
Warning 21+ dulu kali ya buat rileks pikiran yang sudah beberapa bab dari kemarin tegang terus,
Hari ini kita buka dengan nuansa romantis yang bikin keringat dingin yang bikin bulu kuduk merinding seperti ada hantu,
Baca nya awas ya jangan sendirian nanti pada ngeces
Happy reading
Selamat berhalu malam ini
***
“ Kau benar! Aku turut berduka atas kematian adikmu dan aku juga merasakan kesedihan atas hukum yang sama sekali tak berpihak kepada kalian.”
“ Tak apa Nyonya kita berdua akan terus mencari keadilan meskipun nyawa kami sebagai taruhan nya...” Timpal Bryan dengan tegas.
“ Kalian memang anak mudah yang memiliki jiwa yang semangat. Kami berdoa agar masalah kalian segera selesai dan kalian bisa selamat dari kejaran orang orang jahat tersebut.”
“ Terima kasih Tuan...” Mereka saling tersenyum.
“ Sebaiknya sekarang kalian berdua istirahat besok mungkin akan ada banyak yang harus kalian urus, pulihkan tenaga kalian.”
“ Sekali lagi terima kasih untuk tempat persembunyian ini. Aku harap kami nanti bisa membalasnya jika kami sudah berada di kota.”
“ Aku akan menangihnya jika kita sudah berada di kota...” Keempat orang itu kini tertawa. Malam ini mereka merasa aman dan nyaman setidaknya malam ini mereka berdua masih bisa bersembunyi dari kejaran orang orang tersebut.
Malam yang mungkin tak akan bisa mereka berdua lupakan adalah malam ini, malam dimana mereka harus bersembunyi di tempat orang asing dan mereka berdoa malam ini segera berakhir karena besok pagi mereka harus segera pergi untuk keluar dari hutan ini.
“ Apa badanmu terasa sakit semua?” Sarah dan Bryan kini sudah berada di dalam kamar. Mereka harus segera memulihkan tenaga karena mereka tidak tahu apa yang akan terjadi besok.
“ Hmm.. semuanya terasa sakit. Pukulan Erik dan James tadi sangat kuat. Pukulan yang dilayangkan Alex tadi juga sangat sakit.”
“ Biarkan aku memijatnya.”
“ Tidak perlu! Kau juga mungkin merasakan sakit. Sebaiknya kau yang beristirahat biarkan aku yang berjaga.”
“ Tidak. Aku tak bisa tidur. Aku juga akan berjaga.”
“ Benarkah? Jika kita sama sama berjaga mungkin kita sedikit bisa melakukan sesuatu?” Bryan tersenyum penuh dengan kelicikan.
“ Melakukan sesuatu? Apa yang ingin kau lakukan?” Sarah yang sama sekali tak berpikir apapun hanya bisa menatap Bryan yang tersenyum seakan penuh arti. “ Apa? Kenapa kau hanya tersenyum?” Tanyanya dengan penuh curiga.
“ Tidak...” Elaknya dengan cepat. “ Kau bisa memijat tengkukku. ini terasa sakit.”
“ Kau tadi tak ingin aku pijat sekarang malah memintaku untuk memijat. Sebenarnya apa yang kau pikirkan?” Sarah yang duduknya tadi jauh kini mendekat kearah Bryan yang dari tadi duduk di sisi ranjang kecil tersebut.
“ Sayang kau lihat bed ini sangat kecil untuk tubuh kita berdua.”
“ Lalu?”
“ Mungkin jika kamu ada di atasku akan muat untuk kita berdua.”
“ Jangan bertingkah Bry. Waktunya tidak tepat. Kau juga butuh tenaga, pulihkan tenagamu.”
“ Cih!! Jangan merayu ku.”
“ Aku tidak merayumu...” Bryan yang memejamkan matanya ketika tangan Sarah dengan pelan memijat tengkuk nya.
Bryan yang sedikit tergoda kini dengan cepat berbalik hingga membuat Sarah sedikit terkejut. “ Ada apa? Apa ada bahaya?”
“ Hmm.. aku bahayamu.”
Sarah yang masih tak paham dengan apa yang dimaksud oleh kekasihnya kini sedikit terkejut ketika sebuah bungkama ciuma* ringan menggapainya. Sarah yang sedikit mendorong dada nya.
“ Bry apa yang kamu lakukan?” Ujarnya dengan hampir berbisik.
“ Kau menggodaku?”
“ Aku tak melakukan apapun tapi kamu yang tak bisa menahan gaira* mu. Situasi kita sedang gak tepat Bryan.”
“ Lalu yang tepat kapan hem?” Bryan dengan sengaja menempelkan kening mereka, memainkan rambut sang kekasih yang terurai begitu saja.
Mereka yang saling terpejam kini membuat Bryan mulai dengan menggapai bibi* Sarah dengan pelan. Mereka saling berciuma* saling membelitkan lida*. Sarah yang tanpa sadar kini sudah duduk di atas pangkuan sang kekasih dengan mereka yang masih saling membelitkan lida* saling menyesa* satu sama lain. Saling bernafas dalam ciuma* yang sudah membangkitkan sesuatu yang lama terpendam. Bryan kini menurunkan ciuma* nya menggapai leher jenjang kekasihnya, mengingat nya dengan pelan dan lembut.
“ Argh...” ******* pelan itu kini mulai lolos begitu saja ketika sebuah sentuhan yang sudah mulai tak beraturan.
“ Hmm... Sayang...” Kini Bryan juga mulai merasakan sesuatu bangkit dari bawah. Bryan mulai menekan nya miliknya ke tubuh Sarah hingga membuat Sarah juga menggeliat di atas pangkuan kekasihnya saat ini.
“ Pelankan suaramu Bry,, kita di kabin orang...” Bisiknya untuk mengingatkan sang kekasih bahwa mereka berada di tempat orang.
“ Seharusnya itu kata untukmu Sayang. Pelankan suaramu agar tak terdengar dari luar...” Jawabnya dengan mulai menggoda bagian tubuh bawah wanitanya.
Bryan merebahkan tubuh wanitanya mata mereka saling bertatapan dengan arti masing masing. Kali ini tak ada yang mereka pikiran selain melakukan hal yang sudah seharusnya mereka lakukan. Mereka saling membantu melepaskan kain yang dari tadi menjadi penghalang tubu* mereka berdua.
Sarah kali ini merema* rambut Bryan ketika sebuah kuluma* menyentuh kedua gunduka* yang secara bergantian. Sarah dengan susah payah menahan suaranya yang dari tadi terasa ingin lepas dari bibir kecil nya.
Tangan mereka sudah mulai berkeliaran, tangan Sarah kini telah menggenggam benda* yang sudah mulai tegang, memainkan benda tumpu* yang sudah mengera* dari tadi.
“ Stop sayang.. jangan seperti itu.. aku bisa keluar...” Bryan menolak ketika tangan Sarah ingin bermain dengan punya nya.
“ Argh...” Desaha* itu akhirnya keluar begitu saja ketika bibi* nya sudah mulai bekerja, meneliti seluru* tubu* kekasihnya dengan lembut. Sarah menggeliat merasakan sesuatu yang tak bisa ia tolak.
Godaan yang membuatnya untuk tak tahan melakukan hal malam ini. Bryan yang masih berada di atas tubuh kekasihnya masih ingin menggodanya tanpa ingin memasuki tubuh kekasihnya yang saat ini sudah basa* karena ulah nya.
“ Bry jangan menggoda ku seperti ini.. argh....” Lirihnya dengan pelan. Sarah sungguh tak tahan dengan godaan yang terus di buat oleh Bryan saat ini.
“ Memohonlah Sayang.”
“ Oh ****...” Umpatnya ketika sang kekasih tak mendengar apa yang ia minta. “ Sayang aku menginginkanmu...” Ucapnya dengan dia yang menatap Bryan yang hampir menyentuh tubuh bawah nya.
“ Aku lebih menginginkanmu....” Timpalnya dengan memposisikan tubuh mereka dengan mencium kening kekasihnya dalam.
Bryan kini telah tegan* dia telah siap memasuki tubuh kekasihnya yang juga basa* karena pergulatan mereka. Dengan beberapa hantaman benda tumpu* itu kini masuk dengan Sarah yang menahan rasa perih karena hentakan kasar yang diberikan oleh Bryan saat ini.
Satu kali hentakan yang cukup membuat benda tumpu* itu kini masuk penuh dengan sempurna ke milik wanitanya tersebut.