
" Sayang kamu tak apa?" Bryan menatap kekasihnya yang duduk di sebelahnya dengan wajah yang begitu tegang.
" Aku tak apa!" Dia berusaha menutupi kegugupannya.
" Sayang…" Bryan menyentuh tangan kekasihnya yang duduk di sebelahnya. Saat ini mereka sedang duduk di dalam mobil. Mereka sedang menuju ke rumah orang tua dari Bryan.
" Aku tak apa Sayang sungguh…" Sarah tersenyum dia berusaha untuk tersenyum meskipun jantungnya saat ini begitu tak normal. Jantungnya berdetak tak karuan.
" Jangan berbohong! Aku tahu kamu sedang gugup bukan?" Mata Bryan yang menangkap kegelisahan wajah kekasihnya.
Sarah menghela nafasnya dengan berat apa yang dikatakan oleh kekasihnya memang benar saat ini dia sedang gugup bukan main. Padahal mereka masih berada di jalan belum sampai di rumah.
" Jika kamu sudah tahu kenapa harus bertanya Tuan Bryan? Tak bisakah kau membuatku tambah tenang!" Omelnya dia begitu gugup. Siapa yang tak akan gugup jika tinggal bersama dengan kedua orang tua dari kekasihnya itu.
Bryan hanya tersenyum menanggapi apa yang dikatakan oleh kekasihnya itu, matanya kini fokus kepada jalan yang ada di depannya.
" Sarah kedua orang tuaku tak akan menggigitmu atau mereka akan mencecarmu dengan berbagai pertanyaan jadi kau tenang, jika kau gugup seperti ini maka mereka akan mencurigaimu. Percayalah mereka hanya akan melindungi tak akan berbuat yang akan membuatmu ketakutan."
Bryan jelas sudah tahu bagaimana sifat orang tuanya, mereka tidak akan mungkin berbuat apa-apa. Bryan yakin mereka akan melindungi wanitanya meskipun dia tak mengatakan apapun kepada mereka tentang kebenaran hubungan ini.
Sarah hanya terdiam dengan pemikiran yang berbeda, dia tahu orang-orang itu tak akan mungkin menyakitinya hanya saja mereka terlalu gugup. Sarah menatap ke luar jendela dengan perasaan kacau. Hanya dia yang tahu bagaimana perasaan dia yang begitu gugup bukan main.
Tak berselang lama perjalanan itu begitu singkat yang dirasakan oleh Sarah. Bryan yang memasukan mobilnya ke halaman rumah yang begitu mewah membuat Sarah tambah gugup.
Astaga rumahnya begini mewah. Sedangkan aku hanya tinggal di rumah yang kecil.
Sarah begitu merasa bahwa dia begitu kecil saat ini. Rumah yang mewah halaman yang begitu luas di sana. Banyak pengawal ada dimana mana.
" Sayang ayo turun…" Ajaknya.
" Sarah kau akan memanggilku Sarah…" Ujarnya yang tegas membuat Bryan membuang nafasnya dengan berat.
" Sarah!" Bryan mengulanginya. " Baiklah Sarah ayo kita turun."
Mereka kini dengan cepat segera turun dari mobil itu, kakinya sedikit bergetar jantungnya tak bisa diajak kompromi saat ini, keringat dingin seakan merembes di seluruh tubuhnya.
" Sarah kamu oke? Kita sudah membahasnya bukan? Aku tak ingin membahasnya di sini!" Bryan yakin ini akan menjadi masalah bagi mereka. Terlihat jelas wajah kekasihnya begitu tegang dan ketakutan.
Sarah lagi-lagi mengambil nafas lalu membuangnya dengan perlahan. " Oke aku tak apa, aku siap masuk."
Sarah tak bisa menolak atau membantahnya karena dia tahu alasan terbesarnya adalah Bryan hanya ingin melindungi dirinya dari orang orang yang mungkin nanti ingin mencelakainya.
Ceklek!!
Sebelum mereka masuk pintu itu sudah terbuka memperlihatkan sosok wanita yang begitu cantik dan anggun. Tanpa polesan pun dia masih terlihat begitu cantik.
" Bryan Sayang astaga kau pulang nak!" Dia langsung memeluk putranya dengan senang.
" Mom apa kabar?" Tanyanya dengan dia menerima pelukan Ibu nya saat ini.
" Mommy baik sangat baik. Kalau kamu?"
" Aku baik Mom! Mom ada Sarah di sini?"
Sang Ibu itu melupakan sesuatu jika dari tadi ada sosok wanita yang berada di samping putranya. " Astaga Sarah maafkan Mom yang terlalu senang melihat putra ku datang…" Kini Val langsung beralih menatap wanita itu yang tersenyum.
" Eh tanganmu dingin sekali, apa kau sakit?" Val menatap kearah putranya dengan penuh selidik dan ingin meminta penjelasan.
" Baiklah ayo masuk!"
Ketiga orang itu masuk dengan perasaan yang berbeda, Sarah yang masih gugup mencoba untuk menutupinya dengan dia yang berusaha tersenyum meskipun keringat dingin terus keluar. Sarah masih bisa menutupinya dengan berulang kali tersenyum. Sedangkan Bryan yang tahu kekasihnya sedang berusaha menutupi kekasihnya kini merasa iba.
\=\=\=\=
" Tuan Albert bisakah kita bicara? Ada hal yang ingin saya sampaikan!"
Albert menghela nafasnya dengan kasar ketika siapa yang tiba-tiba berdiri di sana dengan menatap ke arahnya.
" Silahkan masuk!" Laki laki itu langsung masuk dan segera duduk.
" Jika ada hal yang penting kita bahas kenapa anda tak menghubungi saya agar saya segera datang kesana!" Albert basa-basi dengan menatap ke arahnya dengan rasa malas.
Laki laki itu menghela nafasnya dengan kasar dengan dia yang juga menatap ke arah Albert dengan tatapan tak suka. Kedua laki laki itu saling menatap dengan tatapan yang tak suka bahkan ada rasa benci dari kedua orang tersebut.
" Jika Tuan Aaron tak meminta saya datang kemari maka saya juga tak mungkin datang kesini…" Ucapnya dengan ketus.
" Jika kau tak suka datang kemari maka jangan datang aku tak butuh kau datang kemari, aku bisa katakan kepada Tuan Aaron agar tak menyuruhmu datang kemari…" Albert tak kalah sinisnya ketika menjawab apa yang dikatakan oleh laki laki itu.
" Cih!! Jika kau berani maka katakan!" Tantangnya dengan menantang.
Albert malah tertawa mendengar tantangan yang terlontar dari mulut asisten tersebut. " Kau menantangku? Kau kira aku tak berani melaporkanmu?"
" Aku menunggu kau melaporkan ku!"
" Oh.. baiklah jika begitu…" Alberd dengan segera mencari kotak nama Aaron. Benda kecil itu langsung menempel di pipinya.
" Tuan Aaron saya tak suka basa-basi, saya tidak suka anda menyuruh asisten anda datang kemari. Jika asisten anda masih datang kemari lebih baik saya mundur dari kuasa hukum ini."
" Apa yang kau katakan?"
" Apa yang kau lakukan?" Albert tentu saja langsung marah ketika ponselnya telah di rebut paksa oleh laki laki itu.
" Aku hanya mengatakan bahwa aku juga tak suka kau datang kemari tapi kenapa kau malah mengancam mundur dari kuasa hukum kami?"
Albert menyilangkan tangannya menatap sinis ke arahnya. " Tuan Erik ternyata kau takut heh? Kau tadi menantang ku sekarang kau ketakutan?" Ejeknya.
" Hentikan ocehanmu itu, aku tak suka. Aku hanya malas bertemu denganmu…" Tatapan sengit dari mereka kini tampak sangat jelas bahkan mereka seakan mengibarkan bendera perang.
" Kau pikir aku suka bertemu denganmu?"
" Jika Tuan Aaron marah kepadaku maka ku pastikan aku akan membalasmu!" Ancamnya.
" Marah padamu karena apa? Karena aku mengatakan hal tadi heh?" Albert kini tertawa kencang membuat tawanya begitu menggema di ruangan tertutup itu.
" Apa yang kau tertawakan?" Albert tentu saja tak menjawabnya dia hanya tertawa keras di sana. " Kau menipu ku! Kau tak mengatakan apapun bukan kepada Tuan Aaron?" Albert kini malah tertawa.
" Jadi benar kau hanya menipuku?"
" Kau yang bodoh karena tertipu!"
Bersambung besok ya 😁 untuk kalian semua akhir-akhir ini mince akan jarang up dulu ya karena bulan ini mince harus banyak istirahat karena kandungan juga sudah mulai membesar sudah gitu mince harus bedtres karena takut melahirkan sekarang 🤗😘😚