Ex Husband Is Broken

Ex Husband Is Broken
Penyamaran 1



" He kalian berdua dari mana? Kenapa baru datang. Kami sudah menunggu kalian lama…" Laki laki hitam serta tinggi itu kini menyambut kedua orang yang baru saja ingin masuk ke dalam rumah itu dengan suara teriakan yang begitu kencang.


" Maafkan saya Tuan!  Tadi di perjalanan mobil kami bermasalah…" Elaknya dengan cepat. Kedua orang itu tak berani menatap orang berkulit hitam mereka hanya menunduk.


" Ya sudahlah! Bawah masuk barang-barang ini…" Perintahnya dengan cepat. Kedua orang itu segera mengeluarkan sebuah peti kecil yang berjumlah tiga. 


Mereka semua kini saling mengeluarkan benda-benda itu dengan segera, beratnya yang lumayan itu membuat orang terasa lelah. Tapi kedua orang yang saat ini ingin tahu apa isinya berjalan pelan dengan mata mereka yang melirik kesana kemari untuk melihat sekelilingnya.


" Kau sudah ambil semua barang yang mereka kirim?" Erik yang menghampiri laki laki hitam itu yang sedang mengawasi orang-orang nya masuk ke dalam dengan membawa peti-peti itu.


" Sudah Tuan! Semuanya sudah kami ambil. Dan mereka juga berkata bahwa ada dua peti yang berisikan sesuatu yang ada pesan kemarin…" Erik mengangguk dengan tersenyum miring.


" Peti mana yang aku pesan?" 


" Itu yang bagian belakang Tuan!" Erik menatapnya dengan segera.


Erik dengan segera mengikuti mereka yang membawa peti-peti itu masuk ke dalam gudang yang terkunci. Laki laki hitam itu berjalan dengan cepat ketika mereka hampir tiba di sebuah gudang yang terkunci.


" Apa yang kalian lihat?" Semua orang yang berada di belakang kini dengan segera berbalik memunggungi laki laki hitam tersebut. Sedangkan kedua laki laki yang baru datang itu kini dengan bingung mengikuti apa yang ada di depannya.


Sial bagaimana bisa aku melihat sandi untuk masuk ke gudang itu.


Aku harus tahu sandinga jika tidak akan percuna aku dan Antoni di sini.


Kedua laki laki yang sedang menyamar sebagai orang-orang itu adalah Bryan dan Antoni kedua orang itu kini bertekad untuk mengambil resiko yang lebih besar dan sangat bahaya. Mereka akan menghancurkan musuhnya dari dalam bagaimanapun caranya.


" Ayo masuk!" Erik dengan cepat memerintahkan semua orang masuk ketika pintu itu telah terbuka.


Yang bisa membuka pintu gudang itu hanya tiga orang dan orang itu adalah Aaron, Erik serta laki laki yang berkulit hitam yang bernama Ciko. Semua orang itu masuk dengan memperlambat jalan nya, mereka pelan-pelan karena ruangan itu yang begitu dingin serta lantainya berembun.


Bryan dan Antoni tak mengerti kenapa gudang ini begitu di penuhi dengan AC yang begitu banyak dan AC itu tak mati satupun. AC itu hidup dengan sangat dingin. 


" Letakkan di sana!" Semua orang meletakkan peti-peti juga sangat hati-hati di ujung gudang tersebut. " Hei kalian berdua yang memakai topi, jangan ikuti mereka. Meletakkan peti itu di depan ku."


Bryan dan Antoni yang tadinya ingin mengikuti mereka kini dengan segera berbalik dan meletakkan peti-peti yang mereka bawah di depan Erik. Asisten dari Aaron itu tampak tersenyum seakan dia senang dengan peti yang ada di depan matanya saat ini.


" Ciko mana kunci kedua peti ini!" Tangannya meminta dua kunci yang memang di bawah orangnya Ciko.


Ciko dengan cepat menyerahkan kunci-kunci itu, Erik dengan segera melemparkan kunci itu kepada Bryan dan Antoni mereka dengan cepat menangkapnya.


Erik tak dapat menyembunyikan senyumnya apa yang dipesan beberapa minggu telah ada di depannya saat ini. Dia sungguh tak sabar melihat barang yang di pesan.


" Wouw…" Erik langsung menarik ujung bibirnya dia tertawa senang melihat apa isi dalam peti ini.


Sedangkan kedua orang yang membukanya kini terkejut tapi mereka cepat menguasai dirinya sendiri. Pandangan di depannya sangat tak bisa dibayangkan saat ini. Erik dengan cepat menyingkirkan kedua orang itu. Mata nya berbinar-binar seakan dirinya begitu bahagia melihat barang yang ada di depannya saat ini.


" Tutup kembali aku akan segera memberi tahu si bos bahwa pesanan kita juga sampai…" Erik dengan cepat pergi meninggalkan tempat itu. 


Bryan dan Antoni dengan cepat menutup kembali peti itu dengan bertanya-tanya. Meskipun benaknya penuh dengan pertanyaan mereka dengan cepat menguasai diri mereka dengan kembali datar seakan tak melihat apapun saat ini.


" Segera keluar! Jika kita lama-lama di sini suhu nya akan berkurang dan itu akan membuat gudang tak stabil dalam suhu dinginnya…" Semua orang yang ada di sana kini dengan cepat keluar dari gudang yang begitu dingin.


Sedangkan Bryan dan Antoni tak akan paham tentang gudang yang begitu dingin bagaikan ruangan Es. Mereka hanya mengikuti mereka dan perintah laki laki yang bernama Ciko, laki laki berkulit hitam tersebut.


" Sekarang kalian bisa istirahat, tak ada lagi yang harus kalian kerjakan nanti jika ada yang kalian kerjakan aku akan memanggil kalian semua…" Tak ada yang menjawab melainkan hanya mengangguk dan mereka segera pergi dari sana.


Antoni serta Bryan bingung harus kemana karena mereka tak tahu apa yang akan mereka lakukan setelah ini ataupun tempat mereka beristirahat pun mereka juga tak tahu. Kedua laki laki itu hanya bermain mata seakan berkata apa yang harus mereka lakukan saat ini.


" He Bung kenapa kalian hanya berdiri disana? Ayo kita ke belakang?" Salah satu dari mereka yang melihat kedua laki laki itu hanya diam segera berteriak keras memanggilnya.


Bryan dan Antoni dengan cepat mengikuti beberapa orang yang ada di depannya. Semakin mereka masuk maka semakin jelas rumah yang terlihat kecil itu menyimpan banyak teka-teki. Bryan tak terlalu berani melihat ke atas karena setiap sudut rumah itu dipenuhi dengan CCTV yang akan mengawasi mereka.


Ceklek!!


" Akhirnya kita beristirahat dari kemarin kita tak memiliki waktu untuk meregangkan otot-otot kita…" Salah dari mereka dengan segera menghempaskan tubuh mereka ke arah kasur yang ada di depannya.


" Kita tak memiliki privasi sendiri?" Pertanyaan yang terlontar itu membuat semua orang yang ada di sana menatap Bryan dengan mengerutkan keningnya.


Tak butuh lama mereka kini langsung tertawa keras mendengar apa yang dikatakan oleh Bryan saat ini.


" Privasi? Kau membutuhkan privasi?" Mereka tertawa dan itu membuat Bryan dan Antoni bingung.


" Di sini tak ada privasi yang kau minta, rumah ini langsung mengarah ke tempat tidur untuk kita tidur. Jadi jangan banyak tanya sebaiknya kalian semua segera istirahat karena aku tak yakin kita bisa beristirahat lama."


Bryan hanya menatap datar ke arah orang yang berbicara tersebut. " Kenapa kau menatapku seperti itu? Kau menantang kami? Atau kau suka tempatnya? Jika tak suka maka bicara kepada Tuan Erik dan Bos Aaron!"


" Aku menyukainya!"