
Bruak!!!
" Sialan.. sialan…" Umpatnya dengan kesal.
Semua orang yang ada di sana menatap orang yang baru datang dengan emosi dan mengumpat. Tak ada yang tahu apa yang terjadi kepada dirinya. Tatapannya dingin hawa panas berada di sekelilingnya.
" Paman apa yang terjadi? Kenapa baru datang langsung marah-marah?" Bryan yang juga ada disana merasa heran karena Pamnnya datang dengan membawa emosi yang dari tadi ia pendam.
Dadanya naik turun, wajahnya merah menahan emosi dari tadi. Dia yang tak bisa melampiaskan emosinya kini malah seperti api yang siap membakar siapa saja yang berusaha mencari gara-gara dengannya. Tatapannya kedepan tangannya mengepal dengan erat dia begitu emosi.
" Tenang Al, kau bisa membakar markas besar kita jika kau tak redakan emosimu itu!" Ejek sang rekannya yang sangat tahu bahwa laki laki itu saat ini tengah emosi.
Albert bersandar di kursi memejamkan matanya dia mencoba tenang dengan segala yang ada. Dia berusaha tenang mengatur nafasnya yang dari tadi naik turun tak beraturan.
" Dia pikir dia siapa? Bisa mengancam ku seperti itu. Dia pikir di sini aku bisa ia ancam seperti itu? Sialan…" Katanya dengan sedikit tenang.
Semua orang yang ada di sana kini saling bertatapan karena tak tahu siapa yang dimaksud oleh laki laki yang tengah emosi itu. Albert membuka matanya menatap semua rekan-rekannya yang menatap dirinya dengan kebingungan.
" Erik asisten dari Aaron itu dia berani sekali mengancam ku. Kalian tahu dia berkata apa?" Semua orang menggeleng tentu saja mereka tak ada yang tahu.
" Dia berkata bahwa aku tak akan bisa keluar dari sana jika aku ingin tahu masalah pribadi mereka. Dia pikir dia orang hebat dan aku orang yang mudah di ancam oleh orang asing seperti dirinya…" Sambungnya dengan dia yang masih emosi saat ini.
" Sebaiknya kau tenang dulu kau cerita pelan-pelan agar kita tahu akar masalahnya dimana hingga kau di ancam oleh seorang asisten itu."
Albert membuang nafasnya dengan kasar lalu dia menarik nafasnya lagi hingga dia sedikit tenang. Kali ini dia tak menatap tajam lagi tapi ada dendam yang membara di sana. Matanya memancarkan dendam yang begitu dalam.
\=\=\=\=
" Tuan Aaron ada yang ingin saya tanyakan kepada anda?" Erik sang asisten kini berbicara dengan suara yang pelan dan hati-hati.
" Katakan ada apa?" Aaron yang sedang mengerjakan sesuatu tak terlalu memperhatikan asistennya yang ingin bertanya dengan hati-hati.
" Ehm.. maaf Tuan saya tadi dengar oleh Tuang Al jika anda mengatakan tentang masa lalu Nicolas dan alasan Alex yang masuk ke militer hanya untuk melindungi Nicolas…" Tanyanya dengan pelan dan sangat hati-hati.
Dia takut bosnya akan marah jika dia bertanya tentang hal ini tapi dia juga penasaran dengan apa yang ia dengar tadi.
" Hem! Aku memang sengaja bercerita tentang semuanya kepada Tuan Albert agar dia tahu masalah apa yang bisa saja saat ini menimpah kepada Nicolas. Kehilangan Nicolas mungkin saja salah satunya adalah dia yang melukai atau membunuh orang, kita tak tahu bukan. Jadi aku bercerita agar dia bisa menelusuri kehilangan Nicolas…" Jawabnya dengan tenang bahkan dia tetap tak melihat kearah sang asisten.
" Tuan maafkan saya sekali lagi tapi apa itu tak akan membuat resiko bagi kita?" Aaron kini langsung menatap ke arahnya dengan bingung. " Maksud saya adalah Tuan Al adalah orang asing yang tak perlu tahu masa lalu dari Alex maupun dari Nicolas. Bisa saja masa lalu nya nanti akan dia jadikan senjata untuk menyerang kita di kemudian hari."
" Sebenarnya apa yang kau pikirkan? Kau tahu sesuatu tentang Albert atau kau mencurigainya?" Erin menelan ludahnya dengan kasar ketika dia melihat bosnya melempar pulpen nya dengan kasar dan menatap ke arahnya dengan tatapan penasaran.
" Jadi kau meragukan tentang keputusan ku? Atau kau menyalahkan aku karena aku bercerita kepada Albert? Begitu?" Nada berubah nya.
" Tentu saja tidak Tuan Aaron. Mana berani saya menyalahkan anda, saya hanya-"
" Hanya apa heh?" Erik diam ketika nada tinggi yang ia dapatkan dari bos nya.
" Maafkan saya Tuan! Sekali lagi maafkan saya…" Dia menunduk ketakutan dia meminta maaf karena seharusnya dia tak bertanya.
" Apa yang aku lakukan tentu saja sudah aku pikirkan, aku bukan orang yang ceroboh dalam hal apapun. Jika aku bercerita kepada Albert tentang semuanya berarti aku memiliki rencana lain untuknya…" Dia menarik ujung bibirnya.
" Rencana?" Erik mengulangi kata-kata bosnya.
" Hem rencana! Aku ingin sesuatu dari nya. Aku tahu sepak terjangnya dan aku juga butuh dia saat ini sampai kapanpun. Jadi aku menyusun satu rencana untuknya."
" Jika aku boleh tahu apa rencana anda Tuan?" Lagi lagi Erik harus berhati hati.
Aaron hanya tersenyum misterius kali ini, hanya dia yang tahu tentang rencananya ini. " Kau akan tahu nanti jika aku sudah menjalankan rencana ku dengan nya. Yang jelas saat ini kau tak perlu tahu apa rencana ku."
" Baik Tuan!" Erik sedikit kesal karena dia tak tahu apa rencana yang telah di susun oleh bosnya untuk Albert. Erik keluar dari ruangan kerja bosnya dengan rasa kesalnya saat ini.
Sial.. kenapa sekarang malah Tuan Aaron main rahasia dengan ku. Padahal dari dulu apapun yang ingin dia lakukan pasti dia berdiskusi dulu dengan ku, jika dia memiliki rencana pun aku adalah orang pertama yang mengetahuinya. Sekarang kenapa malah aku yang tak tahu apapun disini. Ini semua gara-gara Albert siala* itu. Awas saja jika Tuan Aaron sudah tak membutuhkanmu kau akan mati di tangan ku sendiri.
Dendamnya juga membara kepada Albert. Tak hanya Albert yang memiliki dendam laki laki yang sebagai asisten dari Aaron juga memiliki dendam. Mereka sama sama memiliki dendam yang siap membakar siapa nanti orang yang pertama terkena semburan api itu.
" Tuan saya sudah menawarkan obat kita ke salah satu diskotik di kota ini…" Salah satu orang yang melapor kepada Erik.
" Sudah ku katakan jangan tawarkan obat kita kepada diskotik yang cukup terkenal. Aku ingin diskotiknya tak terkenal tapi cukup ramai pengunjung yang datang agar tak terlalu tercium FBI."
" Saya tau Tuan! Diskotik ini ada di pinggir kota, mereka tak cukup terkenal tapi jangan di tanya tentang ramainya. Mereka memiliki tamu yang tak kalah dengan diskotik yang terkenal di kota ini."
" Hmm.. bagus. Kau sudah bertemu dengan pemiliknya?"
" Hanya manager nya bos, tapi saya meninggalkan beberapa butir untuk sampel untuk di tunjukan kepada pemilik diskotik tersebut."
" Kapan mereka akan memberi jawaban?"
" Nanti malam bos…" Erik mengangguk dengan pelan.