turun sendiri dan bertemu dengan nya…" Aaron tentu saja memperingatkan orang-orangnya karena ini memang bahaya bagi mereka semua.
" Saya pastikan semuanya akan aman Tuan, di sini tak ada yang mengenal barang itu dan kami menawarkan kepada diskotik yang tak terlalu terkenal jadi tak akan membuat para polisi mencurigainya. Di negara A dan Negara B pun juga tak ada berita tentang obat kita."
Aaron menghela nafasnya dengan kasar malam ini. " Baiklah tapi kau harus hati-hati. Disini bukan tempat kita sebenarnya jadi kita tak tahu orang-orang nya seperti apa. Jika ada yang mencurigakan maka segera pergi dari sana."
" Saya mengerti Tuan! Saya akan segera kembali…" Aaron mengangguk dengan cepat.
Dia melihat asistennya dan beberapa orangnya pergi meninggalkan rumah yang mereka sewa untuk mereka tempati selama berada di sini. Meskipun dia cemas takut ini adalah jebakan tapi dia tetap membiarkan Erik pergi dengan beberapa orangnya untuk bertemu dengan orang yang akan membeli obat yang mereka produksi sendiri.
Sedangkan di tempat penjara Alex saat ini tengah tertidur dia tak benar-benar tertidur karena dia sudah biasa untuk berjaga-jaga setiap malam karena dia sendiri tahu apa yang terjadi jika dia benar-benar pulas tertidurnya.
Tapi sepertinya malam ini tak ada pergerakan sama sekali, semua teman satu kamarnya telah tidur dengan pulas dia mendengar semua orang yang ada di sana mendengkur halus dan itu sedikit membuat Alex lega karena setidaknya dia bisa tertidur malam ini.
Alex bangun dengan menatap satu persatu semua orang yang saat ini tengah memejamkan matanya dengan terlelap. Dia memegang dadanya dengan lega setidaknya saat ini dan malam ini dia amak. Alex segera merebahkan badannya dengan menatap langit kamarnya dan tak berselang lama dia terlelap dalam tidurnya.
Waktu begitu cepat berputar malam kini telah berganti pagi, suara para sipir untuk membangunkan para orang orang itu begitu kencang membuat semua orang segera bangun. Alex bangun dengan terkejut dia menatap sekelilingnya yang bergantian masuk ke dalam kamar mandi.
Semalam aku tidur begitu lama, setelah sekian lama aku tak pernah tidur dengan terlelap. Aku ingin ini semua mimpi tapi nyatanya ini semua nyata.
Alex dengan segera masuk ke dalam kamar mandi setelah mengambil handuk yang disiapkan untuknya. Dengan pandangan datarnya dia berjalan melewati beberapa orang yang melihat ke arahnya dengan tatapan yang berbeda. Alex tak peduli dengan mereka saat ini.
Alex yang sudah berdiri di bawah air shower kini secara tiba-tiba lehernya dicekik oleh sebuah handuk yang ada di lehernya. Alex ditarik oleh orang yang mencekik nya dengan handuk itu. Matanya melotot menahan nafas yang hampir habis itu.
Semua orang yang ada di sana hanya melihatnya tak ada yang memisah karena ini memang rencana mereka semua. Alex dengan cepat menginjak kaki orang yang ada di belakang nya dengan keras hingga orang itu melepaskannya.
" Uhuk.. uhuk…" Alex terbatuk dia menghirup udara dengan cepat.
Argh… Bruak!!!
Salah satu dari mereka menjambak rambut Alex membenturkan kepalanya ke dinding dengan cukup keras. Matanya berkunang kunang, lagi lagi darah segar keluar dari kepalanya.
" Brengse*..." Umpatnya dengan geram.
Alex kali ini melawan ketika ada orang yang ingin menyerangnya lagi menggunakan sikat gigi. Tangan orang itu di tahan oleh Alex yang ingin menusuk lehernya dengan sikat gigi miliknya.
Alex menendang ala* vita* orang itu dengan keras hingga membuat orang itu tersungkur di lantai dengan menahan rasa sakitnya. Alex yang langsung menekan kepalanya yang berlumuran darah dia dengan segera lari ingin keluar tapi kakinya ditahan oleh orang.
Bruak!!
***
" Bagus jika kau sudah sadar…" Ucap ketus salah satu suster yang berjaga di tempat ini.
Alex yang mendengar suara kini membuka matanya dengan sempurna dia menatap sekelilingnya yang tampak asing dengan cat berwarna putih. Tangannya tak bisa bergerak karena kebas dia menatap pergelangan tangan nya yang terpasang infus.
" Apa yang kau rasakan? Apa masih pusing?" Alex menatap seorang suster yang berdiri di sana yang sedang mengecek keadaan nya.
" Hanya sedikit terasa pusing!" Katanya dengan pelan.
" Apa merasa mual?" Alex menggeleng pelan. " Kepalamu nanti akan terasa pusing dan sakit karena di kepalamu ada beberapa jahitan karena kau terpeleset di kamar mandi tadi."
" Terpeleset?" Alex mengingat kejadian itu dimana dia dengan sengaja dibenturkan di dinding dan di cekik.
" Kau adalah laki laki sebaiknya jangan ingin bunuh diri pikiran kan masa depanmu jangan sedikit masalah membuatmu ingin bunuh diri."
" Aku tak ingin bunuh diri!" Elaknya karena Alex tak ingin bunuh diri dia bukan orang yang bodoh.
" Lalu bekas yang ada di lehermu apa? Jika kau tak ingin bunuh diri lalu apa yang terjadi? Kau ingin mengatakan mereka menyiksamu? Jangan harap aku percaya dengan omong kosongmu itu."
" Tapi aku sungguh tak ingin bunuh diri."
" Terserahlah! Yang jelas jangan cari keributan. Tak di dalam tak di luar kau masih saja arogan. Harusnya kau lebih mengerti tentang kondisimu yang sudah tak memiliki jabatan. Kau bisa dibunuh atau hukumanmu akan lebih berat jika kau arogan seperti ini."
" Angel apa aku terlihat seperti orang yang sangat arogan?"
" Daripada kau bertanya lebih baik kau bercermin dan tanyakan kepada dirimu sendiri apa dirimu arogan atau tidak. Tapi karena kau bertanya padaku baiklah aku akan menjawabnya. Anda sangat arogan Tuan Alex jika anda tak arogan mungkin anda tak berada disini anda masih menikmati jabatan anda."
" Dari bicaramu kau sangat membenciku! Apa salahku? Apa karena Ayahmu meninggal kau membenciku?"
Angel tak menjawabnya dia hanya diam dengan mengecek apa yang perlu di cek dan dicatat. " Angel kau tahu itu adalah tugas kami."
" Kau benar itu tugas anda tapi kenapa harus Ayahku yang anda korbankan Tuan?"
" Tak ada yang dikorbankan kami hanya menjalankan tugas kami. Aku juga tak tahu bahwa Ayahmu yang menembak musuh itu. Aku sungguh tak tahu."
" Sudahlah Tuan anda tak perlu merasa bersalah, seperti yang anda bilang bahwa itu adalah tugas. Kematian Ayahku akan menjadi rasa bersalah bagi anda tapi sepertinya tidak, anda mengorbankan orang-orang anda terlalu banyak lagi…" Sindirnya dengan terus terang.
" Kalau tak ada keluhan lagi saya permisi…" Angel segera pergi meninggalkan ruangan itu dengan perasaan yang kacau. Angel selalu terluka jika dia mengingat Ayah nya yang sudah pergi meninggalkan dirinya.
Bersambung besok lagi ya 🤭 jangan lupa kasih vote dan ramaikan kolom komentar nya 🤗 salam cium dari mince 😘 salam peluk hangat dari mince 🤗