
Pov Bryan Kozan
Perasaan ku sekarang berbunga bunga seperti ada ribuan kupu kupu yang berterbangan di atas kepala ku. Mungkin karena malam ini ada dua kejadian yang membuatku merasa senang, yang pertama adalah para musuhku yang membunuh dengan kejam kini sudah ada di genggaman tangan ku dan setiap saat aku akan membalasnya.
Sedangkan yang satunya wanita yang aku cintai kini juga berada di depan ku, mengakui perasaannya yang juga sama denganku. Meskipun awalnya tadi aku memiliki emosi yang mengatakan dia yang bukan bukan tapi sekarang aku tau bahwa dia juga memiliki rasa yang sama denganku.
Bahagia, tentu saja aku bahagia. Sekarang seakan aku laki laki yang paling bahagia. Aku tak percaya bisa merasakan indahnya jatuh cinta dengan wanita yang baru aku kenal bahkan niat awalku hanya ingin membantunya menemukan siapa pembunuh adiknya, tapi Takdir berkata lain seiringnya waktu rasa itu tumbuh di hatiku.
Aku Bryan Kozan yang belum pernah merasakan indahnya jatuh cinta, belum pernah merasakan getaran cinta yang nyata malam ini aku merasakan getaran itu, gejolak amarah yang memuncak ketika melihat wanita yang aku cintai berdekatan dengan laki laki lain. Sekarang aku tau bagaimana rasanya jatuh cinta, bagaimana getaran cinta itu ada, bagaimana rasa cemburu yang memenuhi dada ku.
Rasa emosi yang dari kemarin aku pendam kini lenyap seketika, seakan emosiku ikut terbang bersama kupu kupu yang ada di kepalaku. Rasa nya menggelitik di perut dan itu selalu membuatku tersenyum. Sekarang aku yakin wajahku pasti terlihat bahwa aku bahagia, ya aku sangat bahagia.
" Benarkah kau tak takut? Aku akan menghukummu karena kau tadi berdekatan dengan Cristian…" Saat ini dia malah tertawa lepas ketika aku dengan paksa menciumnya begitu saja tepat mengenai leher nya.
" Bryan…" Dia mendorongku dengan wajah nya yang memang manis di depanku.
Aku tau dia tak bersungguh sungguh mendorongku dia hanya ingin menguji ku sampai mana aku berani menyentuhnya. Aku menangkap pinggangnya mengikis jarak kami yang seakan tak ada jarak sedikitpun. Mata kami bertatapan dengan pancaran ketulusan.
" Terima kasih sudah mencoba untuk bersama ku! Aku janji aku akan memperjuangkan hubungan kita…" Aku menatap matanya menyelami kedua mata itu.
Mata yang indah mata yang membuatku tak bisa berkutik ketika mata itu menatapku dengan sendu. Aku tau mata itu juga memancarkan kekhawatiran tapi aku juga tak tau apa yang sebenarnya dia khawatirkan tentang keluargaku.
" Berjanjilah jika suatu saat nanti keluargamu melarang kita kau tak perlu membantahnya dan kita tak akan melangkah ke depan! Aku tak ingin kau di cap sebagai anak tak tau diri hanya karena aku. Aku akan berjalan bersamaku jika keluargamu memang mengizinkan kita bersama."
Terkadang aku tak mengerti dengan pemikiran wanita, diluar sana banyak wanita yang ingin aku perjuangkan untuk mendapatkan restu dari keluargaku, bahkan ada yang secara terang terangan mengirimkan beberapa barang barang mahal untuk Mommy. Tapi wanita yang ada di depanku saat ini malah tak ingin aku perjuangkan ketika nanti keluarga besarku tak mengizinkan kami bersama.
" Bryan berjanjilah padaku! Bukan karena aku tak mencintaimu tapi karena aku tak ingin membuat satu keluarga bertengkar hanya karena masalah cinta. Hubungan yang dilandasi pertengkaran di awal dan hubungan yang dilandasi karena tidak direstui orang tua tidak akan bahagia, karena doa mereka juga hal utama bagi setiap hubungan."
" Honey percayalah padaku apapun yang terjadi nanti kita akan tetap bersama dan aku akan yakinkan mereka bahwa kita saling mencintai, dan aku pastikan mereka akan menyetujui hubungan kita berdua…" Aku kembali menyakinkan dia.
Aku memeluknya dengan erat menyakinkan dia berulang kali bahwa hubungan ini akan mendapatkan restu dari keluarga besarku karena aku sendiri yakin bahwa kedua orang tua ku sendiri tak mungkin membandingkan status orang hanya karena dia miskin. Aku yakin Mommy dan Daddy akan selalu mendukung apapun yang menjadi keputusanku.
Aku melepaskan pelukan itu mencium keningnya dengan dalam agar dia tau bahwa aku memang tulus mencintainya dan tulus ingin memperjuangkan nya. Aku lalu mencium pipinya dengan dia yang memejamkan matanya, lalu aku meraih bibirnya.
Meraih bibirnya dengan lembut menciumnya dengan perasaan kami yang begitu bahagia, aku meluma* nya dengan pelan dengan dia yang juga membalas ciuman itu dengan sama lembutnya. Cium*n lembut itu kini disambut dengan senang,
Aku menekan tubuhku ke arahnya dan bagaikan tersengat listrik ketika ciuma* lembut itu kini malah menjadi lumata* kecil yang kami berikan satu sama lain. Aku merasakan ada jiwa lain yang bangkit di bawah sana. Tangannya yang dari tadi berada di dada ku kini malah dengan sengaja menggodaku membuatku benar benar terpancing dengan gerakan godaan yang ada di dada.
Aku memejamkan mata menikmati sentuhan godaan yang diberikan olehnya, aku menekan tubuhnya dan mengenai tepat di bawah sana dan rasanya ini menyenangkan. Karena pertama kalinya aku melakukan dengan wanita yang aku cintai. Aku juga menggodanya, merema* sesuatu yang berada di belakang.
Aku mendengar dia mendesa* di sela sela ciuma* kami, kami saling menyesa* lida* dengan dia yang begitu menikmati cumbuan kecil kami. Aku merasakan dia memelukku dengan erat.
" Bryan…" Desaha* nya benar benar membuatku hilang akal saat ini. Aku menggendong tubuhnya kubawa dia bed besar ku, aku membantingnya dengan perlahan dengan cepat membuka kaos yang aku kenakan.
Jantungku terasa memompa begitu cepat, aliran darahku begitu cepat mengalir apa yang aku rasakan sekarang juga di rasakan olehnya. Aku langsung mencium nya kembali, memperdalam ciuma* itu. Sekarang aku rasa ciuman saja tak cukup untuk saling melepaskan sesuatu yang terasa sesak dibawah sana.
Aku semakin menekan menggoda miliknya yang masih tertutupi lengkap dengan kain yang ia gunakan, dia menggeliat merema* rambut ku dengan memejamkan matanya. Aku tau dia menikmati sentuhan itu dan aku juga menikmati dia yang mendesa* di bawah kungkungan ku.
" Argh.. Bry…" Lagi lagi aku hampir gila dibuatnya ketika dia memanggil nama ku ketika aku menyentuh lehernya, men*gigitnya memberikan tanda kemerahan di sana.
Suara itu benar benar membuatku tak mampu untuk tak menyentuhnya lebih dalam lagi, aku tak bisa hanya sekedar menggodanya aku ingin lebih dari ini, aku ingin menjadikan dia milikku malam ini, hanya miliki.
Bersambung besok ya 😝 pikiran lagi bumpet 🤣