Ex Husband Is Broken

Ex Husband Is Broken
Tempat Baru 4



" 2509 ada yang ingin bertemu denganmu."


Orang itu segera berdiri meskipun dia berusaha sangat keras untuk berdiri, kakinya terasa lemas dan seluruh badannya juga sangat sakit untuk digerakkan. Tapi dia tidak peduli dia berusaha untuk tetap bangun karena dia yang berpikir bahwa yang datang adalah seorang pengacara yang akan membela nya.


Dia segera berjalan mengikuti Sipir itu keluar dari kamar tahanan yang saat ini suaranya begitu ricuh melihat dua berjalan. Dia tak peduli dengan suara sorak bahkan dia tetap berjalan dengan angkuh dan berharap dia akan keluar dengan jaminan.


Asisten ku atau Jenderal tak mungkin membuat ku lama di sani mereka hanya menjalankan tugas untuk formalatisa aku berada disini lalu mereka akan menjamin aku keluar dengan cepat. 


Dia tersenyum sinis dan seakan kemenangan ada di depan matanya dua berharap bahwa dia akan segera dibebaskan dalam jaminan.


Ceklek!!


Dia tersenyum dengan mengangguk dia segera masuk dan dia begitu terkejut siapa orang yang duduk di sana yang telah menjenguknya.  Orang yang disana pun juga sama terkejutnya dia sama sama terkejut melihat Komandan Alexander telah babak belur bahkan jalan nya tertatih menahan rasa sakit pada perutnya.


" Nicolas apa yang kau lakukan disini?" Alex menatap sekelilingnya berharap tak ada siapapun di sana hanya ada mereka berdua.


" Kakak apa yang terjadi denganmu? Mereka menghajarmu? Siapa? Polisi atau para tahanan?" Tampak sangat jelas bahwa adiknya begitu khawatir kepadanya. 


" Jawab pertanyaan ku kenapa kau ada disini? Aku tak berharap kau ada disini untuk melihatku, sebaiknya kau pergi dari sini Nic, disini tak aman sungguh!" 


Kedua saudara itu begitu saling mengkhawatirkan satu sama lain mereka berdua sama sama gusar dengan Nicolas yang tiba tiba datang dan dia juga melihat sang Kakak yang babak belur dihajar seperti itu. Bekas nya pun masih terlihat darah pun sudah mengering. Alex belum sempat membersihkannya.


" Sebaiknya kau segera pergi dari sini, jangan pernah temui aku dulu sebelum aku sendiri yang ingin menemuimu…" a Usirnya dengan cepat.


Dia sungguh tak ingin bertemu dengan adiknya saat ini, dia sungguh tak berharap bertemu sang adik di sini. Yang diharapkan adalah pengacara bukan dia yang harus ditemui.


" Aku datang kesini untuk bertemu denganmu Kak, aku mengkhawatirkanmu. Semua berita menayangkan berita mu. Aku tak mungkin tinggal diam."


" Aku hanya butuh seorang pengacara yang bisa mengeluarkan aku dari sini karena jaminan, jadi kau bisa membantu Kakakmu siapkan pengacara agar aku bisa keluar dari sani karena jaminan."


" Jaminan mu akan sangat mahal Kak, kau tahu semua orang di kota ini saat ini tengah membahas namamu, jaksa dan hakim tak mungkin memberikanmu izin untuk bebas karena jaminan, sebaiknya sekarang kita merencanakan untuk kabur dari sini."


" Kau jangan gila!" Nadanya tinggi tapi kemudian dia menatap sekelilingnya.


" Tidak.. tidak.. aku tidak ingin kabur. Tahanan disini begitu ketat aku bisa ditembak mati karena aku ketahuan kabur dari sini, jadi cari jalan lain Nic…" Alexander tak ingin untuk keluar dari penjara jika tak ada jaminan.


" Jika aku keluar dengan cara kabur sama saja aku tak bisa menghirup udara bebas di luar sana aku akan malah menjadi buronan…" Sambungnya lagi.


" Terserah, tapi jika kau ingin mati di sini juga itu terserah padamu. Aku hanya bisa berkata seperti itu karena aku yakin pengacara tak akan ada yang mau membela mu. Kau membuat anggotamu meninggal dengan bom bunuh diri, lalu satu orang tewas karena luka tembak tepat di depanmu, bahkan kau tak menembak penjahat itu dan tak menemukan siapa orangnya. Ingat Kak kasus ini akan diusut hingga dari akarnya kau orang yang akan paling disalahkan bahkan kau akan jadi kambing hitam dari mereka semua."


Alex terdiam dia mendengar apa yang dikatakan oleh adiknya mungkin benar tak akan ada satu pengacara yang akan mau membela nya di tambah satu kota saat ini sedang membicarakannya. Mungkin Jenderal juga tak akan membiarkan dia mendapatkan pengacara meskipun Alex memiliki hak untuk menunjuk satu pengacara untuk membela nya.


" Kau jangan konyol mati disini, semua orang tahu seperti apa dirimu selama ini menjalankan tugas semua orang tau seperti apa kejamnya dirimu jadi pikirkan apa yang aku katakan. Lihatlah kau disini belum satu hari kau sudah babak belur tak karuan apalagi dua atau tiga hari kau bisa mati karena mereka semua. Aku mohon Kak jangan pergi, ayo kita rencanakan untuk kabur dari sini, aku akan siapkan semuanya agar kau bisa kabur dari sini."


Alex diam dia masih memikirkan semuanya dengan matang matang dia tak ingin mengambil resiko yang pada nantinya akan membahayakan mereka berdua. Dulu dia yang memiliki jabatan mungkin bisa menutupi semua kasus tapi sekarang dia tak mungkin bisa karena dia tidak memiliki jabatan yang di bangga banggakan.


" Lalu apa rencanamu?" Nicolas sedikit menarik bibirnya dia yakin Kakaknya tak mungkin akan berada di sini selamanya.


Kini mereka berdua mengucap begitu pelan menyusun rencana yang akan mereka lakukan malam ini. Sedangkan di tempat lain Kepala Sipir itu tersenyum sinis melihat mereka yang dari kamera pengawas.


" Tikus kecil tak berguna dasar bodoh!" Gumam nya dengan pelan. Dia juga segera menekan nomor menghubungi seorang untuk membahas ini semua.


" Tak ku sangka mereka begitu cepat masuk ke perangkap kita! Ikuti saja alur mereka tapi ingat jangan bunuh mereka aku ingin mereka masuk ke dalam penjara dan di siksa oleh para tahanan yang lain…" Seorang bicara di ujung telpon.


" Saya tau bos."


Orang itu kini bicara dengan rencana mereka, saat ini mereka akan mengikuti alur mereka yang sudah mereka siapkan saat ini. Kedua kubu itu sama sama tak sabar menunggu nanti malam dengan mereka yang telah membawa rencana mereka matang matang.


Alex kini telah kembali ke dalam sel dia berjalan dengan angkuhnya dia berjalan dengan sombong dia berpikir rencananya nanti pasti akan berhasil, dia yang tadi berjalan terpincang pincang kini dengan sombongnya berjalan mengangkat kepalanya dan seakan matanya menantang semua orang yang saat ini berteriak kepadanya.


Kalian tak ada apa apanya dibanding aku yang akan kabur nanti malam. Batinnya dengan tertawa senang.


Rencana hanyalah rencana tapi lihat nanti akan ada kejutan apa untuk kedua saudara ini.