
Malam yang begitu mengerikan tak bisa dibayangkan oleh orang-orang yang ada di sana. Mereka terlalu takut, mereka berlari kesana kemari bahkan ada yang bersembunyi dari kejaran para FBI yang tiba-tiba datang dengan menyergap mereka. Suara tembakan yang begitu keras kini terdengar begitu membabi buta, banyak dari orang-orang Aaron yang sudah tergeletak di tanah dengan nyawa yang sudah melayang.
" Kau bawa senjata? Kenapa tak kau tembak mereka tadi?" Orang itu melihat temannya membawa senjata pistol di tangannya.
" Iya aku membawanya. Dari tadi aku membawanya sudah banyak aku tembak tapi masih banyak yang masih hidup rupanya dan itu sangat berbahaya."
" Kau benar-"
Dor!!
Orang yang ingin meneruskan kata katanya kini terkejut ketika melihat rekannya yang tadi membawa senjata malah menembak dirinya tepat di perutnya.
" Apa.. yang.. kau lakukan?" Dia menekan perutnya yang terkena tembak darah segar langsung keluar begitu saja.
" Aku hanya menembak, kau tadi menyuruhku untuk menembak. Apa aku salah disini?" Dia bahkan merasa tak bersalah sedikitpun. Dia menjawabnya dengan tenang.
" Kau pengkhianat?" Katanya dengan menahan rasa sakit pada perutnya yang terasa sakit karena peluruh itu bersarang di sana.
Orang itu hanya tertawa. " Kenapa kau cepat sekali menebaknya?" Dia kecewa karena orang itu kini menyadari bahwa dia adalah seorang penyusup yang ada di sana.
" Jadi kau yang membuat ini semua?"
Orang itu tak menjawabnya melainkan menodongkan senjatanya ke arah dahi orang itu dengan cepat. Mata mereka saling bertatapan dengan arti yang berbeda.
Dor!!
Satu tembakan yang tepat mengenai dahi orang itu akhirnya membuat orang itu terjatuh ke tanah dengan dia yang sudah kehilangan nyawanya. Darah nya juga sedikit mengenai wajah dari orang yang menembak tersebut.
" Anda tak apa?" Sebuah pertanyaan dari arah samping membuat orang itu menoleh dengan mengangguk cepat.
" Semoga kau tenang di alam sana…" Ujarnya dengan dia yang lalu pergi meninggalkan tempat kejadian tersebut.
" Tuan Bryan semuanya sudah aman semua orang-orang itu tak tersisa hanya anda dan Antoni yang masih tersisa…" Seorang yang berpakain jaket FBI kini menghampiri Bryan dan Antoni yang tiba-tiba mendekat nya.
" Jika aku kembali dengan seperti ini mereka akan mencurigai kita. Sebaiknya sekarang kalian pukul aku dan Antoni agar mereka mengira kami saling adu pukul dengan kalian…" Idenya membuat semua orang yang ada di sana saling menatap dengan tak berani.
" Maafkan saya Tuan tapi kami tak akan berani…" Mereka tentu saja menolaknya.
" Tak akan ada yang akan menghukum kalian. Ini perintah ku…" Katanya dengan tegas.
" Maaf Tuan tapi kami tak bisa…" Mereka masih saja menolaknya dengan mereka yang tak akan berani menghajar bosnya.
" Hajar kami atau kalain yang akan aku hukum."
Tak ada pilihan lain selain mereka harus menuruti apa yang dikatakan oleh bosnya saat ini. Meskipun dengan ketakutan mereka saat ini akan saling memukul agar tak ada yang mencurigakan.
\=\=\=
" Tak ada kabar apapun dari mereka!" Erik yang bergumam melihat ke arah ponselnya untuk kesekian kalinya berharap ada satu orang yang menghubunginya saat ini.
Tok!! Tok!!
Erik yang mendengar suara ketukan pintu itu segera membukanya dengan panik. Malam ini semua kejadian yang begitu mencekam seakan tak ingin berakhir begitu saja. Erik yang selalu hati-hati kini membuka pintu dengan senjata yang ada tangan nya.
" Kau membuat ku takut?" Erik merasa lega karena yang saat ini berdiri di depan mereka adalah orangnya.
" Tuan di depan ada orang kita yang selamat dari hutan itu tapi sayangnya mereka babak belur."
Erik segera lari dengan cepat, langkahnya begitu cepat dia penasaran dengan apa yang terjadi di sana. Sedangkan Bryan dan Antoni kini saling dibopong oleh orang-orang yang menyambut mereka datang dari arah pintu depan tadi.
Kakinya yang terasa sakit kini harus dipaksa untuk jalan agar semuanya terlihat begitu nyata bahwa ada pertengkaran di hutan tadi.
" Kalian tak apa? Dimana yang lain?" Erik segera bertanya dengan nada cemasnya tapi dia juga meneliti siapa tau ada yang mengikuti mereka.
" Tak akan ada yang mengikuti kita Tuan, kami tadi keluar dari hutan setelah para FBI pergi dari sana…" Mereka tentu saja berbohong padahal dari tadi mereka yang mengantar adalah orang-orang yang menyamar menjadi FBI.
Mereka bukanlah FBI tapi mereka adalah orang-orangnya sendiri yang memakai jaket FBI untuk kelabui mereka semua.
" Duduk dulu!" Mereka dipersilahkan untuk duduk di sana dengan mereka berdua yang meringis kesakitan.
" Tuan Erik maafkan kami tak bisa membawa yang lain kemari, mereka telah meninggal di sana Tuan…" Antoni dan Bryan kini menunduk seakan mereka merasakan kesedihan yang mendalam atas kepergian mereka.
" Sial… jadi hanya kalian berdua yang tersisa?" Antoni mengangguk. " Bagaimana kalian selamat dari sana?"
" Kami tadi saling baku hantam dengan para FBI, awalnya mereka ingin membawa kita tapi kita melawan dengan berusaha kabur Tuan. Aku juga melihat banyak orang yang berlari dan bersembunyi. Kami bersembunyi agak masuk ke hutan. Hingga mereka tak akan bisa menangkap kita…" Antoni sedikit mengarang ceritanya agar orang orang itu sedikit percaya.
" Barang kita semua habis Tuan, tak tersisa sama sekali…" Timpal Bryan yang juga sedikit meringis kesakitan di wajahnya.
" Kita bisa membuatnya lagi…" Timpal seorang laki laki tau dari arah belakang.
Semua orang yang ada di sana sedikit menunduk memberikan hormat termasuk dengan Bryan dan Antoni yang juga menunduk sebentar.
" Bos Aaron maafkan kami yang tak bisa menyelamatkan yang lain…" Timpal Bryan dengan dia yang menunduk seakan dia benar-benar sedih kehilangan orang-orang itu.
" Tak apa yang terpenting kalian selamat dan sampai sini saja itu sudah membuat ku sedikit lega."
" Tapi Bos maafkan saya jika saya salah. Tadi kami sempat mendengar bahwa salah satu FBI menghubungi seseorang dan berkata seperti ini."
" Kau benar disini gudangnya, untung kau memiliki ide yang bagus hingga kabin ini mudah kami bakar. Setidaknya aku masih memiliki satu peti untuk barang bukti jadi kau jangan cemas dan satu lagi maafkan kami karena membunuh orang-orang mu dengan senjata ku. Jika mereka tak aku bunuh maka aku sendiri yang akan kesusahan untuk menangkap mereka."
" Saya rasa ada salah satu dari kita mencoba untuk bermain-main Bos. Maafkan saya jika saya salah menuduh.,"
Aaron yang mendengarnya kini langsung menatap ke arah Erik dengan tajam karena dari tadi yang sibuk dengan ponselnya hanya Erik. Erik yang di tatap hanya menunduk ketakutan.