Ex Husband Is Broken

Ex Husband Is Broken
Pengejaran 9



" Antoni…" Semua orang terkejut melihat laki laki yang di penuhi tato itu berjalan masuk ke dalam markas dengan tenang bahkan di belakangnya ada sosok wanita yang mengikutinya.


" Paman Al…" Ujarnya dengan sedikit tersenyum.


" Kau selamat! Kau tak apa bukan!" Albert yang merasa cemas kini memutar putar badan dari Antoni.


" Tak apa Paman aku bisa lolos dari mereka…" Matanya mencari sosok bos nya yang saat ini tak ada di sana.


" Kau harus ceritakan kepadaku bagaimana bisa terbongkar dan siapa wanita itu."


" Paman dimana Tuan Bryan? Apa dia belum datang kemari?" 


Albert menghela nafasnya. " Dia berada di tempat Nathan, lengan nya tertembak."


" Kurang ajar jadi mereka sempat melukai si bos!" Nadanya naik. " Harusnya aku tak meninggalkan nya waktu itu…" Kini seakan dia menyesal.


" Bukan mereka yang melukai Bryan tapi Abhi sendiri yang salah sasaran menembak. Harusnya menembak musuh malah mengenai lengan Bryan."


" Ha?" Antoni terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh Albert saat ini. Dia yang mengira lawannya telah melukai bosnya ternyata salah.


" Sudahlah lupakan itu, Bryan baik baik saja hanya luka kecil. Dalam pertarungan pasti ada yang terluka. Kami dulu juga pernah kena tembak. Singa dulu malah di punggung dan di bahu secara bersamaan, tapi karena dia raja maka dia kuat."


" Apa kalian semacam robot yang tak akan duduk…" Timpal wanita yang ada di belakang Antoni.


Kedua laki laki itu menatapnya dengan tatapan datar sedangkan Aneth yang di tatap merasa acuh. " Dia siapa? Apa dia kekasihmu?" Bisiknya Albert.


" Astaga Paman ayolah!"


" Oke kau bisa jelaskan nanti siapa dia! Sekarang duduklah katakan kau kemana dari kemarin sampai baru datang pagi ini." 


Antoni dan Aneth kini duduk bersama dengan Albert, mereka saling bertatapan dengan arti yang berbeda-beda. Sedangkan Aneth masih menatap sebagian orang yang berdiri tak jauh dari mereka. 


Antoni menjelaskan apa yang terjadi kemarin sehingga mereka harus berpencar dan dia bersembunyi di mana dan siapa wanita yang ada di belakangnya saat ini. 


Sedangkan Bryan saat ini tengah terbaring dengan mata yang terpejam. Nathan yang sudah berhasil mengeluarkan peluru itu juga ada di sana. 


Ceklek!!


" Nathan bagaimana kondisi Bryan? Apa dia baik baik saja."


" Tenanglah Tante dia baik baik saja. Hanya luka kecil tidak terlalu dalam jadi tenanglah."


" Bagaimana bisa tenang Nat, dia Putra Tante. Selama berapa minggu aku tak mendapatkan kabarnya lalu pagi ini mendapatkan kabarnya dia tertembak bagaimana aku tak panik."


Nathan hanya tersenyum dia tau bagaimana paniknya seorang ibu ketika mendengar kabar bahwa anaknya sedang terluka. " Dan bodohnya yang menembak malah Paman nya sendiri…" Sindir Zac yang juga ada di sana dengan melirik ke arah Abhi yang duduk di bangku.


" Ya ya ya aku memang salah tak perlu kau ungkit terus menerus bos…" Ujarnya dengan kesal.


" Ini juga bukan karena salah kakak tapi juga salahmu, jika kamu tak melibatkan putra kita maka luka tembak ini tak akan mengenai lengan nya…" Matanya menatap sinis kearah sang suami.


" Kenapa jadi aku ya-"


" Sudahlah Paman jangan berdebat, yang terpenting sekarang Bryan tidak apa-apa."


Val yang tak peduli dengan apa yang dikatakan Nathan kini menarik tangan Sarah mengajaknya untuk masuk ke dalam ruangan untuk melihat laki laki yang telah mereka sayangi saat ini.


Kedua wanita itu kini sedikit berkaca kaca melihat Bryan terbaring dengan luka yang ada di lengan nya. " Pasti ini sangat sakit…" Gumam Sarah dengan dia yang berkaca kaca. 


Tangan nya bergerak pelan matanya sedikit demi sedikit terbuka dengan pelan. Hal yang pertama dia lihat adalah kedua wanita yang sangat dia cintai saat ini ada di depan nya. Meskipun kedua wanita itu berusaha menghapus air matanya tapi sayangnya Bryan sempat melihatnya.


" Mom, Sarah…" Panggilnya dengan lembut.


" Sayang kau sudah sadar! Apa ada yang sakit!" Val mendekat melihat wajah putranya yang saat ini ada luka lebam.


" Aku tak apa!" Elaknya.


" Jangan berbohong Bry, aku tau ini pasti sakit…" Timpal Sarah yang tau pasti saat ini kekasihnya sedang berbohong. 


" Tak apa sayang, hanya sedikit kebas di lengan tapi tak apa…" Lagi lagi dia berbohong saat ini.


" Meskipun kau tak apa tapi kau harus benar benar vakum untuk beberapa minggu…" Nathan yang ada di ambang pintu kini menimpali nya. 


" Apa maksudmu?"


" Lukamu memang tidak terlalu dalam tapi kamu juga harus menjaga luka itu agar tak basah jadi kau harus hindari perkelahian…" Larangnya dengan keras.


" Tentu saja tidak bisa Nat! Kau tau bukan aku dalam misi ini, bahkan aku sendiri yang memimpin ini misi jadi mana mungkin aku yang harus menghindar."


" Tapi lengan mu saat ini masih cedera Bro jadi kau harus tetap harus vakum aku ga mau luka itu malah membahayakan nyawamu."


" Aku tau Nat tapi aku harus ada di misi ini.


" Jangan keras kepala seperti Daddymu Bry, jika kata Nathan berhenti maka berhenti. Dia yang lebih tau mana yang bahaya atau tidak."


" Tapi Mom!"


" Lagian kau memiliki banyak orang orang jadi buat apa kau turun tangan sendiri untuk menghukum mereka, harusnya kau tinggal menyuruh mereka."


" Dasar bodoh!" Pukul Abhi yang membuat Nathan kesakitan pada tangan nya. " Itu sama saja kau menyalahgunakan kekuasaan mu."


" Lalu buat apa punya orang banyak jika begini saja harus di tangani sendiri."


" Kau mau Ayah pukul lagi heh?"


" Sudah hentikan jangan berdebat…" Sarah yang dari tadi juga ada di sana kini melerai perdebatan itu. " Bry apa yang dikatakan oleh dia benar kau harus beristirahat dulu agar lengan mu cepat sembuh, jika lenganmu terluka maka semuanya akan bahaya. Jadi aku mohon hindari perkelahian sementara."


Bryan tak menjawab apapun dia hanya menatap kesal kearah Nathan yang mengatakan hal ini depan keluarganya. Matanya kini menatap ke arah Daddy yang seakan mata itu mengatakan tolong. Tapi Zac hanya bisa mengangguk dengan kode itu Bryan hanya bisa diam dalam pemikirannya.


" Antoni! Apa Antoni sudah kembali ke markas Dad?" 


" Andre bersama tim sedang mencarinya."


" Jadi dari semalam dia belum kembali?, Seharusnya semalam dia sudah kembali karena arah larinya dia lebih dekat dengan arah markas."


" Apa telah terjadi sesuatu?" 


" Entahlah Paman…" Bryan kini mencoba untuk duduk.


" Kau mau kemana?" Bryan saat ini seketika langsung ingin turun. 


" Aku harus mencari Antoni, dia dalam keadaan bahaya atau saat ini sedang membutuhkan ku."